- 9 Jul
- 9 menit membaca
PANTI Hoedjojo, Madiun, 15 Maret 1946. Pagi itu, Wali al-Fatah membuka Kongres Persatuan Perjuangan (PP) yang kedua. Dari pandangan mata, jumlah hadirinnya menyusut dari lebih 100 organisasi menjadi 40 organisasi saja.
Namun, gelora Tan Malaka dan para tokoh PP lainnya dalam agitasinya tak serta-merta menyusut. Mereka juga tak gentar dengan pertentangan-pertentangan dan intimidasi dari organisasi-organisasi lain semisal Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia (BKPRI) atau “tuan rumah” laskar Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo).
Pesindo sendiri juga menggelar kongresnya pada 13 Maret 1946. Hasilnya: keluar dari PP. Sedangkan BKPRI, sudah lebih dulu menghelat musyawarahnya pada 14 Maret. Membuat mereka menempel banyak selebaran anti-PP dan menggelar unjuk kekuatan dengan parade bersenjata di Madiun.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















