- 4 Feb 2024
- 9 menit membaca
Diperbarui: 22 Mei
ADA dua peristiwa pada bulan Desember yang membuat saya terkesan. Sayangnya bukan kesan gembira, melainkan kehilangan. Pertama adalah wafatnya Pangeran Samber Nyawa alias Mangkunegara I pada 23 Desember 1795. Setelah bertahun-tahun berjuang menggedor hegemoni kolonial, Sang Pangeran menduduki takhta selama 40 tahun. Selama itu pula, ia tetap melakukan perlawanan untuk membela kedaulatan bangsa Jawa. Riwayat sang pangeran ditulis oleh sejarawan Merle Calvin Ricklefs dalam bukunya, Soul Catcher: Java’s Fiery Prince Mangkunagara I, 1726–1795.
Peristiwa kedua, meminjam kata-kata Peter Carey, adalah wafatnya seorang sejarawan Jawa yang paling cemerlang pasca-Perang Dunia. Sejarawan yang mengabdikan seluruh umurnya untuk meneliti Indonesia pada era pra-kemerdekaan hingga era modern. Ia adalah, sosok yang telah disebutkan di muka, Profesor Merle Calvin Ricklefs. Ia wafat pada 29 Desember 2019. Tanggal kematiannya selisih enam hari dari Pangeran Samber Nyawa, sosok komandan militer Jawa yang telah ia tulis dalam keadaan sakit keras.
Peter Carey, junior yang kemudian menjadi kolega Merle mempunyai kesan yang mendalam terhadap sosok kelahiran Fort Dogde, Iowa, 17 Juli 1943 itu. Carey mendampingi proses penerbitan mahakarya pamungkas Merle, buku yang telah disebutkan di muka, tentang seorang pangeran Jawa yang tangkas dan pemberani, yang menghabiskan hampir seluruh masa mudanya di medan pertempuran.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















