top of page

Pengalaman Ahmad Subardjo di Eropa

Ahmad Subardjo melanjutkan pendidikan ke Belanda. Dia berjejaring dengan orang-orang dari berbagai negara dalam gerakan melawan imperialisme dan kolonialisme.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ahmad Subardjo (duduk kiri) bersama Soekiman dan Pamontjak, serta (berdiri kiri-kanan) Djoenaedi, Mohammad Hatta, Ichsan, dan Dahlan Abdullah, tahun 1924. (Repro Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950).

13 Agu
7 menit membaca

Diperbarui: 24 Agu

KAPAL Sindoro memulai perjalanan menuju negeri Belanda pada awal tahun 1919. Dari Tanjung Priok, Batavia, kapal milik perusahaan Rotterdamsche Llyod itu berlayar melewati Selat Sunda menuju Emmahaven (Pelabuhan Teluk Bayur) di Padang, Sumatra Barat. Kapal singgah sementara untuk mengambil batu bara. Perjalanan kemudian dilanjutkan melewati Aden, Suez, Port Said, Marseille, dan melalui Selat Gibraltar ke Terusan Inggris dengan tujuan Rotterdam.


Salah satu penumpang kapal berukuran 5.000 ton itu adalah Ahmad Subardjo. Dua tahun sebelumnya dia menamatkan pendidikan sekolah menengah umum pertama Koning Willem III (KW III) School di Batavia.


“Di Terusan Inggris (English Channel) kapal harus berlayar sangat perlahan-lahan. Karena sudah waktu malam tiba di sana, kami berlabuh dekat pantai Inggris. Ini untuk menghindarkan kapal dari ranjau-ranjau yang banyak mengambang di Lautan Utara (North Sea). Ada kapal Rotterdamsche Llyod yang tenggelam karena melanggar ranjau,” kata Ahmad Subardjo dalam otobiografinya, Kesadaran Nasional.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page