top of page

Beranilah Melihat Sejarah Bersama Kita

Dalam mengadakan pameran tentang revolusi Indonesia, seharusnya Rijksmuseum melakukan pembicaraan dengan semua kelompok yang sampai sekarang selalu tersisihkan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Warga menyeberang jalan saat gencatan senjata di Surabaya. (zieraad.org).

  • 2 Feb 2022
  • 3 menit membaca

Sudah bisa diperhitungkan kalau akan terjadi gaduh seputar pameran revolusi kemerdekaan Indonesia. Apalagi karena pameran itu berupaya menyorot perjuangan kemerdekaan Indonesia dari 1945–1949: salah satu periode kompleks dalam sejarah bersama kita yang mengenal banyak “kenyataan” dan “kebenaran”. Akan tetapi lebih menonjol lagi ketika sekarang justru Rijksmuseum sendiri yang membangkitkan ribut-ribut itu.


Dengan judul menarik “Hapus istilah Bersiap, karena rasistis”, terbit esai opini kurator tamu Bonnie Triyana pada harian NRC Handelblad, edisi 11 Januari 2022. Di situ dia mengumumkan bahwa “tim kurator” memutuskan untuk tidak menggunakan istilah “bersiap” sebagai penunjuk periode dalam pameran itu. Kata ini digunakan oleh para pejuang kemerdekaan Indonesia (disebut para pemuda), yang tak lama setelah Jepang menyerah pada 15 Agustus 1945 dan Proklamasi dua hari kemudian oleh Sukarno dan Hatta, berbalik menggunakan kekerasan terhadap orang Belanda kulit putih dan kaki tangan mereka.



Menurut Triyana istilah “bersiap” itu mengadung “nuansa rasistis”, karena konsep pemuda –yang dalam konteks ini melambangkan semua orang Indonesia– digambarkan sebagai “pelaku kekerasan yang primitif, tidak beradab”, sedangkan kekerasan yang muncul akibat kolonialisme Belanda, yang menghasilkan masyarakat berdasarkan rasisme dan pemerasan tetap tidak disebut.


Seperti sudah diduga, segera muncul reaksi. Rabu, 12 Jannuari, Hans Moll, ketua FIN (singkatan bahasa Belanda untuk Federasi Orang-orang Belanda Indo), sebuah kelompok yang jelas tidak mewakili setiap orang yang termasuk dalam “kalangan Indo”, memberi tahu situs berita nu.nl bahwa dia akan melaporkan kepada polisi hal yang menurutnya merupakan “penyangkalan ‘bersiap’ yang gila dan mengejutkan ini”. Dalam berita yang sama, Rijksmuseum datang dengan penjelasan awal untuk tidak menggunakan istilah “bersiap”, karena ingin menekankan pendekatan multi perspektif pameran ini. Melalui kisah pribadi 20 orang, pameran ini akan mencurahkan perhatian pada kekerasan yang dilakukan oleh kedua belah pihak, demikian Rijksmuseum. Dengan begitu dipilih untuk “tidak menggunakan istilah khusus terhadap penderitaan yang muncul selama periode ini”.



Dua hari kemudian, pada Jumat, 21 Januari 2022, Rijksmuseum, melalui pernyataan direktur Taco Dibbits dan kurator Harm Stevens, mengoreksi pendiriannya. Istilah “bersiap” tetap digunakan dalam pameran ini. Keputusan sebelumnya untuk tidak menggunakan istilah “bersiap” tiba-tiba berubah menjadi opini “pribadi” Triyana, yang tidak digunakan lagi oleh Rijksmuseum.


Sangatlah menyakitkan bahwa Rijksmuseum yang semula menyatakan tidak menggunakan istilah “bersiap” tapi kemudian ternyata meralatnya. Bukan hanya karena tanggung jawab permasalahan istilah “bersiap” diletakkan pada Bonnie Triyana. Tapi juga karena di sini segera terlihat sebuah pola yang lagi-lagi mengabaikan kalangan Indo-Eropa, Tionghoa, kalangan Maluku, Timor, Indo-Afrika dan para prajurit KNIL keturunan Suriname dan keluarga mereka –mereka yang tidak dianggap sebagai orang Belanda atau orang Indonesia, tetapi justru istilah “bersiap” sangat menentukan, karena bulan-bulan itu pada akhirnya mengharuskan mereka pindah ke Belanda. Demikian dicatat oleh sejarawan Miko Flohr dalam blog pribadinya. Bagi saya sikap plintat-plintut Rijksmuseum terutama menunjukkan betapa suara Belanda masih selalu dominan dalam bersuara atau tidak dalam soal sejarah bersama kita, dalam hal ini revolusi Indonesia.



