- 54 menit yang lalu
- 7 menit membaca
NY. Soewarni Pringgodigdo, Ketua Istri Sedar, belum usai menyampaikan pidatonya saat terdengar suara kluruk ayam jago dari mulut beberapa pria di sudut ruangan kongres. “Kukuruyuk... kukuruyuk...” kata mereka mengejek Soewarni. Kontan dia naik pitam dan menyatakan keluar dari keanggotaan kongres perempuan.
Insiden dalam Kongres Perempuan Indonesia kedua di Batavia, 20–24 Juli 1935 itu bermula dari Ratna Sari, wakil Permi (Persatuan Muslimin Indonesia) dari Sumatra Barat, yang sebelumnya menyampaikan pidato tentang kedudukan perempuan dalam hukum perkawinan Islam. Maria menilai muatan pidato Ratna terlalu ortodoks. “(Pidato itu) menimbulkan kegoncangan, karena Ratna Sari dapat menerima dan membela poligami,” kata Maria Ullfah dalam ceramahnya di Gedung Kebangkitan Nasional, Jakarta, 28 Februari 1981.
Soewarni yang mendapat kesempatan untuk menyampaikan tanggapan, langsung menyatakan ketidaksetujuannya. “Saya tidak menerima itu!” kata Soewarni. “Laki-laki persis seperti ayam jago di mana-mana kerjanya mengumpulkan perempuan saja!” kata Soewarni menambahkan. Kalimat itu langsung ditingkahi suara ayam jantan berkokok dan ketawa cekikikan dari peserta pria. Kongres pun terancam bubar. Peserta terbagi ke dalam dua kelompok besar yang saling bertentangan.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















