Hasil pencarian
9853 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Tujuh Tahanan Politik Perempuan di Kamp Plantungan
KAMP Plantungan terletak di kaki Gunung Prau, Kendal, Jawa Tengah. Tempat sangat terpencil ini jadi “Pulau Buru”-nya tahanan politik perempuan. Mereka yang diasingkan ke Kamp Plantungan merupakan tahanan politik golongan B, yakni terindikasi aktif dalam organisasi komunis tetapi tidak cukup bukti untuk diadili. “Mereka sebagian besar orang-orang yang punya aktivitas politik, seni, maupun olahraga. Mereka orang-orang terdidik,” kata sejarawan Amurwani Dwi Lestariningsih kepada Historia. “Mereka yang diasingkan di Plantungan ada yang aktivis Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), mahasiswa anggota CGMI (Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia), simpatisan PKI, tapi ada juga yang salah tangkap.” Misalnya, Sumilah berusia 14 tahun ditangkap di Yogyakarta. Sumilah yang sebenarnya tinggal di Desa Brosot, sedangkan dia di Prambanan. Ada pula perempuan yang ditangkap sebagai jaminan atas suaminya, seperti Ratih, istri Ooloan Hutapea, anggota Politbiro CC PKI. Ratih tidak berafiliasi dengan organisasi PKI apa pun. Begitu pula dengan istri Nyono, ketua SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), juga tidak aktif dalam gerakan.
- Pamer Kemewahan Hasil Jarahan
NAMA Mario Dandy Satrio mendadak jadi pemberitaan. Anak seorang pejabat di instansi pajak itu viral karena menganiaya David Latumahina hingga koma. Laku tercela Mario tak hanya berbuah pahit bagi dirinya dengan ditetapkan menjadi tersangka dan dikeluarkan dari kampusnya, netizen ramai mencela ulahnya. Terlebih, Mario hobi pamer harta. Banyak netizen pun menghujat ulah sombongnya itu. Fenomena suka pamer bukanlah "barang" baru di negeri ini. Fenomena sosial yang tak lazim juga muncul setelah Revolusi Sosial meletus di Sumatra Timur. Orang yang tadinya hanya jalan kaki ke mana-mana, kini mempunyai mobil. Mereka yang semula hidupnya biasa-biasa sekarang telah bergelimang harta. Mereka hilir-mudik memborong ke pasar, membelikan istri mereka pakaian dan perhiasan. Itulah pemandangan masyarakat di Pematang Siantar yang disaksikan Muhamad Radjab, wartawan Kantor Berita Antara pada 23 Juli 1947. Radjab salah satu anggota rombongan utusan Kementerian Penerangan untuk meliput keadaan revolusi di Sumatra. Menurutnya orang-orang yang kaya mendadak di Sumatra Timur beratus-ratus jumlahnya. Mereka tampil mencolok dengan pameran harta yang entah dari mana asalnya.
- Kisah Penculikan “Menteri Pertahanan RI”
HARI-hari menjelang habisnya bulan Oktober 1945 adalah waktu yang memusingkan bagi Jenderal Mayor drg. Moestopo, Komandan BKR Jawa Timur sekaligus Menteri Pertahanan RI add interim. Bagaimana tidak, baru saja dirinya membuat kesepakatan dengan Komandan Brigade ke-49 British India Army Brigadir A.W.S. Mallaby, pihak Inggris sudah memperlihatkan iktikad buruk dengan menduduki 20 titik strategis di dalam kota Surabaya. Perbuatan itu, selain mecederai kesepakatan yang sudah dibuat pada 26 Oktober 1945, juga menjadikan arek-arek Suroboyo semakin “gemas” untuk secepat mungkin menghajar tentara Inggris. Bukan rahasia lagi jika sebagian besar pejuang Surabaya tak menginginkan damai dengan tentara Inggris yang dianggap sebagai pembonceng kembali Belanda ke Indonesia. “Moestopo sendiri [sebenarnya] ingin langsung menghabisi pasukan-pasukan [Inggris] yang mendarat ini,” ungkap Lambert Giebels dalam Soekarno: Biografi 1901-1905.
- Wilhelmus Sinay Menembus Benteng Pertahanan Orang Mandar
DUA kelompok serdadu KNIL (Koninklijk Nederlandsche Indische Leger) disiapkan untuk menyerbu benteng pertahanan rakyat Mandar yang melawan Belanda di sebuah daerah di Sulawesi Barat. Di bawah pimpinan Letnan Infanteri Kelas Dua Gerardus Johannes Berenschot, yang kelak menjadi komandan KNIL, pasukan KNIL itu disebar mengelilingi benteng. Gerak maju menuju benteng tidaklah mudah. Satu kelompok pasukan harus melintasi sebuah kampung. Berenschot bergerak di sekitar kampung dekat Buntobulo. Pasukan KNIL itu berperang di medan yang cukup sulit, di daerah yang berbukit. Namun, orang Mandar yang bertahan di benteng tahu akan diserang pasukan KNIL.
