top of page

Hasil pencarian

9853 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Dua Kesatuan Tentara Nyaris Bentrok Gegara Rebutan Tapol

    KENDATI tak mengerti politik apalagi terlibat di dalamnya, peristiwa politik G30S telah menghancurkan hidup Ir. Djoko Sri Moeljono. Mimpi insinyur metalurgi lulusan Moskowskii Institut Stali i Splawov (Institut Baja dan Alloida Moskwa) itu untuk ikut membangun negeri lewat ilmu yang dimilikinya musnah seketika. Tak hanya Proyek Baja Trikora (cikal-bakal Krakatau Steel), tempatnya bekerja, yang terhenti akibat gonjang-ganjing politik usai G30S tapi juga dirinya ikut dijadikan tahanan politik (tapol). Menjadi tapol di masa kekuasaan Orde Baru (Orba) ibarat tinggal selangkah lagi ke akhir hidup. Bila selamat dari kematian, tapol tetap harus menjalani kehidupan yang berat, mulai dari disiksa aparat, dihina sampai dikucilkan masyarakat hingga akhir hayat. Djoko tak pernah tahu apa kesalahannya. Seperti ribuan tapol ’65 lain, dia tak pernah diadili. Yang dia tahu hanyalah hidupnya seketika berubah dan kemerdekaannya hilang lantaran harus mendekam dalam sel. Sedikit “kemerdekaan” baru diraihnya setelah dia dan tapol-tapol lain di Banten dikerahkan dalam proyek-proyek pembangunan daerah sebagai “romusha” alias pekerja paksa.

  • Jenderal Pranoto, Ketua RT Para Tapol

    SEHARI setelah menjabat sebagai Menteri/Panglima AD (Menpangad), Letjen TNI Soeharto mengganti susunan Staf Umum Angkatan Darat (SUAD). Susunan staf yang baru diumumkan pada 16 Oktober 1965. Asisten III/Personalia Menpangad yang sebelumnya dijabat Mayjen TNI Pranoto Reksosamodra digantikan oleh Brigjen TNI Hartono Rekso Dharsono. “Macam-macam fitnah mulai dilemparkan kepadaku yang akhirnya menyebabkan aku harus meringkuk dalam tahanan sebagai Tahanan Politik G30S/PKI,” ujar Pranoto dalam Catatan Jenderal Pranoto Reksosamodra: Dari RTM Boedu Oetomo sampai Nirbaya. Berdasarkan surat perintah yang diteken Soeharto, Pranoto ditahan sejak 16 Februari 1966. Pranoto dituding berada di kawasan Halim Perdanakusuma bersama pemimpin PKI D.N. Aidit pada malam peristiwa G30S. Selain itu, Pranoto disebut mengadakan rapat besar pada 19 November 1965 di sejumlah kota di Jawa Tengah (Kebumen, Kutoardjo, dan Purworejo) sembari membagikan senjata kepada orang-orang PKI.

  • Soeharto Seteru Pranoto

    PERISTIWA Gerakan 30 September 1965 (G30S) mengakibatkan gugurnya enam jenderal, salah satunya Jenderal Ahmad Yani, Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad). Pada 2 Oktober 1965, Presiden Sukarno mengangkat Mayjen TNI Pranoto Reksosamodra, Asisten III Men/Pangad bidang personalia, sebagai care-taker Menpangad untuk urusan sehari-hari. Pimpinan AD langsung dipegang Sukarno sebagai Panglima Tertinggi. Sukarno tidak memilih tiga nama lainnya karena Mayjen TNI Soeharto dianggap terlalu keras kepala, Mayjen TNI Moersjid suka berkelahi, dan Mayjen TNI Basuki Rachmat tidak begitu sehat. Sukarno memilih Pranoto karena dia mantan Panglima Divisi Diponegoro, Jawa Tengah, yang diharapkan dapat mengendalikan anggota divisi yang terlibat G30S.

  • Soerjopranoto Si Raja Mogok

    PERIODE 1919 hingga awal dekade 1920-an, terjadi pemogokan buruh pabrik di berbagai daerah di Jawa. Zaman ini kemudian dikenal sebagai zaman mogok. Salah satu organisatornya adalah seorang anak bangsawan keraton yang memilih turun ke pergerakan. Ia adalah Soerjopranoto yang terkenal dengan julukan Raja Mogok. R.M. Soerjopranoto lahir pada 1871 sebagai anak bangsawan. Ayahnya adalah Pangeran Soerjaningrat dari Keraton Pakualaman. Ia juga merupakan kakak dari Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hajar Dewantara. Soerjopranoto lulus dari OSVIA Magelang dan Sekolah Pertanian di Buitenzorg (Bogor). Ia kemudian bekerja di Dinas Informasi dan Penyuluhan Pertanian di Wonosobo pada 1914.

