top of page

Berlindung di dalam Sarung

Kopral Saimin selamat dari tentara Belanda setelah berlindung di dalam sarung pemilik warung.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Kolonel M. Jasin, Panglima Kodam I Iskandar Muda, mendampingi Presiden Sukarno saat berkunjung ke Aceh pada 27 April 1962. (Repro memoar M. Jasin).

15 Mei 2020
3 menit membaca

Selain sebagai komandan batalion di Maospati, Kapten M. Jasin juga menjabat kepala personalia Resimen 31 yang berkedudukan di Madiun. Sedangkan Kapten Soetarto Sigit menjabat kepala seksi intel Resimen 31.


"Suatu pengalaman yang menegangkan sekaligus lucu saya alami,"kata Jasin dalam memoarnya, Saya Tidak Pernah Minta Ampun Kepada Soeharto.


Jasin menambahkan, "Saya bersama Soetarto Sigit ditemani seorang penghubung berpangkat kopral, berada di wilayah garis demarkasi di daerah Mojokerto. Kami bertiga beristirahat di sebuah warung di tepi jalan raya."


Soetarto menyebut tentara penghubung (renrakukei) itu bernama Kopral Saimin. Namun, lokasi demarkasinya berbeda dengan Jasin.


"Pengalaman yang tidak terlupakan terjadi pada Agustus 1946. Pada waktu itu Pak Jasin dan saya meninjau batalion Resimen 31 yang sedang bertugas di Front Surabaya Barat, tepatnya sekitar Desa Kedamean," kata Soetarto dalam testimoni di memoar Jasin.


Garis demarkasi yang biasanya tenang mulai memanas karena suhu politik pertentangan Indonesia-Belanda mendekati titik mendidih. Maklum mendekati peringatan kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1946.


Pagi itu, Jasin, Soetarto, dan Kopral Saimin mendekati kompi di sebelah barat Desa Kedamean. Tiba-tiba pesawat Belanda terbang rendah di atas Front Barat Kedamean disertai suara gemuruh. "Alangkah terkejutnya kita ketika iring-iringan kendaraan lapis baja pasukan musuh menembus garis demarkasi menyerang kedudukan kita," kata Soetarto.


"Secara refleks," kata Jasin, "saya dan Soetarto segera lari menyeberangi jalan yang menjadi batas demarkasi. Kopral penghubung kami masih berada di warung, tidak sempat menyeberang."


Namun, menurut Soetarto, dirinya, Jasin, dan Kopral Saimin sempat berlindung di kebun ketela. Kopral Saimin kemudian berusaha mencari hubungan dengan kompi-kompi di seberang jalan. Baru saja ia menyeberang, datang iring-iringan tank dan half-track penuh dengan pasukan Belanda.


"Kopral Saimin dengan cepat memasuki sebuah warung yang berada di seberang jalan untuk bersembunyi. Tetapi apa lacur, iring-iringan kendaraan lapis baja musuh berhenti di muka warung tersebut," kata Soetarto.


Beberapa serdadu Belanda memasuki warung.


"Pak Jasin dan saya hanya bisa melihat dengan hati berdebar-debar menunggu bunyi tembakan yang akan menghabisi nyawa Kopral Saimin," kata Soetarto.


Waktu seakan berjalan pelan. Entah apa yang terjadi di dalam warung. Beberapa saat kemudian tentara-tentara Belanda keluar dari warung. Sungguh mengherankan mereka tidakmembawa Kopral Saimin, padahal ia jelas berada di warung dan tak mungkin keluar tanpa diketahuitentara Belanda yang bertebaran di jalan dan sekeliling warung.


"Hati kami berdegub keras, sebab kalau kopral itu tertangkap, Belanda-Belanda itu juga akan segera dapat menangkap kami," kata Jasin.


Apakah Kopral Saimin telah dibunuh? Tetapi tidak terdengar letusan senjata.Beberapa tentara Belanda juga memeriksa daerah sekitar warung. Tak lama kemudian komandan mereka memerintahkan untuk memberangkatkan konvoi.


Tuhan masih melindungi Kopral Saimin.


Menurut Jasin, setelah yakin tank-tankBelanda berada di tempat jauh, "maka kami segera lari ke warung. Bersamaan dengan itu, kopral kami juga muncul dengan wajah pucat."


Sedangkan menurut Soetarto, setelah iring-iringan musuh meneruskan penyerbuan ke arah markas batalion, "Kopral Saimin loncat keluar menyeberangjalan untuk bergabung kembali dengan Pak Jasin dan saya.""Bagaimana kamu bisa selamat?" tanya Jasin.


"Saya masuk ke dalam kain sarung yang dipakai oleh ibu penjaga warung," kata Kopral Saimin dengan tersipu, sebagaimana diingat Soetarto.


Sedangkan yang diingat Jasin, Kopral Saimin memberikan jawaban cukup panjang: "Wah, maaf Kapten, saya tidak sempat lari. Ketika Belanda-Belanda itu masuk warung, saya bersembunyi di dalam kain perempuan pemilik warung tersebut, yang terus diamdan tidak bergerak ketika Belanda menanyainya dan memeriksa warung. Saya selamat bersembunyi di selangkangan perempuan tadi!"


Tentu saja, Kopral Saimin harus menahan napas selama bersembunyi di dalam kain itu. Ia pun dapat bernapas lega setelah selamat dari tentara Belanda.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Selepas meninggalkan militer, Gatot Soebroto ikut mendirikan IPKI dan lolos ke parlemen. Namun, dia mengundurkan diri karena diangkat sebagai wakil KSAD.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto nyentrik dan eksentrik dalam penampilan, perkataan, dan keyakinan. Jenderal humoris dan dekat dengan anak buah. Penyayang anak-anak dan pelindung umat Buddha.
bg-gray.jpg
Terlantar di negeri orang. Eks romusha bersama buruh Indonesia melakukan aksi propaganda, boikot, hingga pemogokan di Singapura.
bg-gray.jpg
Pengalaman dan usianya membuat Gatot Soebroto acap jadi tempat mengadu para perwira. Namanya tetap abadi di banyak tempat, mulai jalan-jalan protokol hingga RSPAD.
 Peter Parker alias Spider-Man bertualang ke Eropa dan mencari cinta. Malah jadi korban hoax dan tipu daya.
Peter Parker alias Spider-Man bertualang ke Eropa dan mencari cinta. Malah jadi korban hoax dan tipu daya.
Inilah muasal syal, kipas bagi penguasa, jas untuk acara resmi, dan fungsi dasi.
Inilah muasal syal, kipas bagi penguasa, jas untuk acara resmi, dan fungsi dasi.
Philip Fullard jago udara yang melegenda dari Perang Dunia I. Ironisnya medali-medali kehormatannya dilelang keluarganya.
Philip Fullard jago udara yang melegenda dari Perang Dunia I. Ironisnya medali-medali kehormatannya dilelang keluarganya.
Shin Tae-yong bukan satu-satunya pelatih asing yang mendapat apresiasi positif dari negara tempatnya melatih.
Shin Tae-yong bukan satu-satunya pelatih asing yang mendapat apresiasi positif dari negara tempatnya melatih.
Upaya tolak bala dan ucap syukur suku Osing. Kenduri massal di depan rumah dengan hidangan khas Tumpeng Sewu.
Upaya tolak bala dan ucap syukur suku Osing. Kenduri massal di depan rumah dengan hidangan khas Tumpeng Sewu.
transparant.png
bottom of page