top of page

Roro Mendut Menolak Manut

Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 2 jam yang lalu
  • 4 menit membaca

KISAH Roro Mendut merupakan salah satu cerita paling kuat dalam tradisi sejarah dan sastra Jawa, yang menggambarkan perlawanan perempuan terhadap kekuasaan feodal pada masa Kesultanan Mataram. Cerita ini tidak hanya hidup sebagai legenda, tetapi juga menjadi simbol keberanian, cinta, dan harga diri perempuan dalam menghadapi dominasi politik dan sosial.


“Mendut nama Den Rara. Artinya, serba lunak menggelombang. Mengambang. Den Rara membutuhkan kepastian, dasar yang kokoh,” catat Y.B. Mangunwijaya dalam Rara Mendut.


Roro Mendut diceritakan sebagai perempuan cantik dari wilayah pesisir yang ditangkap dalam sebuah konflik, kemudian dibawa ke istana Mataram. Latar cerita ini dikaitkan dengan masa perkembangan kekuasaan Mataram di bawah pemerintahan Sultan Agung pada abad ke-17.


Pada 1627, Sultan Agung menumpas pemberontakan Adipati Pati. Dari penaklukkan tersebut, diperoleh berbagai harta rampasan, termasuk para perempuan yang dibawa ke istana. Salah satunya Roro Mendut.


“Sultan Agung kemudian memberikan putri Pati yang cantik ini kepada seorang pejabatnya bernama Tumenggung Wiraguna,” tulis Amen Budiman dan Onghokham dalam Hikayat Kretek.


Tumenggung Wiraguna digambarkan sebagai sosok berusia lanjut, rambutnya memutih, dan giginya tersisa dua. Meskipun demikian, tubuhnya masih tampak kuat dan tetap mampu memegang tombak. Ia kerap menunjukkan kewiraannya dalam menaklukkan musuh-musuh Mataram.


Wiraguna berniat menjadikan Roro Mendut sebagai selir, sebuah praktik yang lazim dalam struktur sosial feodal. Perempuan menjadi bagian dari simbol kekuasaan laki-laki. Namun, Roro Mendut menolak permintaan tersebut.


“Bahkan, di hadapan Nyai Ageng Wiraguna, yang diminta menyampaikan lamaran kepadanya, Roro Mendut telah menjelek-jelekkan pejabat Kerajaan Mataram tersebut,” catat Amen Budiman dan Onghokham.


Sikap itu membuat Wiraguna sangat marah, sehingga membebankan pajak yang tinggi kepada Roro Mendut. Ia harus membayar pajak tiga real sehari. Jika tidak sanggup memenuhi tuntutan tersebut, maka ia akan dijadikan istri.


Roro Mendut menerima hukuman itu dengan syarat dia diizinkan membuka warung di Prawiramantren. Di sana, dia berniat menjual rokok panjang berikat benang sutra. Dia meminta tiga real kepada Nyai Ageng Wiraguna untuk modal.


“Nyi Ageng kemudian memutuskan untuk memberikan bekal kepadanya, selain memberikan tembakau sompok dari Imogiri, daun klobot, bumbu-bumbu, dan wur,” tulis Amen Budiman dan Onghokham.


Ilustrasi Roro Mendut dalam novel Rara Mendut karya Y.B. Mangunwijaya.
Ilustrasi Roro Mendut dalam novel Rara Mendut karya Y.B. Mangunwijaya.

Rokok Roro Mendut

Wiraguna memerintahkan agar warung rokok Roro Mendut dibuat rapat. Tidak boleh kelihatan oleh orang-orang yang berlalu-lalang di jalan. Pembuatan rokok dilakukan oleh para abdi yang sudah terampil, sementara Roro Mendut tidak diperkenankan terlibat langsung dalam proses pembuatannya. Dalam waktu singkat, puluhan bungkus rokok berhasil disiapkan. Tempat berjualan pun telah tersedia dan siap digunakan.


“Begitu diperintahkan begitu pula pelaksanaannya. Dalam waktu yang singkat mulai sibuklah mereka semua. Ada yang memotong-motong tembakau, membesut kelobot dan menggiling bumbunya. Di bagan lain sudah ada yang mulai dengan menggulung rokok serta mengikatinya,” tulis A. Hendrato dalam Pranacitra Rara Mendut.


