top of page

Guru Sejarah Sekolah Merah

Jejak pertama Maria Ullfah di Batavia. Membawanya masuk ke gelanggang pergerakan nasional.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Guru dan murid sekolah Muhammadiyah. Maria Ullfah (duduk di tengah). Kepala sekolah ini Ir. Djuanda yang kelak menjadi perdana menteri. (Dok. Keluarga Maria Ullfah/Historia.ID).

7 Jun
5 menit membaca

PADA suatu hari di bulan Agustus 1934, sepucuk surat datang dari Batavia. Si pengirim ialah Soegiarti, kawan Maria semasa kuliah di Leiden. Surat itu membawa kabar: mengajak Maria jadi guru sekolah Muhammadiyah di Batavia. Surat datang saat Maria berada di pengujung kontraknya sebagai pegawai honorer di Kabupaten Cirebon.


“Soegiarti kirim surat kepada saya. Dia menawari saya jadi guru di sekolah Muhammadiyah. Dia sudah kenal saya, sudah tahu sifat-sifat saya,” kata Maria kepada Dewi Fortuna Anwar yang mewawancarainya.


Soegiarti pernah satu kos dengan Maria di Witte Single 25. Dia belajar keguruan untuk meraih ijazah hoofdacte, semacam sertifikasi jadi Kepala Sekolah. Di Batavia, Soegiarti mengajar di sekolah menengah Muhammadiyah. Maria tak menampik tawaran Soegiarti itu. Gayung bersambut. Mohammad Achmad, ayah Maria yang saat itu bupati Kuningan, mengizinkannya pergi ke Batavia. “Ayah saya cukup progresif. Jadi, dia izinkan saja kemauan saya,” kata Maria.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page