top of page

Satu Gugur Dua Senyap

Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Perang Ngabang. Salah satu relief di Monumen Relief Sejarah Kalimantan Barat di Jl. RA Kartini, Darat Sekip, Kecamatan Pontianak Kota, Kota Pontianak, Kalimantan Barat. (Blog BakaNekoBaka).

2 menit yang lalu
7 menit membaca

PASUKANNYA kocar-kacir digempur oleh tentara Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL). Ditemani beberapa rekannya, Bardan Nadi bersembunyi di sebuah pondok bersama keempat anaknya. Namun persembunyiannya diketahui tentara KNIL karena informasi dua mata-mata yang menyamar sebagai pencari damar.


Seruan agar menyerah tak dihiraukannya. Begitu pondokan dihujani tembakan, Bardan mencoba kabur dengan tangan kanan memegang senapan lantak dan tangan kiri menggendong Paini Trisnowati, putrinya yang berusia dua tahun. Nahas, tiga butir peluru menembus tubuh Paini.


Bardan seketika membeku dan memilih menyerah. Setelah menguburkan anaknya atas seizin tentara Belanda, ia digelandang ke tangsi KNIL di Ngabang, Kalimantan Barat. Di sana ia disiksa saat interogasi sampai harus dirawat di klinik tentara. Setelah itu ia dipindahkan ke Penjara Sungai Jawi –kini menjadi bagian kompleks Rumah Sakit Umum Santo Antonius– di Pontianak.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page