- 2 jam yang lalu
- 5 menit membaca
PADA suatu hari di bulan Agustus 1934, sepucuk surat datang dari Batavia. Si pengirim ialah Soegiarti, kawan Maria semasa kuliah di Leiden. Surat itu membawa kabar: mengajak Maria jadi guru sekolah Muhammadiyah di Batavia. Surat datang saat Maria berada di pengujung kontraknya sebagai pegawai honorer di Kabupaten Cirebon.
“Soegiarti kirim surat kepada saya. Dia menawari saya jadi guru di sekolah Muhammadiyah. Dia sudah kenal saya, sudah tahu sifat-sifat saya,” kata Maria kepada Dewi Fortuna Anwar yang mewawancarainya.
Soegiarti pernah satu kos dengan Maria di Witte Single 25. Dia belajar keguruan untuk meraih ijazah hoofdacte, semacam sertifikasi jadi Kepala Sekolah. Di Batavia, Soegiarti mengajar di sekolah menengah Muhammadiyah. Maria tak menampik tawaran Soegiarti itu. Gayung bersambut. Mohammad Achmad, ayah Maria yang saat itu bupati Kuningan, mengizinkannya pergi ke Batavia. “Ayah saya cukup progresif. Jadi, dia izinkan saja kemauan saya,” kata Maria.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