  • Cara Istana Menjamu Tamunya Kala Indonesia Masih Balita

    SETELAH hampir tanpa kegiatan resmi akibat pandemi COVIC-19, Istana Kepresidenan kembali “buka” pada 4 Juni 2020 dengan menerapkan new normal. Keputusan itu dikemukakan Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono. Menurutnya, sebagaimana diberitakan kompas.com, 4 Juni 2020, “Yang pertama adalah kita lihat arahan Bapak Presiden bahwa kita memang sudah mulai harus kegiatan sehari-hari dengan melakukan new normal.” Heru melanjutkan, sejumlah prosedur baru juga diterapkan di lingkungan seperti penyediaan sabun dan hand sanitizer di beberapa titik. New normal juga mengubah banyak kebiasaan yang sudah terjadi sebelumnya. “Adaptasi kebiasaan baru juga diterapkan dalam kegiatan-kegiatan presiden di Istana. Untuk acara pelantikan, misalnya, pejabat yang hadir dibatasi antara 5 hingga 7 orang,” sambungnya. Upaya tersebut merupakan langkah antisipatif pihak Istana dengan organisasi yang sudah mapan. Di masa Indonesia masih “balita”, kebijakan-kebijakan yang diambil Istana amat spontan karena memang belum ada institusi resmi yang menanganinya. Protokoler acara-acara kenegaraan pun setali tiga uang.

  • Husein Mutahar, Penggerak Nasionalisme

    NAMANYA mencuat usai menjadi runner-up ajang pencarian bakat menyanyi Indonesian Idol 2014. Jalan menapaki karier musiknya pun terbuka lebar. Pada tahun itu juga Husein Alatas, penyanyi berusia 27 tahun, merilis album single berjudul Biar Cinta Bicara. Husein bukanlah sosok baru di dunia musik. Dia pernah naik-turun panggung sebagai vokalis bersama band rock Log Guns, yang dibentuk promotor-produser musik rock kenamaan Log Zhelebour, dan merilis sebuah album. Hengkang dari Log Guns, dia membentuk grup musik rock lainnya, Children of Gaza. Kini, tak cuma di dunia tarik suara, wajahnya juga kerap muncul di dunia seni peran. Dia membintangi film Ada Surga di Rumahmu (2015), 7/24 (2014), dan sinetron Elif yang tayang tahun ini (2017).

  • Di Balik Senandung Kemerdekaan Husein Mutahar

    SETIAP kali menjelang HUT Kemerdekaan RI, tembang bertajuk “Hari Merdeka” senantiasa terngiang. Lagunya yang menghentak selalu membangkitkan semangat. “Tujuh belas Agustus tahun empat lima, itulah hari kemerdekaan kita. Hari Merdeka, nusa dan bangsa. Hari lahirnya bangsa Indonesia. Mer..de..ka!” Api semangat dari lagu patriotik itu tak lekang zaman meski usia lagunya sudah genap 78 tahun. Lagu itu diciptakan Husein Mutahar pada 1946 atau saat republik masih berumur setahun. Mutahar sendiri lahir di Semarang pada 5 Agustus 1916 dengan nama Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Saim bin Ahmad al-Mutahar. Dari namanya, ia seorang Sayyid, sebutan keturunan Nabi Muhammad SAW yang belakangan lebih kondang jadi gelar “Habib”.

  • Kisah Kaki Prabowo Muda

    TAHUN 1970 menjadi tahun yang menggembirakan buat Subagyo Hadi Siswoyo, yang biasa dipanggil Subagyo H.S., dan Luhut Binsar Pandjaitan. Di tahun itulah keduanya berhasil lulus dari Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri). Keduanya kemudian masuk Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha), yang berbaret merah dan kini dikenal sebagai Kopassus. Karier keduanya cukup baik. Setelah sebelas tahun berdinas, pada 1981 keduanya sudah berpangkat mayor. Subagyo dan Luhut pada awal 1981 hendak dikirim ke Jerman Barat untuk belajar anti-teror. Mereka akan belajar kepada pasukan Grenzschutzgruppe 9 (GSG 9), polisi perbatasan yang terlibat dalam upaya melawan kelompok Black September yang mengacau Olimpiade Munich 1972. Selain keduanya, ada pula junior mereka di Kopassandha yang baru lulus Akabri pada 1974, yakni Kapten Prabowo Subianto. Serangkaian tes lalu diikuti ketiganya. Setelah itu, akhirnya diputuskan Subagyo tidak diikutkan dalam pelatihan tersebut. “Terus terang, kepergian dua rekan tadi sempat membuat saya down, kecewa,” aku Subagyo H.S. yang –ingin sekali belajar di sana– dalam biografinya, Subagyo HS KSAD Dari Piyungan.

