top of page

Masa Muda Ahmad Subardjo

Rasa kebangsaan Ahmad Subardjo tergugah oleh tulisan Soewardi Soerjaningrat dan pidato Tjokroaminoto. Dia juga sempat menggeluti teosofi.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Potret masa muda Ahmad Subardjo. (Randy Wirayudha/Historia.ID).

10 Agu
6 menit membaca

Diperbarui: 24 Agu

PADA 1913, Ahmad Subardjo tercatat sebagai murid sekolah menengah pertama di Koning Willem (KW III) School di Batavia (kini menjadi Perpustakaan Nasional di Jl. Salemba Jakarta Pusat). Tahun itu bertepatan dengan seabad kemerdekaan Belanda dari penjajahan Prancis.


Rakyat jajahan di negeri koloni Hindia Belanda harus ikut menyumbang, dengan embel-embel pungutan uang derma, untuk membiayai perayaan. Namun, rencana perayaan besar-besaran itu dikecam oleh seorang bumiputra, Soewardi Soerjaningrat, melalui tulisan “Als ik een Nederlander was” (Seandainya Aku Seorang Belanda) dalam suratkabar De Express, 13 Juli 1913.


Soewardi menyindir masa lalu Belanda yang juga pernah menjadi negeri jajahan. Betapa tak tahu malunya Belanda yang pernah dijajah, kini merayakan kemerdekaannya di hadapan rakyat koloni yang masih terjajah. Soewardi sungguh malu, andai dia orang Belanda. Artikel itu diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu untuk disebarluaskan kepada kalangan bumiputra.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page