top of page

Rekor Langka Mempertahankan Trofi Piala Dunia

Argentina mesti menelan pil pahit di partai pamungkas. Hingga kini, baru Italia dan Brasil yang sanggup back-to-back juara Piala Dunia.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Wajah lesu Lionel Messi dkk. gagal back-to-back juara Piala Dunia (fifa.com)

  • 8 jam yang lalu
  • 6 menit membaca

AIR tenang menghanyutkan, kata pepatah. Meski di awal turnamen sempat diragukan, Spanyol konsisten melewati lawan-lawannya hingga di final. Sebutir gol dari Ferran Torres berhasil menekan tombol “mute” fans dan pendengung Argentina. Spanyol keluar sebagai juara Piala Dunia 2026 sekaligus menggagalkan Lionel Messi dkk. untuk mempertahankan trofi Piala Dunia yang mereka raih pada 2022.


Berbeda halnya dengan Argentina yang sedari awal turnamen sudah diunggulkan untuk juara dua kali berturut-turut. Di final yang dimainkan di New York New Jersey Stadium, Minggu (19/7/2026), selama dua kali waktu normal dan dua kali waktu tambahan, Argentina hanya jadi “ayam” yang dikurung pemain-pemain Spanyol hingga laga berkesudahan 1-0 buat La Furia Roja.


“Spanyol tim yang lebih baik; itulah yang sebenarnya. Kami tahu cara untuk menang dan kami juga sudah tahu bagaimana untuk kalah. Hari ini kami menunjukkan itu. Kami kalah dan harus menerimanya,” kata entrenador Argentina Lionel Scaloni, dilansir laman FIFA, Minggu (19/7/2026).


Scaloni juga gagal menyamai catatan Vittorio Pozzo, pelatih Italia yang mampu jadi pelatih peraih Piala Dunia dua kali berturut-turut. Sampai saat ini, rekor Italia dan Brasil masih utuh alias belum ada yang menyamai. Berikut perjalanan kedua tim itu saat berhasil jadi jawara turnamen terakbar dunia berturut-turut.


Gol tunggal Ferran Torres García yang membungkam fans dan pendengung Argentina (FIFA)
Gol tunggal Ferran Torres García yang membungkam fans dan pendengung Argentina (FIFA)

Italia (1934 dan 1938)

Amat disayangkan Timnas Italia tak ambil panggung di Piala Dunia 2026. Ini kali ketiga berturut-turut tim berjuluk Gli Azzurri itu gagal lolos ke pesta sepakbola terakbar sejagat.


Padahal, di masa lampau Italia adalah tim pertama yang mampu mengukir torehan langka: dua kali juara Piala Dunia berturut-turut. Tinta emas pertama mereka goreskan pada Piala Dunia 1934. Kendati jadi tuan rumah, Italia tak mendapat keistimewaan untuk lolos langsung ke putaran final alias harus melalu kualifikasi dengan meladeni Yunani di zona Eropa Grup 3.


“Di Uruguay (tuan rumah Piala Dunia 1930, red.), partisipasinya berdasarkan undangan namun pada ‘34 ada banyak negara yang tertarik ikut sehingga serangkaian kualifikasi diperlukan. Tuan rumah juga harus melaluinya seperti tim-tim lain. Juga Piala Dunia kali itu tercatat dalam sejarah jadi yang pertama disiarkan radio ke segenap bumi. Ingat: itu zaman sebelum adanya televisi!” tulis wartawan senior Argentina Fernando Fiore dalam The World Cup: The Ultimate Guide to the Greatest Sports Spectacles in the World.


Diktator Italia Il Duce Benito Mussolini mengerahkan segala kekuatan untuk membentuk imej dirinya dan Italia sebagai penyelenggara yang hebat. Mussolini juga memastikan allenatore Vittorio Pozzo memiliki skuad terbaik, termasuk “memanggil” para pemain oriundi, diaspora Italia yang sebelumnya mengisi skuad Argentina dan Brasil: Luis Monti, Raimundo Orsi, Enrique Guaita, Atilio Demaría, dan Filó Guarisi.


“Italia mengubah aturan dengan beberapa oriundi, pemain Amerika Selatan dengan darah Italia. Karena mereka juga memenuhi syarat untuk tugas militer, pelatih Italia Pozzo menjawab kritik dengan logiknya: ‘jika mereka bersedia mati demi Italia, mereka juga harus bersedia bermain untuk Italia,’” ungkap Kevin Moore dalam What You Think You Know About Football is Wrong: The Global Game’s Greatest Myths and Untruths.


