- 2 jam yang lalu
- 3 menit membaca
SEJAK Orde Baru, Horison tampil sebagai majalah sastra yang mendominasi penerbitan karya sastra di Indonesia. Sebagai majalah sastra paling berpengaruh, Horison menjadi tolok ukur karya kesusastraan. Belum afdol jadi sastrawan kalau karyanya belum pernah dimuat dalam Horison. Begitulah pandangan umum yang berlaku saat itu. Namun, memasuki dekade 1990-an, Horison mengalami penurunan.
“Pada saat yang sama, muncul juga media-media sastra dan budaya alternatif yang penting. Misalnya, jurnal kebudayaan Kalam yang terbit pada 1994, yang dikelola oleh Goenawan Muhammad dan kawan-kawan, kemudian juga menguatnya otoritas koran,” terang kritikus sastra Zen Hae.
Pada 1992, harian Kompas, menggagas penghargaan anugerah cerita pendek (cerpen) terbaik. Cerpen pilihan Kompas dibukukan dari tahun ke tahun. Sejak itu, cerpen-cerpen bermutu bermunculan dalam Kompas maupun koran lain. Hal ini mulai menggeser perhatian para sastrawan, khususnya penulis cerpen. Orientasi mereka yang semula ingin diterbitkan dalam majalah sastra beralih ke media cetak.
“Mengingat posisi Kompas sebagai surat kabar nomor wahid di negeri ini, sekarang dan kedudukan cerpen dalam media massa. Harus diakui, kini Kompas menjadi salah satu dari sedikit sisa tempat pelarian cerita pendek –yang berkualitas maksud saya. Apalagi karena memberikan penghargaan honorarium yang lebih layak dari media massa lain kepada penulisnya,” tulis sastrawan Putu Wijaya dalam surat pembaca Kompas, 26 Juli 1992.
Menurut Zen, pergeseran itu menandai juga orientasi pengarang yang tidak lagi mengandalkan majalah sastra sebagai medan perhitungan kreativitas mereka. Mereka mulai mempercayai otoritas koran-koran harian yang punya lembar sastra setiap hari Minggu. Selain itu, menjelang Orde Baru runtuh, semangat demokratisasi dan desentralisasi mulai merekah, termasuk dalam kesusastraan.
Sebagaimana otonomi daerah, komunitas sastra mulai bermunculan di berbagai daerah. Mereka mendirikan semacam perkauman sastra yang salah satu tujuannya membangun kembali kultur budaya tulisan yang kuat dan tak lagi mengandalkan majalah sastra terbitan ibu kota. Misalnya, sastrawan Bali menerbitkan jurnal budaya CAK, yang meski tampilannya sederhana tapi punya isi serius. Di Pekanbaru, ada jurnal budaya Menyimak, sementara di Jawa Tengah terkenal dengan Revitalisasi Sastra Pedalaman (RSP). Di Bekasi, ada buletin Jejak yang diterbitkan Forum Sastra Bekasi.
“Jadi, mereka tidak lagi mengandalkan otoritas Jakarta sebagai legitimator atau episentrum dari sastra nasional. Sebaliknya, mereka ingin melahirkan kembali kultur sastra yang tidak mengandalkan Jakarta sebagai pusat karena menurut mereka redaktur Jakarta itu sangat arogan, tidak memuatkan karya-karya mereka,” beber Zen.
Komunitas sastra daerah yang dianggap minoritas itu, menurut Jamal D. Rahman, mantan pemimpin redaksi Horison, sejatinya adalah roh yang menghidupkan kebudayaan. Karena berada dalam lingkup kecil, mereka sangat relevan dengan komunitasnya. Buletin yang diterbitkan komunitas sastra daerah misalnya, selain bernilai sastra juga berfungsi sebagai arsip rekaman sezaman yang punya nilai sejarah.
“Roh sastra yang benar-benar hidup berada di tempat yang selama ini kita anggap minoritas, pinggiran, dan tepermanai, tapi tak terekam dalam sejarah sastra Indonesia,” kata Jamal. “Orang hanya tahu majalah-majalah besar, tapi ironisnya kita tidak tahu apa yang sebenarnya benar-benar hidup di tengah-tengah masyarakat kita.”
Memasuki era kekinian, kepengarangan bertumbuh tapi kepenyuntingan melemah. Tranformasi ke wahana digital menyebabkan setiap orang bisa menerbitkan karyanya sendiri, seperti menerbitkan kumpulan puisi ke dalam blog atau media sosial. Begitu pula dengan karya sastra lain, yang terbit tanpa melalui proses penyuntingan.
Fenomena ini berbeda dengan penerbitan konvensional di era sebelumnya ketika kepenyuntingan berperan besar dalam suatu karya. Dulu, pengarang atau sastrawan bisa menunggu bertahun-tahun untuk karyanya di muat dalam majalah sastra. Meski demikian, karya sastra bermutu tetap punya acuan di tengah membanjirnya karya sastra. Biasanya berupa penghargaan, seperti dari Badan Bahasa, Kusala Sastra Khatulistiwa atau masuk nominasi media seperti Cerpen Pilihan Kompas maupun Buku Sastra Pilihan Tempo.
“Situasinya sekarang berubah karena ada aspek hilangnya kepakaran. Semua orang merasa bisa menulis sesuatu yang namanya sastra Indonesia. Jadi kalau orang mencari, karya sastra yang baik tadi, lihat saja yang mendapat penghargaan. Itu kan acuan yang bisa dipegang untuk menilai karya sastra hari ini,” pungkas Zen.*



















Komentar