- 1 hari yang lalu
- 5 menit membaca
DI tepi Sungai Citarum, ada sebuah desa kecil bernama Teluk Jambe. Letaknya dekat Karawang, keresidenan yang di masa kolonial terkenal sebagai penghasil beras. Mobilitas di Karawang begitu sibuk dan ramai karena menjadi tempat perhentian kereta api dari Bandung ke Batavia, dan sebaliknya. Untuk mencapai Karawang, orang harus menyeberangi Sungai Citarum di Teluk Jambe.
Di Teluk Jambe itulah Teuku Yusuf bertugas sebagai mantri polisi. Dia bertanggung jawab atas ketertiban dan keamanan Teluk Jambe dan sekitarnya yang banyak didatangi pencuri dan perampok. Pada 23 Maret 1896, pasangan Teuku Yusuf dan Wardinah dikaruniai anak keempat yang diberi nama Ahmad Subardjo.
“Pada waktu aku dilahirkan, ayahku masih menjabat mantri polisi, jabatan yang terbawah dalam kepamongprajaan,” kenang Ahmad Subardjo dalam Kesadaran Nasional: Sebuah Otobiografi. “Ibuku menceritakan dengan bangga bahwa ayahku pernah dianugerahi medali oleh pemerintah sebagai tanda jasa setelah dia berhasil membekuk seorang perampok yang sangat ditakuti.”
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















