- 13 jam yang lalu
- 6 menit membaca
TALAK telah dijatuhkan kepada R.A. Soewenda. Dia hanya bisa merenungi nasib dicerai suami tanpa alasan yang kuat lewat secarik surat dalam keadaan sakit. Suaminya, R.T. Hasan Kartadiningrat, bupati Pandeglang, Banten, jatuh hati pada perempuan lain yang terhitung masih kerabat Soewenda. Belakangan datang kabar alasan perceraian dari sang suami: Soewenda mandul, tak bisa punya anak.
Perceraian pada zaman itu adalah aib yang tak tertanggungkan. Seorang istri yang diceraikan suaminya dipandang sebagai lambang kegagalan karena tak berhasil memikat perhatian suaminya. Keluarga besar orang tua Soewenda, kakek-nenek Maria dari pihak ayah, mengucilkan Soewenda. Dia harus tetap tinggal di kamarnya, tak diizinkan bergaul. Bahkan makan tak boleh semeja dengan anggota keluarga lainnya.
Suatu hari, pada musim liburan sekolah, Maria dan kedua adiknya datang berkunjung ke rumah kakek-neneknya di Menes, Pandeglang. Mereka datang dengan membawa jeruk garut dan apel sebagai buah tangan. Ketika Maria dan adik-adiknya bermain di kamar Soewenda, bibinya yang malang itu, dengan wajah memelas meminta tolong kepada Maria membagi oleh-oleh untuknya.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.
