Meski punya skuad bermutu, Mussolini enggan hanya berpangku pada “bagaimana nanti” di lapangan. Banyak isu dugaan pengaturan skor hingga intimidasi terhadap lawan-lawan Italia.


Di laga perempatfinal Italia kontra Spanyol, yang sering dikenang sebagai “Pertempuran Firenze”, wasit René Mercet asal Swiss diduga diintimidasi untuk memihak Italia sehingga banyak tekel keras Italia terhadap para pemain Spanyol diabaikan. Alhasil tujuh pemain Spanyol cedera dalam laga yang berkesudahan 1-1. Sedangkan pada laga ulangan Italia menang tipis 1-0. Pun di semifinal Italia vs. Austria, wasit Ivan Eklind asal Swedia diduga menerima suap lantaran sebelum laga, Eklind diundang makan malam oleh Mussolini. Italia menang 1-0 setelah terjadi gol kontroversial Guaita. Italia sendiri akhirnya merebut trofi Jules Rimet setelah di final kontra Cekoslovakia menang 2-1 berkat gol Orsi dan Angelo Schiavio.


“Anda bisa bayangkan Mussolini berjingkrakan kegirangan di tribun presidensialnya, sementara di lapangan timnya memberi gerakan hormat seperti fasis yang taat,” sambung Fiore.


Allenatore Vittorio Pozzo (berjas hitam) merayakan trofi Piala Dunia 1938 bersama skuadnya (FIFA)
Allenatore Vittorio Pozzo (berjas hitam) merayakan trofi Piala Dunia 1938 bersama skuadnya (FIFA)

Italia kemudian tampil sebagai juara bertahan di Piala Dunia 1938 di Prancis. Masih ditukangi Pozzo, kali ini skuad Italia lebih banyak diisi pemain muda. Beberapa oriundi kabur karena enggan terkena wajib militer. Saat itu, Mussolini sedang membantu rekan fasisnya asal Spanyol, Francisco Franco, di Perang Saudara Spanyol (1936-1939) dan persiapan ekspansi militer ke Balkan.


“Tim Azzurri juga mesti menjawab keraguan terkait kemenangan mereka empat tahun sebelumnya, apakah mampu menang jika bukan tuan rumah. Mereka harus membuktikan bahwa tim mereka punya kemampuan mumpuni, mengingat banyaknya tuduhan pengaturan skor atau suap dalam kemenangan mereka di 1934,” tulis Tim Harris dalam Sport: Almost Everything You Ever Wanted to Know.


Seiring kepopulerannya di Eropa, Mussolini turut memanfaatkan timnya sebagai propaganda fasis. Saat melawan tuan rumah Prancis di perempatfinal, Mussolini menetapkan Giuseppe Meazza cs. mengenakan jersey serba hitam laiknya sayap militer partai fasis Italia, ketimbang tetap mengenakan seragam biru seperti sebelumnya. Mussolini juga mengintervensi susunan skuad, di mana ia memaksa Pozzo mengganti bek muda Alfredo Foni untuk memberi tempat pada bek ‘gaek’ Eraldo Monzeglio, lantaran Monzeglio adalah pelatih tenis dan sepakbola bagi anak-anak Mussolini.


Namun, Italia berhasil membuktikan diri. Norwegia, Prancis, dan Brasil dipulangkan sebelum akhirnya Azzuri bertemu Hongaria di final. Terdapat dugaan Mussolini sempat mengirim telegram ancaman agar Italia bisa menang atau nyawa skuad jadi taruhannya.


Benar atau tidaknya ancaman itu, Italia digdaya 4-2 dan mencatatkan diri dalam sejarah sebagai negara pertama yang mampu mempertahankan trofi Piala Dunia. Pozzo, pelatih legendaris berjuluk Il Vecchio Maestro (Si Jago Tua) juga menetapkan catatan sebagai satu-satunya sosok yang mampu meraih dua kali juara Piala Dunia sebagai pelatih. Capaiannnya masih bertahan sampai sekarang.


Brasil (1958 dan 1962)

Di Piala Dunia 1958 yang dihelat di Swedia, Edson Arantes do Nascimento alias Pelé –yang berusia 17 tahun– mulai mengukir nama besarnya sampai kelak diakui sebagai “GOAT” alias yang terhebat sepanjang masa. Meskipun treinador Brasil Vicente Feola sempat ragu untuk membawanya, bos CBD (kini CBF, federasi sepakbola Brasil) João Havelange turun tangan “memaksa” Feola membawa Pelé ke skuad Brasil di Piala Dunia 1958.


