top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Try Sutrisno, Wapres Paling Beken di Era Orde Baru

Try Sutrisno mencapai puncak popularitasnya ketika dicalonkan sebagai wakil presiden. Dikenal sebagai sosok yang hangat dan merakyat.

Oleh :
Historia
5 Mar 2026

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Try Sutrisno dilantik sebagai Wakil Presiden RI keenam (1993-1998). (Dharmasena, No. 03, 1993).

  • 3 jam yang lalu
  • 4 menit membaca

JENDERAL TNI (Purn.) Try Sutrisno meninggal dunia pada 2 Maret 2026 dalam usia 90 tahun. Try Sutrisno dikenal sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia yang keenam. Anak-anak generasi 1990-an tentu mengenal potretnya berdampingan bersama Presiden Soeharto yang dipampang di ruang-ruang kelas sekolah selama rentang waktu 1993–1998.  


Try Sutrisno lahir di Kampung Genteng, Bandar Lor, Surabaya, 15 November 1935 (beberapa versi lain menyebutkan 1937). Sebelum menjadi tentara, Try Sutrisno sebenarnya berkesempatan menjadi dokter. Setelah lulus SMA pada 1956, Ty diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Namun, Try yang sejak usia bocah sudah terpapar suasana perang kemerdekaan di Surabaya, memilih jadi taruna di Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad, kini Korps Zeni). 


Di Atekad, Try Sutrisno termasuk taruna berpostur atletis dengan paras tampan. Setelah Try menjadi taruna senior, Atekad kedatangan junior yang juga atletis dan berwajah Indo bernama Pierre Tendean. Setelah lulus dari Atekad, Try mengenang Pierre sebagai perwira yang loyal dan solider. Baik Try maupun Pierre digadang-gadang sebagai taruna Atekad yang kariernya menjanjikan di masa depan. Namun, kiprah Pierre tak panjang karena gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965 ketika bertugas sebagai ajudan Menteri Pertahanan dan Keamanan Jenderal TNI Abdul Haris Nasution. Sementara itu, karier militer Try terus melesat. 



Pada 1974, Try Sutrisno menjadi ajudan Presiden Soeharto hingga 1978. Setelahnya, jenjang kepangkatan Try menanjak mulus dari perwira menengah menuju perwira tinggi. Berturut-turut Try menjabat Kepala Staf Kodam Udayana (1978–1979), Panglima Kodam Sriwijaya (1979–1982), Panglima Kodam Jaya (1982–1985), Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (1985–1986), Kepala Staf Angkatan Darat (1986–1988), hingga menjabat Panglima ABRI (1988–1993). 


Namun, puncak tertinggi popularitas Try Sutrisno setelah namanya masuk bursa wakil presiden. Saat itu, Try sudah memasuki masa persiapan pensiun ketika sosok bakal calon wakil presiden sedang ramai diperbincangkan. Seperti diberitakan Bali Post, 6 Oktober 1992, nama Try Sutrisno berada di peringkat pertama bursa calon wakil presiden untuk mendampingi Presiden Soeharto di periode pemerintahan yang keenam.  


“Nama Try Sutrisno menempati peringkat pertama di bursa calon wakil presiden periode 1993–1998, menyisihkan beberapa kandidat baik dari kalangan ABRI maupun sipil. Munculnya nama Try Sutrisno itu memperkuat dugaan yang banyak berkembang di masyarakat selama ini bahwa dialah orang yang memang pantas mendampingi Pak Harto,” lansir Bali Post.  


Dalam Sidang Umum MPR pada Maret 1993, Fraksi ABRI mengajukan Try Sutrisno sebagai calon presiden. Sebelum dicalonkan, Try bukanlah satu-satu kandidat. Sejumlah nama ditimbang-timbang oleh Fraksi ABRI, seperti Jenderal TNI Edi Sudrajat yang menjabat KSAD dan Menteri Dalam Negeri Jenderal TNI Rudini. Di samping nama-nama tersebut, ABRI juga melirik calon dari kalangan sipil seperti Menteri Riset dan Teknologi B.J. Habibie dan Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Emil Salim.  


Menurut Ketua Fraksi ABRI Letjen TNI Harsudiyono Hartas, calon wakil presiden yang mendampingi Soeharto idealnya berusia 50–60 tahun. Dia juga harus memiliki wibawa yang sejuk, mampu berkomunikasi dengan penalaran akademis, agamis, adat istiadat, dan kebiasaan setiap etnis di Indonesia. Selain itu, dia harus bisa diterima semua pihak dan golongan.  


“Berangkat dari kriteria itu jelas Try Sutrisno mempunyai kemampuan melakukan itu untuk mendampingi presiden,” kata Harsudiyono yang juga menjabat Kassospol ABRI dalam Bali Post, 13 Februari 1993.  



