GEDUNG kantor Sarekat Islam (SI) cabang Semarang hari itu, 23 Mei 1920, ramai oleh kehadiran para pemimpin dan kader-kader –“faksi” Eropa maupun bumiputera– Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV). Mereka menggelar kongres ketujuh. Salah satu agenda utamanya adalah mengubah nama organisasi dan salah seorang yang paling semangat untuknya adalah Semaoen.
ISDV sempat mengalami perpecahan antara kubu kanan dan kubu kiri. Kubu kanan pada akhirnya mendeklarasikan Indische Sociaal-Democratische Partij (ISDP), langsung bernaung di bawah Sociaal-Democratische Arbeidspartij (SDAP) di negeri Belanda.
“Nama tersebut tidak hanya sangat mirip dengan nama organisasi sosialis revolusioner, tapi juga sangat tidak mungkin membedakan keduanya dalam bahasa Indonesia karena bahasa Indonesia tersebut tidak mengenal bunyi ‘v’, tetapi hanya ‘p’. Para anggota ISDV dipermalukan dengan dirujuknya nama moderat ini,” tulis Ruth Thomas McVey dalam The Rise of Indonesian Communism.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.