- Rumah Tahanan Masyumi
YUNAN Nasution, sekjen Partai Masyumi, menunggu giliran masuk ke Rumah Tahanan Militer (RTM) Budi Utomo pada 7 April 1962. Ia tak sendirian. Bersamanya sejumlah kader Masyumi turut digelandang polisi militer, antara lain K.H. Isa Anshary, juru bicara Partai Masyumi, dan Ir. Ondang, pejabat Bank Indonesia sekaligus fungsionaris partai. Mereka ditahan atas keterlibatan sejumlah petinggi Masyumi dalam pemberontakan di daerah. Kelompok pemberontakan ini lebih dikenal dengan nama PRRI, pemerintahan tandingan yang menentang pemerintah pusat. “Kyai Isa dan Yunan Nasution dan Ir. Ondang masuk disel. RTM artinya Rumah Tahanan Masyumi,” begitulah lelucon kawan-kawan sesama tahanan seperti dicatat Mochtar Lubis dalam Catatan Subversif. RTM resminya bernama Asrama Tuna Terpidana Militer (Astuntermil). Karena terletak di Jalan Budi Utomo No. 7, Jakarta Pusat, ia lazim disebut RTM Budi Utomo. Penjara ini seyogianya diperuntukkan bagi personel militer yang melakukan pelanggaran. Namun, pada awal 1960, RTM ini juga difungsikan sebagai tempat tahanan politik, selain tahanan militer.
- Tak Ada Lauk untuk Tapol Moncongloe
SEPANJANG tahun 1971-1972 udara di kamp pengasingan Moncongloe Sulawesi Selatan begitu terik. Tanah-tanah seperti terbakar, sungai mengering, singkong begitu susah bertumbuh. Daun-daun liar yang dijadikan sayur semua mati. Kemarau panjang. A.M. Hustin, tapol (tahanan politik) dari Barru seorang anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat, menceritakan kisah itu melalui cerita pendek, sepanjang sembilan halaman. Menulis dengan tangannya sendiri dengan tinta hitam. Judulnya Pesta Laron di Malam Natal. “Dan memang sesuai dengan keadaan dan keberadaan kami sebagai orang tahanan yang serba krisis dan tak berpunya untuk suatu pesta yang mewah. Sudah setahun lamanya kami tak mendapat sayur dan ikan dari dapur umum,” tulisnya. Hustin, menulis kisah ini pada 1972, usai melakukan perayaan Natal di gereja dalam kawasan kamp. Dia menggambarkan, kondisi para tahanan ketika kembali ke barak. Semua tak bisa tertidur. Tahanan-tahanan itu melamun, membuat kelompok-kelompok kecil dan mulai bercerita pengalaman masa lalu.
- Peliknya Menjalin Komunikasi dengan Tapol
SEMENJAK ditahan pada November 1965, Pelukis Lekra Mia Bustam lepas kontak dengan anak-anaknya. Di awal masa penahanan tersebut, anak-anak Mia hidup dalam bayang-bayang teror. Mereka tak berani mengunjungi atau menghubungi ibunya yang ditahan di Vredeburg kemudian dipindah ke Wirogunan pada April 1966. “Tahun 1965-67 itu orang masih takut mau mengunjungi keluarganya. Maka saya sangat berterima kasih kepada orang-orang yang berani mengirimi ibu makanan karena waktu itu butuh keberanian besar,” kata Sri Nasti Rukmawati, anak kedua Mia Bustam, pada Historia. Selain kondisi politik masih mencekam, anak-anak Mia Bustam tak bisa menjenguk ibunya karena dipusingkan oleh urusan memenuhi kebutuhan hidup. Jangankan mengirimi ibunya makanan, untuk bertahan hidup enam anak Mia pun sudah amat sulit.
- Kesaksian Tiga Eks Tapol 1965
TUBA bin Abdurahim berasal dari keluarga miskin di Brebes. Demi mengubah nasib, dia merantau ke Jakarta bermodal ijazah Sekolah Rakyat. Itu terjadi pada titimangsa 1962, usianya baru 18 tahun. Saat itu, ibu kota sedang berdandan dengan pembangunan proyek mercusuar Presiden Sukarno. Pikir Tuba, ada banyak kesempatan kerja menantinya. Di Jakarta, Tuba gonta-ganti profesi. Sempat menjadi pegawai negeri Dinas Pekerjaan Umum tapi ia dipecat karena nyambi jadi tukang catut karcis bioskop. Ia kemudian menjadi pedagang kaki lima, tukang parkir, hingga akhirnya mantap bekerja sebagai loper koran. Dalam mendapatkan pekerjaan, Tuba banyak dibantu kakaknya, Tohar, seorang kader Partai Komunis Indonesia (PKI) yang berkedudukan di Front Nasional. Pada 1963, Tuba bergabung dengan organisasi Pemuda Rakyat yang secara politik berafiliasi dengan PKI. Setahun kemudian, ia masuk barisan sukarelawan Dwikora yang dipersiapkan untuk menggagalkan pembentukan negara federasi Malaysia.





















