top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Asal-Usul Takalar Basis Perjuangan RI di Sulawesi       

Bermula dari padang rumput tempat singgah putra raja, Takalar kini merupakan sebuah kabupaten. Basis gerilya di masa revolusi '45.

4 Jun 2025

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Seorang pemburu rusa di Takalar, Sulawesi Selatan, 1944. (Wereldmuseum Amsterdam/Wikimedia Commons).

  • 4 Jun 2025
  • 3 menit membaca

SUATU kali, raja yang bertakhta di Kerajaan Sawitto, sekitar Kabupaten Pinrang sekarang, menyuruh putranya untuk pergi ke selatan. Untuk menuju daerah yang dimaksud, putra raja Sawitto yang bernama La Patiroi Petta Sompe terlebih dulu menghadap raja Gowa. Kala itu Gowa adalah kerajaan besar di Sulawesi Selatan bagian selatan. Letaknya agak jauh dari Sawitto. Raja Gowa pun lalu memberi restu kepada Petta Sompe untuk mencari tempat tinggal di selatan kerajaannya.

 

“Berangkatlah anak raja beserta pengikutnya ke selatan, menelusuri Sungai Sanrobone. Setelah sampai di perkampungan Bontonompo, dekat Kampung Bontoramba, anak raja yang diusung oleh pengawalnya ini istirahat dan bermalam,” catat Hanabi Rizal dkk. dalam Profil Raja Dan Pejuang Sulawesi Selatan. Belakangan, tempat mereka menginap dinamai Bulekang.

 

Esoknya, perjalanan dilanjutkan. Mereka kemudian mencapai daerah Gusung di tepi Sanrobone. Tempat itu masih dipenuhi sejenis rumput yang disebut Alara. Rombongan Petta Sompe berhenti di sana. Putra raja itu tampak tertarik dengan tempat itu.

 

“Oleh Petta Sompe disuruhnya para pengikutnya menebas Alara yang lebat itu dan hutan-hutan belukar tadi serta dibangunnya rumah-rumah yang teratur sebagai tempat tinggalnya,” tulis Muhammad Arfah dkk. dalam Ranggong Dg. Romo, Panglima Lapris: Sebuah Biografi Perjuangan di Sulawesi Selatan

 

Daerah yang dibuka oleh Petta Sompe itu kemudian berkembang menjadi perkampungan yang ramai. Ketika Petta Sompe berada di sana, daerah yang dibukanya itu termasuk daerah Palili Gowa. Semak dan hutan kecil yang baru dibuka menjadi kampung itu mulanya dinamai Taka Alara, mengacu pada nama tumbuhan di sana.

 

“Dalam proses selanjutnya, Kampung Taka Alara berubah menjadi Takalara dan akhirnya menjadi Takalar. Proses perubahan itu hanya untuk mempermudah penyebutan daerah itu,” kata Hanabi Rizal dkk.

 

Takalar dan kerajaan-kerajaan kecil yang ada disekitarnya seperti Lakatong dan Lengkase kemudian bersatu dalam Tellu Lippue.

 

Sawitto adalah kerajaan dari daerah beretnis Bugis dan Gowa. Sekitarnya adalah kawasan etnis Makassar. Jadi sejarah Takalar adalah hubungan yang baik antara orang Bugis dan Makassar yang bisa saling menerima.

 

Takalar terus berkembang sehingga kemudian tak lagi menjadi nama sebuah kampung, melainkan nama distrik atau kecamatan. Sebagai kecamatan, pengaruh Takalah besar di antara kecamatan-kecamatn di sekitarnya. Semasa Hindia Belanda, Takalar adalah sebuah Onder Afdeling dari Afdeling Makassar. Onder Afdeling Takalar membawahi beberapa distrik (adat gemenschap): Polombangkeng, Galesong, Topedjawa, Laikang, Sanrobone, dan Takalar sendiri. Tiap distrik dulunya dipimpin oleh seorang karaeng.

 

Takalar yang terus berkembang akhirnya statusnya meningkat. Ia tak lagi kecamatan tapi sudah kabupaten sebagaimana sekarang.

 

Pada tahun 1915, Takalar menjadi daerah perlawanan Tolo dkk. kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda. Banyak bangsawan di Takalar dan sekitarnya mendukung gerakan Tolo tersebut.

 

Semangat Tolo dkk. itu terus menular kepada orang-orang setempat yang risau pada ketidakadilan ataupun penghisapan.

 

Di masa revolusi kemerdekaan Indonesia (1945-1949) Takalar merupakan daerah gerilya para pendukung Indonesia. Takalar melahirkan antara lain Manai Sophiaan, guru Taman Siwa yang mendukung perjuangan Republik Indonesia. Ayah dari politisi dan aktor Sophan Sophiaan ini kelak menjadi duta besar Indonesia untuk Uni Soviet.

 

Basis perjuangan mereka di Takalar ada di Polongbangkeng. Daerah inilah yang menjadi tujuan Robert Wolter Mongisidi dkk. untuk menghimpun kekuatan ketika Makassar diduduki militer Belanda. Saking cintanya pada Polongbangkeng, Wolter saat akan dieksekusi otoritas Belanda mengeluarkan wasiat terkait daerah itu. 

 

“Ia minta kepada pendeta agar menyampaikan tulisan itu kepada keluarganya disertai pesan agar jasadnya dikubur di Polombangkeng (Takalar), daerah pusat gerilya di Sulawesi Selatan,” terang Maulwi Saelan, rekan seperjuangan Wolter yang kelak jadi wakil komandan pasukan pengawal Presiden Sukarno, dalam Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66: Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa.

 

Namun, wasiat itu tak dilaksanakan. Pihak Republik Indonesia kemudian malah memakamkannya di Taman Makam Pahlawan Panaikang Makassar.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Kesultanan paling kaya di masa Hindia Belanda luluh lantak digilas revolusi sosial. Padahal, sang sultan telah menyatakan sumpah setia pada Republik Indonesia.
Menyibak Mitos Haji Djamhari

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Penelitian membuktikan bahwa sosok Haji Djamhari sebagai penemu kretek benar-benar ada dan bukan tokoh fiksi.
Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Setelah memimpin pemberontakan PETA di Blitar, Supriyadi masuk hutan dan menghilang. Diduga telah dibunuh Jepang, tetapi dirahasiakan sehingga makamnya tidak ditemukan.
Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Basis God Bless Donny Fattah pandai menulis lagu dan peduli pada kehidupan bangsanya. Lagunya cukup kritis di era Orde Baru.
bottom of page