Saat Roro Mendut mulai membuka warung, kecantikannya justru menarik perhatian banyak orang. Para lelaki yang melihatnya terpesona, bahkan tak sedikit yang melontarkan pujian kagum. Warungnya pun dipenuhi pembeli. Keramaian tidak hanya terjadi di dalam, tetapi juga meluber hingga ke luar. Warung dipadati orang-orang yang berdesakan untuk mendekat dan membeli dagangannya.


Melihat peluang yang besar itu, Roro Mendut menjadi semakin sering berdandan saat berjualan. Dia selalu mengenakan busana dan perhiasan yang serasi. Dia kerap memakai kain geringsing, berkemben warna jingga, bercincin emas bermata indah, serta berbedak dan bergincu tipis.


Di warungnya, Roro Mendut menjajakan rokok dengan cara yang tak biasa. Saat para pembeli menanyakan harga, dia menjawab sambil tersenyum bahwa harga sebatang rokok adalah setengah real. Namun, yang dijualnya bukan sekadar rokok, melainkan juga pesona dirinya. Dia menjelaskan bahwa rokok tersebut sebelumnya telah dibasahi oleh ludahnya yang manis, sehingga membuat para pembeli semakin tertarik.


Mendengar hal itu, orang-orang semakin antusias. Mereka berlomba-lomba membeli, bahkan tanpa mempermasalahkan harga. Uang, kain, hingga barang berharga seperti keris dan perhiasan diserahkan sebagai alat tukar. Dalam waktu singkat, dagangannya habis terjual. Dia berhasil memperoleh keuntungan yang sangat besar.


Selain rakyat biasa, banyak pula prajurit krocuk dan abdi-abdi kecil yang datang untuk mengisap rokok. Mereka bersenda gurau, melawak, dan tertawa bersama. Gelak tawa itu seolah menutupi kenyataan hidup mereka yang pas-pasan. Di dalam lingkungan istana mereka harus bersikap tegas, tetapi di luar mereka mencari hiburan untuk meringankan beban hidup.


“Tersenyumlah Mendut mendengarkan para kawula-alir itu rukun merokok dari satu dua batang cukuplah, dari mulu satu ke mulut lain; sambil senggak-senggakan dalam lagu dan irama jenaka seperti permainan anak-anak Cublak-cublak Suweng,” tulis Y.B. Mangunwijaya.


Keberhasilan Roro Mendut membawa keuntungan yang besar. Seluruhnya digunakan untuk menebus kewajiban pajaknya kepada Tumenggung Wiraguna. Namun, alih-alih merasa puas, Wiraguna justru semakin meningkatkan beban pajak dengan harapan dapat memaksa Roro Mendut tunduk pada kehendaknya. Meski demikian, Roro Mendut tetap teguh dan menolak menyerah.


Pertemuan dengan Pranacitra

Pranacitra merupakan anak dari seorang janda bernama Nyai Singa Barong yang tinggal di Desa Batakenceng. Pranacitra sangat diidamkan oleh banyak gadis. Setiap orang tua yang memiliki anak perempuan berharap menjadikannya sebagai menantu. Hal ini karena Pranacitra pemuda yang baik secara lahir dan batin.


Daya tariknya tidak hanya pada ketampanan wajah dan postur tubuh, tetapi juga sikap serta perilakunya yang santun. Karena itu, Pranacitra menjadi buah bibir dan pujaan para gadis di Batakenceng dan sekitarnya.


Saat akan diadakan pesta sabung ayam di Prawiramantren, Pranacitra tertarik untuk hadir ke sana. Meski awalnya tidak diizinkan oleh ibunya, namun Pranacitra berhasil membujuknya. Dia berangkat bersama dua pengiring ke Prawiramantren. Sepanjang perjalanan mereka menjadi pusat perhatian masyarakat. Banyak yang menyapa, bahkan menitipkan uang untuk dipertaruhkan, karena mengira Pranacitra akan mengikuti sabung ayam.


Setibanya di dekat pasar, kehadiran Pranacitra menarik perhatian para pedagang, termasuk Roro Mendut. Saat keduanya saling berpandangan untuk pertama kali, mereka sama-sama tertegun. Pertemuan singkat itu meninggalkan kesan mendalam di hati keduanya.


