PASUKANNYA kocar-kacir digempur oleh tentara Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL). Ditemani beberapa rekannya, Bardan Nadi bersembunyi di sebuah pondok bersama keempat anaknya. Namun persembunyiannya diketahui tentara KNIL karena informasi dua mata-mata yang menyamar sebagai pencari damar.
Seruan agar menyerah tak dihiraukannya. Begitu pondokan dihujani tembakan, Bardan mencoba kabur dengan tangan kanan memegang senapan lantak dan tangan kiri menggendong Paini Trisnowati, putrinya yang berusia dua tahun. Nahas, tiga butir peluru menembus tubuh Paini.
Bardan seketika membeku dan memilih menyerah. Setelah menguburkan anaknya atas seizin tentara Belanda, ia digelandang ke tangsi KNIL di Ngabang, Kalimantan Barat. Di sana ia disiksa saat interogasi sampai harus dirawat di klinik tentara. Setelah itu ia dipindahkan ke Penjara Sungai Jawi –kini menjadi bagian kompleks Rumah Sakit Umum Santo Antonius– di Pontianak.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












