- 14 jam yang lalu
- 4 menit membaca
Diperbarui: 2 jam yang lalu
MAJALAH sastra Horison pernah menjadi kiblat dan barometer kesusasteraan Indonesia modern. Sejak didirikan oleh para sastrawan Angkatan ‘66, Horison tampil sebagai majalah sastra paling berpengaruh terutama pada periode awal Orde Baru. Sebagai majalah sastra terkemuka, Horison termasuk pula yang paling eksis hingga mencapai usia enam dekade (1966–2026).
Namun, kritikus sastra Zen Hae mengatakan, penerbitan majalah sastra di Indonesia sejatinya sudah marak sejak masa pra-kemerdekaan. Horison sendiri baru terbit pada Juli 1966. Sementara itu, landasan majalah kesusastraan di Indonesia bisa ditarik dari periode kolonialisme.
“Masa-masa ketika modernitas awal 1920-an melanda Hindia Belanda. Orang-orang bumiputra yang mendapatkan pendidikan sekolah Belanda, mereka membangun semacam budaya baru, tulisan baru, membawa pengaruh sastra Belanda ke dalam karakter sastra berbahasa Melayu saat itu,” kata Zen dalam diskusi “Yang Terbit, Yang Tenggelam: 60 Tahun Majalah Horison” di Balai Sastra H.B. Jassin, Jakarta pada Minggu, 10 Mei 2026.
Menurut Zen, majalah sastra punya peran penting dalam merepresentasikan suasana zaman. Ia menjadi organ yang tumbuh secara terikat dengan satu masa atau satu generasi sastra. Para tokoh sastra seperti Mohammad Yamin, Sanusi Pane, dan Roestam Effendi adalah generasi pertama sastrawan Indonesia. Namun, mereka belum merasakan karyanya diterbitkan oleh majalah sastra. Katakanlah Yamin, yang puisi-puisinya diterbitkan dalam kalawarta yang bersifat kedaerahan seperti majalah Jong Sumatra, yang memiliki lembar sastra atau rubrik puisi.

Selain itu, tokoh-tokoh sastra generasi pertama seperti Toelis Sutan Sati, Mara Rusli, atau Abdul Moeis termasuk sehimpunan pengarang nasionalis yang buku-bukunya diterbitkan oleh Balai Pustaka. Selain menerbitkan buku sastra, Balai Pustaka juga menerbitkan majalah umum Pandji Poestaka yang memuat lembar puisi. Jadi, sastrawan generasi awal, selain di majalah-majalah yang bersifat kepemudaan atau kedaerahan, mereka juga menerbitkan karyanya di Pandji Poestaka.
“Nah, generasi ini, meskipun tidak tumbuh dalam budaya majalah sastra, mereka sudah memulai suatu perkenalan baru dengan sastra modern. Generasi yang lebih mapan kemudian, adalah mereka yang kita sebut sebagai generasi Pujangga Baru. Pujangga Baru itu sebetulnya suatu generasi penulis yang awalnya tumbuh dari semacam sempalan dari penerbitan kolonial Balai Pustaka,” terang Zen.
Para punggawa Pujangga Baru seperti Armin Pane dan Sutan Takdir Alisjahbana adalah sastrawan yang tidak puas dengan kultur penerbitan Balai Pustaka yang terlalu kolonialistik. Kelompok sastrawan Pujangga Baru dianggap pula sebagai angkatan peralihan dari sastra lama ke sastra modern di Indonesia. Pada Juli 1933, mereka kemudian menerbitkan majalah Poedjangga Baroe yang orientasinya sastra dan kebudayaan. Sejak itu, muncullah puisi-puisi kesohor sastrawan Pujangga Baru karya Sutan Takdir Alisjahbana, Rifai Ali, Jan Engelbert Tatengkeng, Amir Hamzah, dan lainnya.
Menurut Eka Yulianti Bur, majalah Poedjangga Baroe bertujuan untuk membawa dan atau menyebarkan semangat baru dalam lapangan kesusastraan, kesenian, kebudayaan, dan sosial. Pada akhirnya tujuannya adalah terbentuknya persatuan bangsa. Kelihatan pada semboyan Pujangga Baru yang beberapa kali mengalami perubahan. Mulai dari berjuang untuk memajukan kesusastraan (1933); memberikan semangat baru dalam kesusastraan, seni, kebudayaan, dan soal masyarakat umum (1935); pembimbing dan semangat baru yang dinamis untuk membentuk kebudayaan baru, kebudayaan persatuan Indonesia (1936).
“Pujangga Baru adalah satu-satunya majalah yang memuat karya sastra secara khusus pada waktu itu,” ulas Eka dalam bunga rampai Sejarah Sastra Indonesia.
Majalah Poedjangga Baroe tampil dengan format sederhana. Bentuknya kecil seperti buku tulis. Wajar saja, pendirinya adalah sastrawan-sastrawan cekak tapi getol mengusung perubahan bersastra dari kolonialisme ke nasionalisme. Selama sembilan tahun berkiprah (1933–1942), Poedjangga Baroe menerbitkan sembilan puluh edisi, termasuk lebih dari tiga ratus puisi, lima drama, tiga antologi puisi, sebuah novel, berbilang esai, dan beberapa cerita pendek.

