- 19 jam yang lalu
- 3 menit membaca
Diperbarui: 53 menit yang lalu
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berilah kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi.
Penggalan sajak berjudul “Krawang-Bekasi” di atas adalah karya sastrawan Chairil Anwar. Ditulis pada 1948, ketika perang mempertahankan kemerdekaan antara Indonesia dan Belanda tengah memuncak. Lewat puisi-puisi gubahannya, Chairil ikut menyalakan semangat heroisme para pejuang.
Chairil Anwar dikenal sebagai sastrawan pelopor Angkatan ‘45. Ia kondang dengan julukan Si Binatang Jalang, persona yang ditampilkannya dalam sajak berjudul “Aku”. Riwayat kepengarangannya telah menjadi bahan studi banyak sastrawan maupun kritikus sastra.
Semasa hidupnya, Chairil Anwar juga terkenal sebagai sastrawan bohemian bahkan terkesan urakan. Padahal, Chairil masih terbilang keponakan Sutan Sjahrir, perdana menteri pertama Republik Indonesia.
“Kedua orangtua Chairil Anwar berasal dari kalangan kelas atas. Ayahnya, Toeloes bin Manan, seorang controleur, pegawai tinggi di era kolonial Belanda. Ibunya Saleha, putri bangsawan Koto Gadang, Sumatra Barat, yang punya pertalian saudara dengan ayah Sutan Sjahrir,” tulis Tempo, 21 Agustus 2016.
Saleha adalah sepupu Sutan Sjahrir. Sementara itu, Tulus bin Manan merupakan pegawai birokrat pemerintah kolonial di Medan. Saat Chairil lahir pada 26 Juli 1922, Tulus sudah menjadi pegawai tinggi berpangkat kontrolir.
Sebagai anak bungsu, Chairil begitu disayang oleh Tulus. Segala kebutuhan dicukupi, termasuk pendidikan dan minat terhadap seni. Sejak kecil, Chairil sudah gandrung bacaan sastra karena mendapat asupan buku bermutu dari orang tuanya.
Sayang, menjelang Chairil dewasa, hubungannya dengan Tulus merenggang. Retaknya ikatan ayah dan anak itu lantaran Tulus menikah lagi dengan Romadona, wanita jelita putri dari camat terpandang di Guguak, Payakumbuh, Sumatra Barat.
Ketika dinikahi Tulus, Romadona berstatus janda beranak dua. Rasa sakit hati kepada Tulus memicu Chairil untuk meninggalkan Kota Medan menuju Jakarta menjelang berakhirnya kolonial Hindia Belanda.
“Saat itu ia menemani ibunya yang melarikan diri dari ketidakbahagiaan perkawinannya di Medan, Sumatra Utara,” catat Keith Foulcher, peneliti sastra Indonesia modern, dalam “Angkatan ‘45 dan Warisannya: Seniman Indonesia Warga Masyarakat Indonesia” termuat dalam buku Asrul Sani 70 Tahun.
Kepindahan Chairil ke Jakarta, sambung Foulcher, sekaligus mengawali kiprahnya dalam dunia politik kaum nasionalis pada permulaan pendudukan Jepang tahun 1942. Sjahrir menampung Chairil dan ibunya ketika mereka pertama kali pindah ke Jakarta.
Saat itu, Sjahrir baru bebas dari masa pengasingan dan menyewa rumah cukup besar milik wanita Belanda di Menteng. Di rumah itu pula Chairil bertemu dan berkawan dengan Des Alwi, salah satu anak angkat Sjahrir.
“Ketika saya pertama kali datang ke Jakarta, Chairil Anwar dan ibunya tinggal di Jalan Latuharhari 19 bersama Paman Rir. Kemudian saya menyadari bahwa Chairil Anwar, yang kami panggil Nini, adalah seorang penyair berbakat,” kenang Des Alwi dalam memoarnya, Friend and Exiles: A Memoir of the Nutmed and the Indonesian Nationalist Movement yang disunting Barbara Sillars Harvey.
Sementara Chairil mengukir kiprahnya sebagai penyair sambil sesekali menjadi kurir Sjahrir dalam perjuangan, Tulus bertugas sebagai bupati Indragiri Hulu, Riau. Daerah beribu kota Rengat ini diincar Belanda dalam perang menghadapi tentara Indonesia.
Menurut buku Sejarah Daerah Riau terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Indragiri merupakan basis tentara Indonesia terkuat di Riau. Selain itu, di desa Lirik sebelah utara Rengat, terdapat kilang minyak yang diperlukan Belanda untuk meneruskan penetrasinya ke pedalaman Sumatra. Untuk menguasai Indragiri, Belanda harus memulainya dari Rengat.
Pada 5 Januari 1949, Belanda menyerang Rengat dengan mengerahkan 24 pesawat tempur, 350 penerjun payung termasuk pasukan khusus Korps Specialle Tropen, dan tujuh kapal perang. Diperkirakan 2.000–2.600 orang warga sipil mati dalam operasi militer Belanda paling berdarah di Sumatra itu. Tragedi ini dikenal sebagai peristiwa Pembantaian Rengat.
“Banyak rakyat dan pegawai pemerintah yang tewas oleh penyerangan tersebut. Di antaranya kepala daerah sendiri Patih Toeloes, ayah dari alm. pujangga muda Chairil Anwar, serta kepala polisi daerah yang mengadakan perlawanan sampai ke saat mereka gugur sebagai pahlawan,” sebut buku Republik Indonesia: Sumatra Tengah.
Menurut Feni Efendi dalam Pacacombo: Ensiklopedia Birokrat dari Luhak Limo Puluah, Bupati Tulus ditembak oleh tentara Belanda di halaman rumah dinasnya bersama Sekretaris Daerah Yohanes Simatupang.
“Ia ditembak oleh Belanda di hadapan anak dan istrinya dengan diseret keluar dari rumahnya dan ditembak di halaman dan jenazahnya dilemparkan ke Sungai Indragiri yang berada di seberang rumah dinasnya oleh Belanda,” catat Feni.
Bupati Tulus diabadikan sebagai nama jalan di Kabupaten Indragiri Hulu. Masyarakat Indragiri memperingati tanggal 5 Januari sebagai hari berkabung. Sementara itu, Chairil Anwar wafat pada 28 April 1949, tiga bulan setelah kematian ayahnya. Hari wafatnya, 28 April, diperingati sebagai Hari Puisi Nasional.*



















Komentar