top of page

Starvation in a Fertile Land

Banyumas is one of Central Java’s rice-producing regions. However, floods and malaria caused famine in the area. This issue caught the attention of a member of the House of Representatives.

loading_historia_white.gif
transparant.png

A medical examination of the local population by a Chinese doctor to address the problem of kwashiorkor (hunger edema) in Banyumas Regency in 1933. (ANRI, Central Java Ministry of Information No. 5603-1272)

12 Mei
8 menit membaca

UNTIL the mid-1950s, the South Banyumas region was known as one of the rice-producing areas that supported food needs for various regions in Central Java. Ironically, however, there were reports indicating that hundreds of people were undernourished in the Banyumas Residency. The death rate was even higher than the birth rate.


Several national newspapers reported on this problem. The March 14, 1957, edition of Indonesia Raya reported that 600 people in the Banyumas Residency were suffering from food shortages. Of that number, 460 people were hospitalized, while there were only 19 emergency hospitals in the regency. The July 10, 1957, edition of Antara and the July 16, 1957, edition of PIA Semarang also warned of the threat of famine looming over Central Java, particularly the Banyumas Residency.


This drew the attention of a member of the House of Representatives from the Nahdlatul Ulama (NU) Party faction, K.H. Muslich. After reading the reports from Antara and PIA Semarang, Muslich raised questions about the issue. As a member of the House of Representatives, Muslich had the right to interpellate the government in accordance with Article 69 of the Provisional Constitution (UUDS 1950).

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Saat memimpin Jakarta, Sudiro dihadapkan pada kondisi berantakan. Putar otak demi pembangunan kota, termasuk cari dana di luar lungsuran dari pusat. Sering pula gagasannya ditolak pemerintah pusat.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo was born in Karawang to a family of Acehnese and Javanese nobility. The beloved son of a civil service police officer, he moved to Batavia to continue his education at a Dutch school.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah became the first female minister in Indonesian history. She handled everything from diplomacy and labor issues to makeup and lipstick.
bg-gray.jpg
Cerita dari Museum Gatot Soebroto di Ungaran. “Rumah Prihatin” yang kaya cerita meski hanya setahun ditinggali sang jenderal.
Di balik pameran karya seni ada proses panjang dalam mempersiapkannya, mulai dari memilih karya, mengurus peminjaman koleksi, hingga menjamin keamanannya.
Di balik pameran karya seni ada proses panjang dalam mempersiapkannya, mulai dari memilih karya, mengurus peminjaman koleksi, hingga menjamin keamanannya.
Upaya membentuk hubungan egaliter lelaki-perempuan sudah dilakukan sejak lama.
Upaya membentuk hubungan egaliter lelaki-perempuan sudah dilakukan sejak lama.
Mengidolakan R.A. Kartini sejak remaja, Sujatin tak pernah lelah memperjuangkan nasib perempuan.
Mengidolakan R.A. Kartini sejak remaja, Sujatin tak pernah lelah memperjuangkan nasib perempuan.
Bukan kali ini saja pandemi mengganggu ibadah haji. Bahkan, pada masa lalu haji dianggap membahayakan.
Bukan kali ini saja pandemi mengganggu ibadah haji. Bahkan, pada masa lalu haji dianggap membahayakan.
Tim kampanye Presiden Nixon memanfaatkan intelijen untuk mengintip jeroan partai pesaingnya. Skandalnya dibongkar informan FBI dan wartawan.
Tim kampanye Presiden Nixon memanfaatkan intelijen untuk mengintip jeroan partai pesaingnya. Skandalnya dibongkar informan FBI dan wartawan.
Kota suci itu pernah merajut perdamaian antaragama di masa awal kekuasaan Arab Islam. Kini konflik peperangan mencabik-cabiknya.
Kota suci itu pernah merajut perdamaian antaragama di masa awal kekuasaan Arab Islam. Kini konflik peperangan mencabik-cabiknya.
transparant.png
bottom of page