Pencalonan Try Sutrisno sebagai wakil presiden didukung oleh semua fraksi. Fraksi ABRI, PDI, PPP, Karya Pembangunan, dan Utusan Daerah satu suara menunjuk Try Sutrisno sebagai calon tunggal wakil presiden. Soeharto menyatakan persetujuannya terhadap Try Sutrisno. Bagi Soeharto, Try Sutrisno bukan orang asing sebab telah bertugas menjadi ajudannya sejak paruh kedua 1970.  


“Saya menerima pencalonan ini secara resmi sebagai suatu tanggung jawab, sebagai suatu tugas. Karena ini merupakan amanat dan kepercayaan dari rakyat serta ridho dari Tuhan yang Maha Esa,” kata Try Sutrisno setelah bertemu lima utusan fraksi yang meminta kesediaannya sebagai wakil presiden, diwartakan harian ekonomi Neraca, 11 Maret 1993.  


Ketokohan Try Sutrisno sudah mulai dikenal publik sejak menjabat Panglima ABRI. Namanya melekat di hati masyarakat kota maupun pedesaan. Meski namanya sempat tersandung peristiwa kerusuhan berdarah di Tanjung Priok pada 1984, tak menghalangi jalan Try Sutrisno untuk menduduki kursi RI-2.  


“Penampilannya yang sangat terkesan gagah dan ganteng itu, membuat setiap yang melihatnya menjadikan jenderal berbintang empat ini sebagai favoritnya. Meski masyarakat cukup puas dengan hanya melihat lewat tayangan televisi atau di media cetak,” sebut Neraca, 12 Maret.  


Ketika namanya dicalonkan sebagai wakil presiden, nama Try Sutrisno kian bergaung kemana-mana. “Pak Try sangat merakyat, terlebih Ibu Try yang sangat sederhana dan kelihatannya baik hati, sosiawan, seperti yang saya lihat setiap penampilannya di televisi,” kata seorang ibu warga Kulon Progo, Yogyakarta dikutip Neraca, 2 Maret 1993.  



Namun, menurut pakar politik Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto, Soeharto tak sepenuhnya percaya karena Try Sutrisno adalah orang dekat atau bahkan binaan Jenderal TNI Benny Moerdani, mantan Panglima ABRI (1983–1988), yang diujung masa jabatannya bersitegang dengan Soeharto. Selama periode memerintah, peran Try Sutrisno sebagai wakil presiden nyaris tidak difungsikan Soeharto. Selama menjadi wakil presiden, Try Sutrisno jarang sekali diutus Soeharto untuk mewakili Indonesia pada acara-acara penting di dalam maupun luar negeri. 


Meski terkesan pasif, Try Sutrisno menurut pengakuannya kepada Salim Said pernah menyampaikan kepada Soeharto tentang keresahan tokoh senior ABRI atas kekuasaan yang terlalu lama dipegang Soeharto. Try juga pernah memperingatkan Soeharto atas keprihatinan sejumlah jenderal senior terkait kegiatan bisnis anak-anaknya. Di luar itu, Salim mengenang Try Sutrisno sebagai pribadi yang hangat, bersahaja, dan rendah hati. Dan yang istimewa, bila ada yang mengeluh sakit, Try dengan spontan mengajarkan doa-doa untuk menetralkan penyakit.  


“Try bukan saja sanggup mengajarkan banyak doa, mantan wapres itu, menurut seorang bekas ajudan presiden, juga punya ilmu menangkal hujan. Kebolehan itu kabarnya pernah dipraktikkan ketika Try bertugas sebagai ajudan presiden,” terang Salim.* 



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Try Sutrisno, Wapres Paling Beken di Era Orde Baru

Try Sutrisno, Wapres Paling Beken di Era Orde Baru

Try Sutrisno mencapai puncak popularitasnya ketika dicalonkan sebagai wakil presiden. Dikenal sebagai sosok yang hangat dan merakyat.
Jalan Cornelis Speelman Menjadi Gubernur Jenderal

Jalan Cornelis Speelman Menjadi Gubernur Jenderal

Cornelis Janszoon Speelman dipandang sebagai pahlawan VOC setelah memenangkan Perang Makassar. Jalan Speelman menjadi Gubernur Jenderal semakin terbuka lebar.
Sebelum Ali Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi

Sebelum Ali Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi

Enam kali Ali Khamenei dipenjara rezim Pahlavi dan disiksa SAVAK. Jadi korban percobaan pembunuhan tak lama pasca-Revolusi Islam 1979.
Cat Stevens Masuk Islam

Cat Stevens Masuk Islam

Dia terus bermusik setelah masuk Islam. Kemanusiaan sangat penting baginya.
Serangan Umum 1 Maret

Serangan Umum 1 Maret

Pada 1 Maret 1949, TNI menyerang Belanda. Meski TNI hanya enam jam menguasai Yogyakarta, TNI berhasil mematahkan propaganda Belanda.
bottom of page