ALKISAH, tersebutlah seorang raja yang bergelar Sultan Suryangalam. Istananya di Ngallahulah. Ia mitraning rasul (sahabat Rasul). Kisah Sultan Suryangalam ini dituturkan kembali oleh Prabu di Ngatasangin, yaitu Sang Titijagat.
Raja sejati itu melebur dengan rakyatnya. Jiwa raganya diliputi oleh tanggung jawab. Mantap memegang sumpah setianya. Di dalam dirinya terpancar budi pekerti yang luhur. Tak pernah ingkar dalam ucapannya. Tak membela orang yang dikasihi, dan tak membenci musuhnya. Tidak mencari keuntungan bagi dirinya sendiri, yang dapat merusak negara.
Raja tersebut haruslah menerapkan hukum Allah. Jika tangan kirinya yang berbuat durjana, tangan kananlah yang wajib menghukum. Jika tangan kanannya yang berbuat durjana, tangan kirilah yang wajib menghukum. Itulah yang disebut adil menurut hukum Allah.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