Seturut terbitnya, majalah Poedjangga Baroe menjadi tempat berkumpul kaum budayawan, seniman, dan cendekiawan Indonesia pada masa itu. Susunan redaksinya didominasi oleh pengarang asal Sumatra. Nama-nama seperti Armin Pane, Sutan Takdir Alisjahbana, Mr. Sumanang, Mr. Amir Sjarifoeddin, Mr. S. Muh. Sjah, Dr. Ng. Poerbatjaraka, W.J.S. Poerwadarminta, H.B. Jassin menjadi jajaran penghuni redaksi.
“Nama-nama itu silih berganti, kecuali Sutan Takdir Alisjahbana yang sampai pun masa sesudah perang ketika majalah itu diterbitkan kembali, tetap duduk memegang kemudi redaksi,” sebut sastrawan Ajip Rosidi dalam Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia.
Secara bisnis, penerbitan majalah Pujangga Baru tak bisa dikatakan sukses. Tirasnya tak sampai seribu. Pentolannya bukannya tak berusaha. Sutan Takdir Alisjahbana, misalnya, sampai mencoba menyurati sejumlah kesultanan Melayu untuk mendukung penerbitan tersebut. Namun, tiada satu pun kesultanan yang merespons.
Meskipun diterjang kesulitan finansial, majalah Poedjangga Baroe terbit dengan setia berkat pengorbanan dan keuletan Sutan Takdir Alisjahbana. Oplah tertingginya mencapai 500 eksemplar. Pelanggan setia yang membayar saban kali terbit sekitar 150 orang. Selain Takdir Alisjahbana, kerugian juga ditanggung oleh Armin Pane.
Namun, yang terpenting menurut Zen, majalah Poedjangga Baroe menjadi wadah diskursus yang menggagas semacam polemik. Seperti misalnya, pada 1935, muncul perdebatan sastra dalam Poedjangga Baroe, yang menyoal konsep Indonesia baru. Polemik bahkan melibatkan para cendekiawan seperti Sanusi Pane, Poerbatjaraka, hingga dr. Amir.
“Jadi itu sebuah situasi polemik yang pertama kali muncul dalam konteks budaya Indonesia,” tutur Zen.
Dinamika sastra dan penerbitan majalah sastra di Indonesia sempat terhenti di masa pendudukan Jepang. Majalah Poedjangga Baroe dilarang terbit oleh Jepang karena dianggap kebarat-baratan. Hingga kemudian Chairil Anwar dan kawan-kawan sastrawannya yang lain menggebrak lewat angkatannya yang disebut Angkatan 45.*


















Komentar