top of page

Sepak Terjang A.K. Jusuf, Murid Sjahrir Jadi Pengikut Tan Malaka

Ketimbang D.N. Aidit atau Adam Malik, A.K. Jusuf pernah dianggap murid terpandai oleh Sutan Sjahrir. Riwayat pemuda impulsif itu berujung tragis pasca menculik sang mentor.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Perdana Menteri Sutan Sjahrir menghadiri peresmian Sekolah Polisi di Magelang dua pekan pasca diculik Mayor A.K. Jusuf. (IPPHOS/Arsip Nasional RI).

  • 24 Jul
  • 10 menit membaca

YOGYAKARTA, 24 Maret 1948, tersangka Mayor Abduk Kadir (A.K.) Jusuf didudukkan di kursi saksi dalam persidangan kasus perencanaan penculikan Perdana Menteri (PM) Sutan Sjahrir di Solo pada malam 27 Juni 1946. Selain A.K. Jusuf, yang turut memberi kesaksian di Mahkamah Agung Tentara itu adalah Jenderal Mayor Raden Panji Soedarsono, Moh. Yamin, Achmad Subardjo, dan Iwa Kusuma Sumantri.


A.K. Jusuf menjelaskan bahwa pada sore sekira pukul 4, ia mendatangi kediaman Jenderal Soedarsono di Jalan Jetis 22, Yogyakarta. Keduanya membahas keresahan terkait pidato Wakil Presiden Mohammad Hatta pada peringatan Isra’ Mi’raj di Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta pagi sebelumnya. Pidato sedikit membocorkan rahasia perundingan pemerintahan Sjahrir dengan Belanda.


“Wakil Presiden Mohammad Hatta mencetuskan sedikit dari hasil perundungan dengan Belanda yang selama ini dirahasiakan. Bahwa pemerintah meminta pengakuan de facto Republik Indonesia atas Jawa, Sumatera, dan Madura, dan lain-lainnya diserahkan kepada Belanda dengan syarat akan diadakan plebisit dalam waktu tiga tahun. Semua yang hadir kaget, antara lain Panglima Besar Jenderal Sudirman, Komandan Divisi III Jenderal Mayor R.P. Sudarsono, anak buahnya Mayor A.K. Jusuf, dan lain-lainnya,” kenang Iwa dalam otobiografinya, Sang Pejuang dalam Gejolak Sejarah.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page