“Sepanjang 1957 bocah ajaib dari Santos itu menghiasi artikel-artikel pers nasional (Brasil). Nama Pelé jadi buah bibir semua orang. Tetapi Feola melihatnya baru sekadar berlian yang belum terasah dengan masa depan yang cerah. Baginya Pelé baru akan siap pada (Piala Dunia) 1962. Lalu datanglah Havelange. Feola menentang, João bersikeras dan Pelé ikut terbang ke Swedia. Sang presiden (CBD) sampai harus ikut campur lagi ketika Feola tak memainkannya saat Brasil melawan Austria dan Inggris,” terang Fiore.


Pelé baru melakoni debutnya di laga terakhir Grup 4 kontra Uni Soviet, 15 Juni 1958. Feola tak menyesalinya karena sejak saat itu, nama Pelé senantiasa berada di starting line-up. Terlepas dari kemudian Just Fontaine asal Prancis juga mencuri perhatian dengan rekor 13 gol dalam satu turnamen –rekor yang belum terpecahkan sampai sekarang, nama Pelé kian dibicarakan publik internasional lebih luas, di mana pada partai final saat menantang tuan rumah Swedia, Pelé sumbang dwigol untuk kemenangan 5-2 Brasil.


“Brasil mengangkat trofi Jules Rimet untuk pertamakalinya, sekaligus meletakkan fondasi dinasti sepakbolanya sampai sekarang belum tersaingi (5 kali juara Piala Dunia, red). Seorang jurnalis dari (mingguan) Paris-Match menuliskan bahwa seorang raja telah lahir, ‘La Roi de Football’ yang dalam bahasa Portugis ‘O Rei’, julukan yang terus melekat dan sisanya adalah sejarah,” tambahnya.


Lalu pada edisi berikutnya, Piala Dunia 1962 di Chile, justru jadi Piala Dunia-nya Manuel Francisco dos Santos alias Garrincha. Ia juga tampil brilian di edisi sebelumnya meski namanya terbenam kegemilangan Pelé.


“Pada Piala Dunia di Chile, Garrincha akan jadi pemain yang sibuk. Skuad yang terpilih hampir tak berbeda dari empat tahun sebelumnya. Hanya pelatih Feola yang harus menghabiskan waktu delapan bulan istirahat karena penyakit jantung dan digantikan Aymoré Moreira,” urai Ruy Castro dalam Garrincha: The Triumph and Tragedy of Brazil’s Forgotten Footballing Hero.


Kapten Brasil Mauro Ramos angkat trofi Jules Rimet di Piala Dunia 1962 (FIFA)
Kapten Brasil Mauro Ramos angkat trofi Jules Rimet di Piala Dunia 1962 (FIFA)

Namun tak seperti di Piala Dunia 1958 Swedia, di mana Brasil datang sebagai underdog, lanjut Castro, kali ini ekspektasinya melambung tinggi untuk pulang dengan tetap mempertahankan trofi Piala Dunia. Brasil mulai jadi tim yang difavoritkan, tidak hanya di Brasil sendiri namun juga sebagian besar publik sepakbola internasional.


Akan tetapi kemudian, skuad Brasil sempat ketiban apes karena Pelé terbelit cedera otot pangkal paha di partai kedua Grup 3 kontra Cekoslovakia. Beruntung Brasil masih punya Garrincha yang “menggendong” tim setelah absennya Pelé sampai turnamen berakhir.


“Saat melawan Spanyol (di Grup 3), Brasil mendapatkan gol keduanya dari umpan cemerlang Garrincha. Saat melawan Inggris (di perempatfinal), ia jadi momok saat mendapatkan peran bebas di lapangan, di mana kepercayaan dirinya sangat penting bagi kemenangan 3-1 Brasil, sampai ia kemudian membawa Brasil ke semifinal melawan tuan rumah Chile,” lanjut Castro.


Meski menang 4-2, di mana Garrincha turut membukukan dua gol di antaranya, ia terkena kartu merah. Emosinya meledak saat membalas menendang bek Chile karena sepanjang laga ia dikasari dan diprovokasi. Setelah absennya Pelé, Brasil terancam tampil tanpa Garrincha di final kontra Cekoslovakia.


