- 4 hari yang lalu
- 3 menit membaca
SEBAGIAN generasi yang tumbuh-besar di era 1990-an dan menikmati musik pop Barat hampir pasti pernah mendengar lagu “Wild World” versi rock yang dibawakan Mr Big. Sebelum Mr. Big, beberapa musisi pernah pula membawakan lagu ciptaan pria dengan nama Steven Demetre Georgiou. “Wild World (1970)” hanyalah satu dari sekian lagu yang pernah dinyanyikan dan diciptakannya dalam album Tea For The Tillermans, selain Fathers and Son. Ketika album itu dirilis, usia Steven baru 22 tahun. Dua lagu itu, setidaknya membuat Steven si bintang pop Inggris menjadi semakin mendunia.
Pria dengan nama panggung Cat Stevens ini sejak 1966 sudah terkenal berkat lagu ciptaannya sendiri, “I Love My Dog”. Lagunya sempat nangkring di nomor 28 di UK Singles Chart. Sejak awal kariernya, dia menyanyikan lagu-lagu balada sambil memainkan gitar. Meski sempat belajar piano, namun The Beatles membuatnya menekuni gitar sejak usia 15 tahun.
Setelah terkapar karena tubercolosis pada 1969, ketika Generasi Bunga berkecambah di negara-negara Barat, Stevens mulai menjadi seorang pencari spiritualitas. Kaya secara finansial saja tak dirasa cukup olehnya. Toh dia terlahir dari keluarga agak kaya di London. Orangtuanya pengelola restoran. Stevens terlahir dari keluarga Kristen, di mana ayahnya penganut Ortodok Yunani sedangkan ibunya Kristen Baptis. Stevens juga bersekolah di sekolah Katolik. Namun, Kristen di Barat dirasanya kurang sehingga dia berpaling ke Timur.
“Saya mencoba Zen dan Ching, numerologi, kartu tarot dan astrologi. Saya mencoba melihat kembali ke dalam Alkitab dan tidak dapat menemukan apa pun,” aku Stevens.
Pada era 1960-an dan 1970an, banyak pemuda Barat berusaha mencari ketenangan ala timur. Di antarnaya dengan meditasi.
Ketenangan diperlukan oleh generasi “Baby Boomers” macam Stevens yang tumbuh dalam Perang Dingin. Stevens dan kebanyakan pemuda sepertinya merindukan kedamaian. Para personel The Beatles pun pernah ke India untuk mencari nilai-nilai spiritual ketimuran. Begitu juga pendiri Apple Steve Jobs yang ketika muda juga melakukan perjalanan spiritual ke India.
Di masa pencarian spiritual itu, para pemuda itu, termasuk Cat Stevens, terus berkarya. Steven terus membuat lagu dan diundang di banyak panggung hingga membuatnya kaya pada usia muda. Lagu-lagunya pada awal era 1970-an masih muncul dalam daftar tangga lagu bergengsi di Inggris.
Suatu kali di tahun 1977, abangnya, David Gordon, berkunjung ke Yerusalem. Sepulangnya ke London, abangnya memberikan Stevens salinan terjemahan Al-Quran. David Gordon memang tak masuk Islam tapi dia merasakan sesuatu yang berbeda dari Alquran.
“Dan ketika aku menerima kitab itu, petunjuk yang akan menjelaskan semuanya kepadaku –siapa saya; apa tujuan hidup; apa kenyataannya dan apa yang akan menjadi kenyataan; dan dari mana saya berasal,” aku Cat Stevens dalam How I Came to Islam. “Saya menyadarinya inilah agama yang benar.”
Setelah masuk Islam pada 1977, Stevens memakai nama Yusuf Islam. Dia tak peduli risikonya, seperti ditinggalkan penggemarnya atau kehilangan panggung yang menghasilkan uang. Setelah masuk Islam dan menikahi Fauzia Mubarak Ali pada 1979, dia semakin giat dalam kegiatan sosial. Jalur yang dipilihnya lewat mengembangkan pendidikan Islam. Tak hanya untuk anak-anak beragama Islam saja, dia juga membantu penggalangan dana untuk United Nations International Children's Emergency Fund (UNICEF) bagi anak-anak di seluruh dunia.
Sebagai seorang Islam, dia tak ingin menjadi seorang yang fanatik. Ketika novelis Salman Rushdie difatwa mati karena Satanic Verses (Ayat-ayat Setan), Yusuf Islam tak ikutan menghalalkan darah novelis berdarah India itu. Waktu terjadi Serangan 11 September 2001, yang melibatkan Al Qaeda yang membawa-bawa nama Islam, dia tak pula latah mendukung Al Qaeda. Baginya, para korban Serangan 11 September 2001 itu orang tak bersalah.
“Al-Qur’an menyamakan pembunuhan satu orang yang tidak bersalah dengan pembunuhan seluruh umat manusia,” katanya, yang tak lupa berdoa untuk semua keluarga korban.
Stevens jelas tak kehilangan kemanusiaannya setelah masuk Islam, bahkan dia makin humanis. Islam baginya adalah agama yang memanusiakan semua manusia tanpa terkecuali.
Bermusik sebetulnya dijalaninya meski bukan di jalur musik pop. Ada aliran Islam yang menyebut musik dekat dengan setan dan melarangnya, namun kebanyakan aliran tak mempermasalahkan musik. Baginya, musik ibarat makanan bagi jiwa manusia, terutama saat sulit. Toh meski aktivitasnya dari panggung musik pop yang membuatnya kaya berkurang, Yusuf Islam tak jatuh miskin. Lagu-lagu ciptaannya bisa menjadi sumur duitnya di usia tua, salah satunya lewat “Wild World” yang dibawakan Mr Big.
“Musik adalah bagian dari alam semesta Tuhan,” kata Cat Stevens dalam catstevens.com.



_singing_Peace_Train_at_the_National_Remembrance_Ceremony_in_Christchurch.jpeg)








Komentar