top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

"Cari Adil, Dapat Bedil" dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.

8 Jan 2026

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Ilustrasi perlawanan rakyat oleh massa PKI. Di Cirebon, perlawanan pernah digalang lurah indo.

KABAR beredar di sekitar Desa Timbang dan Sajana, Kabupaten Cirebon, seorang Indo-Belanda, Frans Emile Groeneveld, diangkat menjadi kuwu (kepala desa). Bukan hanya tak lazim --kepala desa adalah jabatan untuk orang yang disebut Indonesia asli atau pribumi, pengangkatan itu juga membuat geger.


Kuwu Groeneveld --sebelumnya pernah magang sebagai teknisi laboratorium di pabrik gula Panggoengredjo dan kemudian bekerja di perkebunan Karet Limburg Estate. Dia sempat menjadi pengelola toko tembakau di Jamblang sebelum menjadi petani kecil dan kuwu-- pada Senin (14 November 1932) sore mengerahkan ratusan massa di Desa Timbang. De Indische Courant tanggal 21 November 1932 menyebut orang yang dikumpulkan itu jumlahnya sekitar 500 hingga 600 orang. Mereka, kata De Locomotief edisi 17 November 1932, diajak Kuwu Groeneveld untuk tidak perlu membayar obat pengendalian hama.


Melihat upaya Kuwu Groeneveld yang meresakahkan itu, mantri dan wedana Cilimus turun tangan mengatasi provokasi si kuwu tadi. Namun para warga desa malah melempari batu kepada perangkat pemerintah kolonial itu.


Pada pukul delapan malamnya, asisten residen dan bupati Cirebon datang ke desa itu dengan satu pasukan Veldpolitie (Polisi Lapangan). Mereka berupaya menegakkan ketertiban. Namun mereka justru menerima ancaman dan lemparan batu dari para warga. Mau-tak mau rombongan pejabat dan polisi itu pun mundur.


Bala bantuan berupa polisi lapangan tambahan pun didatangkan untuk meredam kondisi yang tidak menyenangkan bagi pemerintah kolonial di desa itu. Asisten residen bersama polisi lapangan yang bersenjata maju lagi pada pukul 11 malam itu. Kerja alot para pejabat dan polisi kolonial itu baru berhasil pada pukul 3 dinihari Selasa, 15 November 1932, dengan tertangkapnya Kuwu Groeneveld.


“Biarkan Kuwu kalian ditangkap begitu saja," kata Kuwu Groeneveld ketika ditangkap dengan disaksikan banyak warganya.


Soerabaijasch Handelsblad tanggal 1 Februari 1934 memberitakan, Kuwu Groeneveld tampak ingin bertanggung jawab sekaligus ingin bicara kepada pemerintah. Maka pemberitaan tentang Kuwu Groeneveld pun menjadi ramai setelah tanggal 16 November 1932.


Ada yang menyebut Kuwu Groeneveld sebagai Ratu Adil. Koran kiri Belanda De Tribune edisi 16 November 1932 bahkan menyebut Kuwu Groeneveld sebagai seorang petani kecil, bukan orang Indonesia, yang menempatkan dirinya di garis depan penduduk dan bersama-sama mereka membela desa dan memaksa penguasa.


Pada awal 1930-an itu, ekonomi Hindia Belanda amat buruk akibat terimbas Depresi Ekonomi Dunia sejak 1929 (Black Tuesday). Saking sulitnya kehidupan masyarakat, muncul pelesetan zaman itu sebagai "Zaman meleset". “Peristiwa ini dengan jelas menunjukkan meningkatnya penderitaan penduduk Indonesia sebagai akibat dari krisis kapitalis,” sebut De Tribune edisi 16 November 1932.


Berbeda dari De Tribune yang menyebut itu sebagai masalah kelas yang menderita, kebanyakan koran berbahasa Belanda yang terbit di Hindia Belanda justru menyalahkan kondisi itu pada Kuwu Groeneveld. Banyak koran Belanda sekadar menyebut Groeneveld sebagai pembuat onar.

Groeneveld tentu saja ditahan dan diperiksa. Ketika ditahan di Penjara Cirebon, dirinya enggan untuk bicara. De Indische Courant menyebut, pada Kamis (17 November 1932) pagi, Groeneveld dibawa ke Batavia. Groeneveld tampil layaknya petani Jawa, memakai celana panjang dan kemeja dengan penutup kepala.


Tak hanya diperiksa polisi, Groeneveld juga diperiksa ahli jiwa. Groeneveld dianggap tidak gila hingga dia kemudian bisa diadili.


Bataviaasche Nieuwsblad tanggal 15 Oktober 1936 mengabarkan, dua pengikut Groeneveld, Amsar dan Abdoelgani, dijatuhi enam bulan penjara oleh Landraad Majalengka. Groeneveld sendiri dijatuhi hukuman satu setengah tahun penjara.


Meski sudah ditahan, Groeneveld masih ingin meminta audiensi dengan gubernur. Dirinya ingin melaporkan keluhan masyarakat di wilayahnya menjadi kuwu. Koran Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie tanggal 9 Oktober 1934 menyebut, laporannya menyertakan motto "Cari Adil, Dapat Bedil".


Setelah bebas, Groeneveld tak bisa lagi kembali ke Cirebon. Menurut De Sumatra Post edisi 16 September 1937, pemerintah kolonial mengharuskan Groeneveld untuk tinggal di Surabaya demi Rust en Orde (keamanan dan ketertiban) di Cirebon.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Tatkala Wolter Mongisidi Diburu KNIL

Tatkala Wolter Mongisidi Diburu KNIL

Ketika anggota Harimau Indonesia berhasil melarikan diri dengan bantuan warga, tentara KNIL mulai mengancam masyarakat sekitar untuk mencari Wolter dan teman-temannya.
Sekilas Perjalanan Sukarno ke Venezuela

Sekilas Perjalanan Sukarno ke Venezuela

Kunjungan singkat Sukarno yang berkesan. Terinspirasi bikin jembatan yang tak kalah megah dari Venezuela.
Bung Karno Berhadapan dengan Bos Preman Medan

Bung Karno Berhadapan dengan Bos Preman Medan

Huru-hura penumpasan PKI menjalar ke Sumatra Utara. Presiden Sukarno sampai memarahi pimpinan pemuda yang menggerakan massa ke Konsulat Republik Rakyat Cina di Medan.
From Gas to Electricity

From Gas to Electricity

Nederlandsch-Indische Gasmaatschappij (NIGM) was a large Dutch company that gave birth to PLN and PGN. The merger of gas and electricity companies is attributable to Knottnerus' hard work during the Dutch East Indies era.
"Cari Adil, Dapat Bedil" dari Lurah Blasteran

"Cari Adil, Dapat Bedil" dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
bottom of page