- 2 hari yang lalu
- 4 menit membaca
SIANG 12 November 1945, segerombol serdadu Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL), pelindung pemerintah sipil Nederland Indies Civil Administration (NICA), menyatroni rumah di Jalan Kwitang nomor 10, Jakarta. Rumah itu adalah rumah Ketua Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Jakarta Raya Mr. Mohamad Roem. Tuan rumah sedang makan siang waktu serdadu-serdadu KNIL datang.
“Orang-orang yang menyertainya makan siang selain Ibu Roem antara lain (Rudy, red.) Pirngadie dan Islam Salim,” catat Saifuddin Zuhri dalam Berangkat Dari Pesantren.
Santap siang itu pun bubar seketika akibat kedatangan serdadu-serdadu KNIL. Tak lama setelah pintu terbuka, kaki tuan rumah “dioleh-olehi” timah panas oleh serdadu-serdadu KNIL tadi. Sang wakil Indonesia dalam perundingan Roem-Royen itu pun pincang jalannya.
Para serdadu lalu mengacak-acak isi rumah untuk mencari senjata. Namun mereka tak menemukannya.
KNIL sedang mulai naik daun. Sebelumnya, mereka tak berkutik oleh serdadu-serdadu Nippon dalam Perang Pasifik hingga banyak serdadu KNIL melarikan diri ataupun ditawan. Sekarang usai perang, KNIL kembali menunjukkan tajinya. Oleh karenanya, rekrutmen pun dibuka untuk umum. Gaji besar menanti buat orang-orang terpelajar macam Rudy Pirngadie (1918-1973) yang ingin menggabungkan diri ke dalam KNIL.
Bagi orang macam Rudy, yang mantan taruna di kursus calon perwira cadangan Corps Opleiding Voor Reserve Officieren (CORO) di Bandung, untuk mendapatkannya lebih mudah. Jika ikut KNIL, Rudy bisa dapat pangkat letnan. Tentu gajinya jauh lebih besar daripada mayor Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Selain jadi letnan dengan gaji besar, Rudy bisa menyanyi di radio lagi seperti di zaman Hindia Belanda.
Menyanyi adalah dunia Rudy, yang bersuara merdu, sejak muda. Pada 1939, sebut koran lokal berbahasa Belanda, berkali-kali suaranya membawakan lagu “The Hilo Brown Baby” mengudara dari stasiun radio Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij (NIROM). Itu terjadi setelah empat tahun dia menekuni musik keroncong dan berkali-kali ikut lomba menyanyi dalam Pekan Raya Pasar Gambir, semacam Jakarta Fair era Hindia Belanda. Anak pelukis legendaris Indonesia Raden Mas Pirngadie (1875-1936) ini sampai jadi “Buaya Keroncong” di masa mudanya.
Namun, Perang Dunia II merenggut waktunya dari dunia musik yang disenanginya itu. Pada 1941, Rudy masuk CORO. Pangkatnya hanya sampai Wachtmeester kelas Satu (sersan satu) KNIL karena tentara Jepang dengan mudah mengalahkan KNIL.
Setelah Jepang menduduki Jawa dan Belanda menyerah, Rudy kembali jadi sipil. Menurut Benjamin Bouman dalam Van Driekleur tot Rood-Wit: De Indonesische officieren uit het KNIL 1900–1950, Rudy kemudian bekerja sebagai juru sensor di stasiun radio milik tentara Jepang. Setelah Jepang kalah dan Indonesia merdeka, Rudy bersama kakaknya bergabung dengan militer Republik Indonesia. Rudy di Angkatan Darat, kakaknya di Angkatan Laut dan belakangan (akhir dekade 1950-an) memimpin Badan Koordinasi Intelijen (BKI).
Sedari 1945-1947, Rudy adalah penghubung di Divisi VII Malang lalu Batalyon Teknik Resimen 14. Periode 1948-1950, Rudy ditempatkan sebagai perwira logistik, lanjut kepala Urusan Desa, dan sempat menjadi wakil kepala Staf di Markas Besar Komando Djawa (MBKD). Lantaran dianggap punya daya tarik apik dalam berkomunikasi demi kepentingan militer, Rudy pernah dijadikan juru bicara kepala penerangan di Angkatan Darat.
Kinerja baiknya membuat karier Rudy cepat naik. Dari letnan kolonel di akhir 1950-an, pangkat Rudy terus menanjak pada 1960-an hingga bintang satu menghiasi pundaknya.
Kendati begitu, keroncong tak ditinggalkan Rudy setelah jadi perwira tinggi. Rudy justru terus memajukannya. Pada 1960-an, Rudy mempopulerkan “Keroncong Beat”. Capaian itu yang menjadi faktor penting Rudy dia memimpin rombongan Indonesia ke New York World Fair pada 1964. Di sana, Rudy membawakan lagu “Blue Moon”, “Autumn Leaves”, “I Left My Heart in San Francisco”, juga “Serenade” yang semua dalam “rasa” keroncong. Sambutan penonton cukup baik meski belakangan muncul perkara hak cipta dan lain-lain.
Pada 1964 itu juga Rudy memulai orkes keroncong Tetap Segar. Nama-nama top dilibatkannya. Selain maestro biola Idris Sardi yang dilibatkan, Bing Slamet juga pernah bermain gitar dan bernyanyi dalam orkes ini. Bersama Idris Sardi, kata Suka Hardjana dalam Esai dan Kritik Musik, orkes Tetap Segar memperkaya suaranya dengan alat musik tiup seperti bigband Amerika. Upaya Rudy berhasil. Selain merilis album Under Tropical Moon of Indonesia, orkes Tetap Segar kerap mengiringi penyanyi-penyanyi keroncong era itu.
Namun, prestasinya di dunia musik keroncong tak seirama dengan kariernya di militer. Di era 1960-an, karier militer Rudy tidak begitu menonjol. Setelah menjadi juru bicara Angkatan Darat, seperti disebut buku Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1981-1982 dan Siapa Dia Perwira Tinggi TNI Angkatan Darat, Rudy diangkat menjadi pemimpin Badan Pimpinan Umum Perusahaan Tambang-tambang Timah Negara (BPU PN Tambang Timah, belakangan menjadi Perusahaan Negara Tambang Timah). Setelahnya, Rudy diangkat menjadi menteri muda pertambangan (27 Maret-25 Juli 1966).
Setelah Sukarno lengser, karier militer Rudy kian suram. Rudy yang jauh dari politik justru nahas. Dia sempat ditahan akibat dianggap akan memulihkan kekuasaan Sukarno yang telah lengser. Kala itu desukarnoisasi sedang getol dilancarkan pemerintahan Orde Baru.
Kenahasan Rudy namun hanya terjadi di karier militernya. Di luar militer, karier Rudy moncer. Selain memimpin perusahaan City Theater dan City Restaurant, Rudy juga memimpin Travel Service Asia Express. Akhirnya, Rudy yang tutup usia di RSPAD Gatot Subroto pada Juli 1973 kurang dikenal sebagai tokoh militer.
“Pirngadie, seorang tentara yang dikenal sebagai Jenderal Keroncong karena peran pentingnya sebagai komponis sekaligus dirigen,” catat Teguh Esha dalam Ismail Marzuki: Musik, Tanah Air, dan Cinta.