Garrincha dan Brasil bisa disebut beruntung. Mereka tak sendirian mengajukan banding ke Komisi Disiplin FIFA untuk mengizinkan Brasil memainkan Garrincha di final. Politik turut bermain. Para kepala negara Brasil, Peru, hingga tuan rumah Chile sampai ikut intervensi.


“Tanpa Garrincha, Brasil dalam bahaya ancaman kalah di final dari Cekoslovakia dan hanya sedikit orang yang ingin melihat sebuah negara sosialis memenangkan Piala Dunia. FIFA juga masih berutang terima kasih kepada Brasil karena bersedia jadi tuan rumah Piala 1950 sebelumnya, di mana kala itu FIFA nyaris gagal menggelar Piala Dunia pasca-Perang Dunia II,” lanjut Castro.


Maka pada voting jelang final, Komisi Disiplin FIFA mengabulkan permohonan banding Brasil. Alhasil, sambung Fiore, Garrincha tetap eksis di skuad utama Brasil menghadapi Cekoslovakia, kendati saat itu Garrincha juga tengah menderita demam sampai 104 fahrenheit atau 40 derajat celcius.


“Maka Brasil tampil di Piala Dunia ketiga mereka melawan Cekoslovakia (di final) dengan suporter Chile pun berada di belakang mereka. Meski tertinggal lebih dulu oleh gol (Josef) Masopust, Garrincha memimpin rekan-rekannya bangkit lewat gol penyama kedudukan Amarildo, gol sundulan Zito, dan kemudian gol Vavá yang memanfaatkan kemelut di area penalti. Brasil memenangkan trofi Jules Rimet untuk kedua kalinya dan mereka meraihnya tanpa Pelé,” tandas Fiore.












Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
The United States’ hydrogen bomb tests in the Eniwetok Atoll in the Pacific alarmed a member of the Indonesian House of Representatives, who urged the government to mobilize opposition on the international stage.
bg-gray.jpg
Jenderal Soedirman mendukung Persatuan Perjuangan yang digagas Tan Malaka. Namun, dia kemudian meninggalkan kawan sehaluan setelah terjadi peristiwa kudeta 3 Juli 1946.
bg-gray.jpg
Setelah Sutan Sjahrir dibebaskan, para pengikut Tan Malaka menyodorkan konsepsi untuk disetujui Sukarno. Hatta menyadari sedang terjadi kudeta.
bg-gray.jpg
Setelah diculik pengikut Tan Malaka, Sutan Sjahrir bikin perhitungan dengan penangkapan berantai. Adam Malik protes, Sayuti Melik pasrah digelandang ke bui.
Belanda bikin lembaga yang mengumpulkan informasi mengenai tanah jajahannya.
Belanda bikin lembaga yang mengumpulkan informasi mengenai tanah jajahannya.
Sebuah pameran yang tak semata untuk merespon kondisi kekinian, tapi juga untuk menghidupkan sekaligus mengabadikan Balai Budaya selaku tempat bersejarah dalam dunia seni-budaya bangsa.
Sebuah pameran yang tak semata untuk merespon kondisi kekinian, tapi juga untuk menghidupkan sekaligus mengabadikan Balai Budaya selaku tempat bersejarah dalam dunia seni-budaya bangsa.
Entah sejak kapan istilah logistik yang merujuk kepada ketersediaan duit itu mulai digunakan.
Entah sejak kapan istilah logistik yang merujuk kepada ketersediaan duit itu mulai digunakan.
Peristiwa Stonewall secara radikal mengubah persepsi tentang kaum homoseksual di Amerika dan di seluruh dunia.
Peristiwa Stonewall secara radikal mengubah persepsi tentang kaum homoseksual di Amerika dan di seluruh dunia.
Kisah prajurit pemberontak yang terjebak paradoks birokrasi militer. Disajikan lewat banyolan dan tragedi dalam enam episode.
Kisah prajurit pemberontak yang terjebak paradoks birokrasi militer. Disajikan lewat banyolan dan tragedi dalam enam episode.
Demi mendapat foto Presiden Sukarno dan Perdana Menteri Zhou Enlai, dua wartawan asal Amerika Serikat dan Tiongkok nyaris baku hantam.
Demi mendapat foto Presiden Sukarno dan Perdana Menteri Zhou Enlai, dua wartawan asal Amerika Serikat dan Tiongkok nyaris baku hantam.
transparant.png
bottom of page