  • D.I. Pandjaitan dan Aktivis Mahasiswa Indonesia di Jerman

    RUMAH dinas Kolonel Donald Isaac Pandjaitan sekali waktu kedatangan tamu seorang anak muda. Namanya Rudy, mahasiswa teknik penerbangan Rheinisch-Westfälische Technische Hochschule Aachen yang berasal dari asal Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Rudy mengutarakan gagasan tentang perlunya Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) mengadakan Seminar Pembangunan. Pandjaitan menyambut baik gagasan tersebut. PPI Jerman Barat akhirnya menyelenggarakan Seminar Pembangunan pada Juli 1958, di Hamburg. “Pendekatan beliau (Pandjaitan) kepada mahasiswa begitu berkesan, sehingga nasihat dan pembinaannya mempengaruhi karakter dan sikap para pemuda dan mahasiswa Indonesia yang dekat dengan beliau,” kenang Rudy dalam pengantar biografi D.I. Pandjaitan: Gugur dalam Seragam Kebesaran yang ditulis Marieke Pandjaitan br. Tambunan. Rudy yang bernama lengkap Bacharuddin Jusuf Habibie itu kelak menjadi Menteri Riset dan Teknologi (1978-1998) kemudian Presiden RI ke-3 (1998—1999). Menurutnya, masalah pembangunan masa depan Indonesia bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, melainkan juga mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri. Persoalan itulah yang dikemukakannya pada 1957, sewaktu berkunjung ke rumah Pandjaitan di Robert Koch Strasse No. 24, Venusberg, Bonn.

  • D.I. Pandjaitan Cari Jodoh di Tengah Perang

    MENGENAKAN pantalon dan kemeja lengan pendek, Mayor Pandjaitan mengulurkan tangan. Sikapnya tampak sigap penuh percaya diri. Ditatapnya sosok wanita itu lekat-lekat. “Pandjaitan,” katanya memperkenalkan diri. “Marieke boru Tambunan,” sambut si wanita. Itulah kali pertama pertemuan D.I.Panjaitan dengan Marieke yang kelak menjadi istrinya. Perkenalan itu bermula pada Mei 1946, ketika Pandajaitan pulang kampung ke Tapanuli untuk menjenguk adik-adiknya yang masih kecil. Saat itu, Pandjaitan menjabat komandan Batalion I Resimen IV TKR Riau merangkap komandan pertahanan kota Pekanbaru.

  • Sudiro Muda Antara Belajar, Berorganisasi, dan Berdarmabakti

    SEKIRA sebulan setelah proklamator Mohammad Hatta pergi ke alam keabadian, pikiran R. Sudiro Hardjodisastro mengawang ke masa lalu tatkala diminta salah satu putri Bung Hatta, Meutia Farida Hatta, untuk turut menulis ingatannya tentang Bung Hatta buat sebuah buku kenang-kenangan. Pikirannya “mengembara” ke masa tatkala Sudiro sebagai pelajar pertamakali mendengar nama dan kiprah Bung Hatta. Bukan semata lantaran Sudiro kenal lama dengan Bung Hatta. Permintaan juga datang dari fakta Sudiro merupakan bagian dari keluarga besar Bung Hatta berkat perkawinan Sri Edi Swasono dengan Meutia Hatta pada 1973. Sri Edi merupakan adik sepupu Sudiro, mengingat ayah Sri Edi, yakni Moenadji Soerohadikoesoemo, terhitung paman bagi Sudiro. Ingatan Sudiro tentang Bung Hatta sendiri dikisahkannya dalam kumpulan karangannya yang dibukukan berjudul Pelangi Kehidupan. Nama Bung Hatta, kisahnya, pertama didengarnya tatkala Hatta dipenjara di Belanda. Ia mengetahuinya bukan hanya dari media massa namun juga dari kawan-kawannya sesama pelajar di sekolah menengah keguruan Hogere Kweekschool (HKS) dan organisasi Jong Java.

  • Profil Pahlawan Revolusi: D.I. Pandjaitan, Jenderal-Pendeta yang Gugur di Hadapan Keluarga

    MASIH ingat salah satu adegan dramatis dalam film Pengkhianatan G30S/PKI: seorang perwira tinggi ditembak mati oleh gerombolan penculik persis di depan anak dan istrinya. Namun sebelum tewas diberondong, sang jenderal terlebih dulu berdoa dan melawan para penculiknya. Siapakah dia? Sosok jenderal yang digambarkan itu tak lain adalah Donald Icazus Panjaitan. Lahir di Balige, Sumatera Utara, 9 Juni 1925, Pandjaitan dikenal sebagai perwira yang mahir berbahasa Jerman. Hal itu disebabkan karena tempat dia dibesarkan adalah lingkungan Rheinische Mission Geselchaft, sebuah kelompok zending yang berasal dari Jerman. Setelah lulus pendidikan dasar Hollandsche Inladsche School (HIS), Pandjaitan masuk sekolah menengah Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs (MULO) tanpa tes. Itu terjadi karena nilai seluruh pelajaran yang pernah diikuti Panjaitan dianggap bagus.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page