top of page

Ahmad Subardjo van Karawang

Ahmad Subardjo lahir di Karawang dari keturunan bangsawan Aceh dan Jawa. Anak kesayangan mantri polisi ini pindah ke Batavia untuk melanjutkan pendidikan di sekolah Belanda.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ahmad Subardjo bersama saudara-saudarinya. Kiri-kanan: Siti Chadidjah, Ahmad Subardjo, Abdul Rachman, dan Siti Alimah. (Perpustakaan Nasional RI).

2 Agu
5 menit membaca

Diperbarui: 24 Agu

DI tepi Sungai Citarum, ada sebuah desa kecil bernama Teluk Jambe. Letaknya dekat Karawang, keresidenan yang di masa kolonial terkenal sebagai penghasil beras. Mobilitas di Karawang begitu sibuk dan ramai karena menjadi tempat perhentian kereta api dari Bandung ke Batavia, dan sebaliknya. Untuk mencapai Karawang, orang harus menyeberangi Sungai Citarum di Teluk Jambe.


Di Teluk Jambe itulah Teuku Yusuf bertugas sebagai mantri polisi. Dia bertanggung jawab atas ketertiban dan keamanan Teluk Jambe dan sekitarnya yang banyak didatangi pencuri dan perampok. Pada 23 Maret 1896, pasangan Teuku Yusuf dan Wardinah dikaruniai anak keempat yang diberi nama Ahmad Subardjo.


“Pada waktu aku dilahirkan, ayahku masih menjabat mantri polisi, jabatan yang terbawah dalam kepamongprajaan,” kenang Ahmad Subardjo dalam Kesadaran Nasional: Sebuah Otobiografi. “Ibuku menceritakan dengan bangga bahwa ayahku pernah dianugerahi medali oleh pemerintah sebagai tanda jasa setelah dia berhasil membekuk seorang perampok yang sangat ditakuti.”

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
transparant.png
bottom of page