Di arena sabung ayam, Pranacitra diterima oleh Tumenggung Prawiramantri dan para hadirin. Dia kemudian mengikuti pertandingan dengan taruhan besar. Meskipun sempat diragukan, ayamnya berhasil memenangkan pertarungan, membuat suasana menjadi riuh.


Kemenangan itu dimanfaatkannya untuk membeli rokok di kedai Roro Mendut. Melalui rokok yang dibelinya, Roro Mendut menyisipkan surat berisi perasaan dan kesetiaannya kepada Pranacitra. Membaca surat tersebut, Pranacitra diliputi haru dan kegelisahan yang terus mengiringinya dalam perjalanan pulang.


“Khusus untuk Pranacitra, rokoknya ditulis surat berisi curahan hati Roro Mendut. Disarankannya agar Pranacitra mau mengabdi pada Tumenggung Wiraguna supaya mereka berdua dapat lebih sering bertemu. Dicantumkannya juga sumpah setianya bahwa dia akan tetap setia dan cinta pada Pranacitra,” catat A. Hendrato.


Pranacitra sangat terharu setelah membaca surat dari Roro Mendut. Dia gelisah dan tidak bisa tidur semalaman karena terus memikirkan Roro Mendut. Akhirnya, dia memutuskan untuk mengabdi kepada Wiragunan demi cinta. Meski ibunya menasihatinya, dia tetap bersikeras hingga akhirnya diizinkan. Sesampainya di Wiragunan, Pranacitra diterima oleh Tumenggung Wiraguna dan diangkat menjadi kepala punggawa karena sikapnya yang sopan dan berwibawa.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Dalam novel-novel karangannya, Motinggo Boesje menyuguhkan bumbu seksualitas dan erotisme yang digandrungi pembaca. Di akhir masa kepengarangannya, dia menekuni sastra serius.
bg-gray.jpg
Soekaesih menulis brosur tentang pengalaman pahit sebagai tahanan politik di Boven Digoel. Dia berkeliling kota di Belanda untuk membagikan pengalamannya. Menuntut penutupan kamp konsentrasi itu dan pembebasan para tapol.
bg-gray.jpg
Sebuah klub sepakbola yang kuat lahir dari komunitas Arab di Pekalongan. Diperhitungkan dalam kancah sepakbola di pantai utara Jawa dan bahkan pernah merengkuh juara.
bg-gray.jpg
Istilah tante girang populer pada 1970-an kendati sudah menggejala dua dekade sebelumnya. Sastra populer merekamnya sebagai potret sosial.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
Pablo Escobar mengisi kebun binatangnya dengan kuda nil. Setelah kematiannya, kuda nil itu berkembang biak tak terkendali hingga menimbulkan masalah.
Pablo Escobar mengisi kebun binatangnya dengan kuda nil. Setelah kematiannya, kuda nil itu berkembang biak tak terkendali hingga menimbulkan masalah.
Tokeitai umumnya terkenal kejam. Namun ada yang baik di kamp perempuan meski sadis di kamp laki-laki seperti Sersan Yamadji.
Tokeitai umumnya terkenal kejam. Namun ada yang baik di kamp perempuan meski sadis di kamp laki-laki seperti Sersan Yamadji.
VOC mengeksekusi 10 orang Inggris, 10 tentara bayaran Jepang, dan 1 orang Portugis yang dituduh berencana menyerang Benteng Victoria di Ambon tahun 1623.
VOC mengeksekusi 10 orang Inggris, 10 tentara bayaran Jepang, dan 1 orang Portugis yang dituduh berencana menyerang Benteng Victoria di Ambon tahun 1623.
Nh. Dini sejak kecil sudah perhatian dengan nasib para perempuan yang harus tunduk kepada keluarganya dan yang ingin menentukan nasibnya sendiri. Melalui sastra, ia curahkan pergulatan-pergulatannya.
Nh. Dini sejak kecil sudah perhatian dengan nasib para perempuan yang harus tunduk kepada keluarganya dan yang ingin menentukan nasibnya sendiri. Melalui sastra, ia curahkan pergulatan-pergulatannya.
transparant.png
bottom of page