Jadi bagaimana? Bagaimana pula dengan gagasan multi perspektif yang ingin dimunculkan dalam pameran ini? Kalau Rijksmuseum masih ingin mewujudkan cita-cita ini, maka harus segera mulai diadakan pembicaraan dengan kelompok yang sampai sekarang, disengaja atau tidak, tidak dilibatkan dalam pembicaraan. Setelah itu istilah “bersiap” perlu disoroti oleh semua pihak yang terlibat dari semua kemungkinan perspektif dan posisi. Kemudian menempatkannya pada konteks yang lebih luas lagi yaitu kekerasan yang dilakukan Belanda terhadap orang Indonesia selama perang kemerdekaan atau perang rekolonisasi yang kemudian dikobarkan.


Menurut saya dekolonisasi juga harus berarti sama-sama (berani) melihat sejarah bersama kita, dengan begitu mengakui pengalaman dan ingatan bersama. Juga pengalaman dan ingatan mereka yang tidak dengan mudah dapat dimasukkan ke dalam kategori yang ditentukan dari luar (kolonial) seperti “Belanda” dan “Indonesia”.


Sebagai penutup saya ingin mengutip Lies Cruden, putri seorang prajurit KNIL keturunan Suriname yang pernah bertugas di Jawa. Dia adalah salah satu penutur dalam buku saya Antara Nusa: Levensverhalen van ouderen uit Indië/Indonesië (Antara Nusa: kisah hidup lansia dari Hindia/Indonesia). Katanya, “Baru kalau kita bisa berbagi dan saling kenal sejarah serta kisah hidup masing-masing yang semuanya dilakukan secara terbuka dengan saling menghargai, baru bisa kita wujudkan toleransi.”


Penulis adalah sejarawan lulusan Amsterdam School of Historical Studies (ASH), University of Amsterdam.       

    

Tulisan ini sebelumnya dimuat dalam nrc.nl pada 18 Januari 1922. Alih bahasa oleh Joss Wibisono.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Jenderal Soedirman mendukung Persatuan Perjuangan yang digagas Tan Malaka. Namun, dia kemudian meninggalkan kawan sehaluan setelah terjadi peristiwa kudeta 3 Juli 1946.
bg-gray.jpg
Setelah Sutan Sjahrir dibebaskan, para pengikut Tan Malaka menyodorkan konsepsi untuk disetujui Sukarno. Hatta menyadari sedang terjadi kudeta.
bg-gray.jpg
Setelah diculik pengikut Tan Malaka, Sutan Sjahrir bikin perhitungan dengan penangkapan berantai. Adam Malik protes, Sayuti Melik pasrah digelandang ke bui.
bg-gray.jpg
Perdana Menteri Sutan Sjahrir diculik pengikut Tan Malaka, Presiden Sukarno minta Sjahrir dikembalikan.
Kekaguman Salman Aristo Terhadap Hatta
Kekaguman Salman Aristo Terhadap Hatta
Lagu-lagunya abadi. Dari soal cinta sampai protes antiperang.
Lagu-lagunya abadi. Dari soal cinta sampai protes antiperang.
Sebuah kelompok astronom, yang dipimpin orang Indonesia, menemukan planet baru yang terbentuk secara tak lazim.
Sebuah kelompok astronom, yang dipimpin orang Indonesia, menemukan planet baru yang terbentuk secara tak lazim.
Indonesia berlimpah warisan budaya. Pengembangannya tergantung sikap masyarakat dan kebijakan pemerintah.
Indonesia berlimpah warisan budaya. Pengembangannya tergantung sikap masyarakat dan kebijakan pemerintah.
Segala permasalahan tak harus selesai dengan adu otot. Hanya dengan kepala dingin, semua masalah akan mencair.
Segala permasalahan tak harus selesai dengan adu otot. Hanya dengan kepala dingin, semua masalah akan mencair.
Meski prestisius dan tertua plus selalu melahirkan bintang, All England acapkali disebut kejuaraan dunia bayangan.
Meski prestisius dan tertua plus selalu melahirkan bintang, All England acapkali disebut kejuaraan dunia bayangan.
transparant.png
bottom of page