- 12 Jun
- 3 menit membaca
SEJAK Orde Baru, Horison tampil sebagai majalah sastra yang mendominasi penerbitan karya sastra di Indonesia. Sebagai majalah sastra paling berpengaruh, Horison menjadi tolok ukur karya kesusastraan. Belum afdol jadi sastrawan kalau karyanya belum pernah dimuat dalam Horison. Begitulah pandangan umum yang berlaku saat itu. Namun, memasuki dekade 1990-an, Horison mengalami penurunan.
“Pada saat yang sama, muncul juga media-media sastra dan budaya alternatif yang penting. Misalnya, jurnal kebudayaan Kalam yang terbit pada 1994, yang dikelola oleh Goenawan Muhammad dan kawan-kawan, kemudian juga menguatnya otoritas koran,” terang kritikus sastra Zen Hae.
Pada 1992, harian Kompas, menggagas penghargaan anugerah cerita pendek (cerpen) terbaik. Cerpen pilihan Kompas dibukukan dari tahun ke tahun. Sejak itu, cerpen-cerpen bermutu bermunculan dalam Kompas maupun koran lain. Hal ini mulai menggeser perhatian para sastrawan, khususnya penulis cerpen. Orientasi mereka yang semula ingin diterbitkan dalam majalah sastra beralih ke media cetak.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















