top of page

Pasang Badan Demi Proklamasi Kemerdekaan

Bukan tanpa alasan Ahmad Subardjo dijuluki “Sang Penjamin Kemerdekaan”. Namun, dia malah absen saat kemerdekaan diproklamasikan Sukarno.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Patung Ahmad Subardjo dalam reka adegan perumusan teks Proklamasi di Museum Perumusan Naskah Proklamasi (munasprok.or.id)

23 Agu
12 menit membaca

Diperbarui: 24 Agu

AHMAD Subardjo baru beberapa jam tidur ketika dua pemuda utusan Barisan Pelopor menyambangi rumahnya di Cikini, Jakarta beberapa menit jelang pukul 10 pagi Jumat, 17 Agustus 1945. Kedua pemuda itu mengaku datang diutus Sukarno.


Subardjo amat lelah, fisik maupun mental, pagi itu. Selain hampir kepala lima usianya, selama beberapa hari sebelumnya dia super sibuk. Namun, karena Sukarno yang memanggil, keluarganya pun membangunkan Subardjo.


Di hadapan Subardjo, dua pemuda tadi memintanya untuk datang ke kediaman Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur (kini, Jalan Proklamasi). Sebab, teks proklamasi kemerdekaan sudah akan dibacakan.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page