top of page

Empat Wajah Pengadil Perkara

Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Lukisan klasik Jawa. Joko Tingkir sedang membunuh seekor kerbau di bawah pengawasan Sultan Demak, kemungkinan Sultan Trenggana. (Wikimedia Commons).

3 menit yang lalu
8 menit membaca

ALKISAH, tersebutlah seorang raja yang bergelar Sultan Suryangalam. Istananya di Ngallahulah. Ia mitraning rasul (sahabat Rasul). Kisah Sultan Suryangalam ini dituturkan kembali oleh Prabu di Ngatasangin, yaitu Sang Titijagat.


Raja sejati itu melebur dengan rakyatnya. Jiwa raganya diliputi oleh tanggung jawab. Mantap memegang sumpah setianya. Di dalam dirinya terpancar budi pekerti yang luhur. Tak pernah ingkar dalam ucapannya. Tak membela orang yang dikasihi, dan tak membenci musuhnya. Tidak mencari keuntungan bagi dirinya sendiri, yang dapat merusak negara.


Raja tersebut haruslah menerapkan hukum Allah. Jika tangan kirinya yang berbuat durjana, tangan kananlah yang wajib menghukum. Jika tangan kanannya yang berbuat durjana, tangan kirilah yang wajib menghukum. Itulah yang disebut adil menurut hukum Allah.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
transparant.png
bottom of page