top of page

Menggali Sumber Sejarah Aceh Semakin Mudah

Ribuan koleksi sumber sejarah Aceh tersimpan di Museum Nasional Indonesia. Digitalisasi mempermudah untuk memaknai pengetahuan sejarah.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Koleksi Aceh dalam Museum Nasional Indonesia yang sudah didigitalisasi. (Google Arts & Culture/Keuneubah Aceh).

12 Feb
3 menit membaca

Diperbarui: 14 Mei

PERANG Aceh sepanjang paruh kedua abad ke-19 meninggalkan banyak artefak sejarah. Dari ribuan benda itu, sebagian tersimpan di Museum Nasional Indonesia. Salah satunya panji bendera Kesultanan Aceh yang masih melekat bekas noda darahnya. Panji ini biasanya diusung para prajurit menjelang berperang. 


“Kita coba menggali narasi tersembunyi dari koleksi. Selama di Museum Nasional, saya secara tak langsung banyak melihat koleksi-koleksi yang belum bisa berbicara, termasuk koleksi Aceh,” kata Eko Septian Putra, kurator Museum Nasional Indonesia, dalam “Seminar Kuratorial dan Peluncuran Pameran Digital Keuneubah Aceh” di @america, Pacific Place, Jakarta (10/2). 


Sejak 2025, Museum Nasional Indonesia bersama Southeast Asia Museum Services (SEAMS) berkolaborasi dalam meriset dan mendigitalisasi koleksi Aceh, terutama yang berkaitan dengan Perang Aceh (1873–1912). Sebelum dikurasi, banyak dari benda-benda bersejarah ini deskripsinya tak lengkap. Mulai dari tempat asal, bagaimana benda-benda itu digunakan, dan kondisi ketika benda-benda itu dibawa ke museum, tidak selalu diketahui sepenuhnya. 

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page