- Randy Wirayudha

- 5 hari yang lalu
- 4 menit membaca
KERUMUNAN orang di pinggir landasan mulai bersorak ketika pesawat Lockheed Constellation milik Military Air Transport Service mendarat Bandara Kemayoran, Jakarta pada 21 Oktober 1953 sekira pukul 10 pagi. Setelah taxiing dan parkir, tamu kehormatan mulai turun dari tangga pesawat: Wakil Presiden (Wapres) Amerika Richard Nixon dan istri, Thelma “Pat” Nixon, serta anggota rombongannya.
Rombongan Wapres Nixon lalu mendapat sambutan penghormatan dengan lantunan lagu kebangsaan Amerika, “The Star-Spangled Banner”. Wapres Nixon dan istri lantas saling bertegur sapa dan jabat tangan dengan rombongan penyambut, di antaranya Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo dan istri, Menteri Luar Negeri (Menlu) Sunario Sastrowardojo, Walikota Jakarta Syamsuridjal, serta Duta Besar (Dubes) Amerika untuk RI Hugh Smith Cumming Jr.
Tak langsung masuk ke mobil, setelahnya Wapres Nixon dan istri menympatkan bertegur sapa dengan warga sekitar yang berkerumun dari luar pagar. Tak ketinggalan ia melayani beberapa pertanyaan para kuli tinta yang mendekatinya.
“Saya senang telah sampai di Indonesia, sekalipun tidak pada waktunya yang tepat seperti yang direncanakan (terlambat satu jam, red.). Tiada lupa juga saya sampaikan salam rakyat Amerika Serikat kepada rakyat Indonesia dan terutama juga terima kasih atas penghargaan yang diberikan Presiden Soekarno kepadanya sebagai tamu negara,” cetus Wapres Nixon, dikutip majalah Merdeka edisi 24 Oktober 1953.
Wapres Nixon datang dari Australia dalam agenda tur Timur Jauh. Orang nomor dua di “Negeri Paman Sam” setelah Presiden Dwight Eisenhower itu punya agenda empat hari ‘ngetrip’ bersama istri dan rombongannya. Selain ke ibukota Jakarta, ia juga mengunjungi Bogor. Di kedua tempat itu, merekan dijamu langsung Presiden Sukarno dan Ibu Negara Fatmawati. Wapres Nixon dan istri juga beranjangsana ke Yogyakarta sebelum kembali lagi ke Jakarta untuk berangkat menuju Singapura.
Wapres Nixon datang sebagai pejabat tertinggi Amerika yang mengunjungi Indonesia terlepas adanya kontroversi penandatanganan Mutual Security Act, medio 1952, antara Menlu Achmad Soebardjo dan Dubes Amerika untuk Indonesia Merle Cochran. Wapres Nixon mewakili Presiden Eisenhower ingin memastikan posisi Indonesia di masa Perang Dingin itu, sebagaimana 13 negara lain di Timur Jauh.
“Nixon yang menjalani tur ke Asia menjadi pejabat terpilih Amerika paling senior yang mengunungi Indonesia dan kehadirannya menunjukkan keseriusan niat pemerintahan (Presiden Eisenhower) terhadap Jakarta. Misi wapres (Nixon) adalah untuk menyampaikan kepada para pemimpin Asia, termasuk Sukarno, bahwa Amerika sangat mengkhawatirkan tentang apa yang terjadi di Eropa,” tulis A Roadnight dalam United States Policy Towards Indonesia in the Truman and Eisenhower Years.
Kesal Banyak Nyamuk
Terlepas dari urusan politik, banyak cerita personal yang meninggalkan kesan bagi Wapres Nixon dan istrinya selama di Indonesia. Selain ke Istana Bogor, Wapres Nixon dan istrinya sempat diajak pelesiran ke Puncak, Bogor, hingga Candi Borobudur dan Candi Prambanan.
Dalam perjalanan ke Puncak, terjadi momen unik Wapres Nixon bareng Presiden Sukarno ‘ngopi’ bareng di warung pinggir jalan di Cipanas. Maka secara pribadi Wapres Nixon begitu terkesan dengan sosok Sukarno.
“(Presiden) Sukarno tampan dan sangat sadar kepada daya tariknya. Dengan suara bariton yang menggelegar serta pilihan kalimat sangat memukau, dia bagaikan memegang tongkat ajaib sehingga begitu berbicara, akan langsung memancing sorak-sorai puluhan ribu orang yang setia menunggu ucapannya,” kata Nixon, dikutip Julius Pour dalam Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan, dan Petualang.
Hal senada juga disampaikan Pat Nixon. “Sukarno di Indonesia sungguh sosok yang dikagumi wanita. Selalu terdapat gadis-gadis paling cantik di sekelilingnya,” kenang Pat Nixon, dikutip Monica Crowley dalam Nixon in Winter.
Istri sang wapres itu punya agenda tersendiri ketika suaminya punya urusan pembicaraan politik dengan Sukarno. Menurut harian De Vrije Pers edisi 22 Oktober 1953, Pat Nixon tak hanya bertemu Ibu Negara Fatmawati dan anak-anaknya di Istana Bogor tetapi juga punya agenda pertemuan dengan Women’s International Club dengan didampingi Nyonya Bradford dan Nyonya Kusna Paradiredja dan ke RSCM.
Kendati demikian, ada saja yang menimbulkan memori dan kesan tak sedap. Selain cuaca panas dan kondisi udara lembab, Pat Nixon mengaku tak betah dengan akomodasi-akomodasinya.
“Ya Tuhan, tidak ada pipa di dalam ruangan saat itu. Kamar mandi di luar. Dan kami harus tidur dengan dikelilingi kelambu nyamuk karena sangat lembab, dan masalah serangganya sangat buruk,” tambahnya.
Namun, keramah-tamahan orang Indonesia mengubur semua kekurangan itu. Fatmawati dan anak-anaknya membuat istri Nixon begitu terkesan. Pat Nixon sampai ingat putra sulung Presiden Sukarno, Guntur Soekarnoputra, amat kagum pada film-film koboi yang dibintangi aktor Leonard Franklin Slye alias Roy Rogers.
“Dia (Guntur) penggemar berat Roy Rogers dan menonton film-filmnya di Istana. Saya memberi janji akan mengirimkan kostum koboi Roy Rogers,” kata Pat Nixon, dikutip puterinya, Julie Nixon Eisenhower, dalam Pat Nixon: The Untold Story.
Maka sepulangnya ke Amerika, Pat Nixon berupaya menunaikan janjinya untuk mengirimkan kostum koboi agar Guntur bisa menirukan adegan-adegan Roy Rogers. Namun, Pat tak menemukan kostum koboi dengan kualitas baik di Washington DC. Maka, pada Juli 1954 ia menulis surat kepada sahabatnya, yang tinggal di Beverly Hills, California, Helene Drown, untuk mencarikannya dan Pat akan mengganti uang pembelian serta pengirimannya. Ia mensyaratkan Helene bisa mendapatkan kostum koboi yang tidak terlalu tebal bahannya karena di Indonesia cuacanya sangat panas.
“Dua bulan kemudian, Nyonya Sukarno mengucapkan terima kasih atas kostum Roy Rogers yang impresif, di mana Gunter (Guntur) langsung mencobanya. Momen-momen seperti bertemu Gunter yang berkesan itu ketika bercengkerama dengan ibunya, membuat kesan tersendiri dalam trip Pat Nixon yang signifikan,” tandas Eisenhower.













Komentar