- 18 menit yang lalu
- 7 menit membaca
KAPAL Sindoro memulai perjalanan menuju negeri Belanda pada awal tahun 1919. Dari Tanjung Priok, Batavia, kapal milik perusahaan Rotterdamsche Llyod itu berlayar melewati Selat Sunda menuju Emmahaven (Pelabuhan Teluk Bayur) di Padang, Sumatra Barat. Kapal singgah sementara untuk mengambil batu bara. Perjalanan kemudian dilanjutkan melewati Aden, Suez, Port Said, Marseille, dan melalui Selat Gibraltar ke Terusan Inggris dengan tujuan Rotterdam.
Salah satu penumpang kapal berukuran 5.000 ton itu adalah Ahmad Subardjo. Dua tahun sebelumnya dia menamatkan pendidikan sekolah menengah umum pertama Koning Willem III (KW III) School di Batavia.
“Di Terusan Inggris (English Channel) kapal harus berlayar sangat perlahan-lahan. Karena sudah waktu malam tiba di sana, kami berlabuh dekat pantai Inggris. Ini untuk menghindarkan kapal dari ranjau-ranjau yang banyak mengambang di Lautan Utara (North Sea). Ada kapal Rotterdamsche Llyod yang tenggelam karena melanggar ranjau,” kata Ahmad Subardjo dalam otobiografinya, Kesadaran Nasional.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

















