- 1 hari yang lalu
- 6 menit membaca
MIMPI tuan rumah Amerika Serikat (AS) untuk melangkah lebih jauh di Piala Dunia 2026 kandas. Senasib dengan dua co-host lainnya, Kanada dan Meksiko, Timnas AS gugur di babak 16 besar. Kendati tetap memainkan bintangnya yang sempat diprotes banyak pihak karena sebelumnya terkena kartu merah, Folarin Balogun, AS tetap dipecundangi Belgia, 1-4.
Kala AS meladeni Bosnia-Herzegovina di babak 32 besar di San Francisco Bay Area Stadium, 2 Juli 2026 (WIB), Balogun dikartu merah di menit ke-62. Wasit Raphael Claus asal Brasil mengganjar striker yang berkarier di klub Prancis, AS Monaco, tersebut dengan kartu merah setelah menginjak engkel kanan bek Bosnia-Herzegovina Tarik Muharemović.
Dengan kemenangan 2-0 atas Bosnia, AS mestinya meladeni Belgia di perdelapan final –di Seattle Stadium, 7 Juli 2026 (WIB)– tanpa Balogun. Sebagaimana aturan kartu merah, si terhukum otomatis dilarang tampil di laga berikutnya. Namun, Presiden AS Donald Trump yang tak terima –menganggap kartu merah kepada Balogun tidak adil– langsung mengintervensi dengan menelepon Presiden FIFA Gianni Infantino.
“Yang saya hanya lakukan adalah meminta peninjauan ulang. Saya tidak bilang, Anda harus begini atau begitu. Orang ini pintar, tangguh, Gianni Infantino. Dia cerdas dan kepopulerannya melesat karena dia melakukan pekerjaan yang hebat. Saya merasa kami mesti memiliki semua pemain terbaik di lapangan,” aku sang presiden, dilansir ESPN, 6 Juni 2026.
“Duar!!” Pada 6 Juli 2026, Komite Disiplin FIFA mengeluarkan 13 poin putusannya, di mana larangan bermain Balogun ditunda dalam jangka waktu setahun dan memberikan ganjaran denda 40 ribu dolar AS (setara Rp724 juta) karena Balogun sempat kembali ke lapangan untuk selebrasi usai AS menyingkirkan Bosnia-Herzegovina.
Balogun tak dikenakan larangan bertanding otomatis sehingga tetap bisa tampil melawan Belgia. Fans sepakbola dan terutama federasi sepakbola Belgia RBFA pun berang.
“Saya tidak tahu kalau di FIFA 5 Juli (6 Juli WIB, red.) sama dengan 1 April (April Mop). Federasi tidak membela diri, bukan membela timnas, melainkan membela sepakbola secara umum. Mereka membela integritasnya, membela etikanya,” kata pelatih Belgia, Rudi Garcia, jelang laga kontra AS, dikutip The Guardian.
RBFA melayangkan protes namun ditolak FIFA. Badan sepakbola Eropa UEFA juga melayangkan kecaman. Menurut UEFA, keputusan FIFA “menjungkirbalikkan” keputusan kartu merah sudah melewati garis merah itu sendiri.
“Sepakbola, seperti juga olahraga lainnya, bersandarkan pada aturan-aturan yang jadi basis persaingan yang adil, jujur, dan transparan. Kadang ada aturan-aturan yang terbuka untuk diinterpretasikan. Dalam kasus (Balogun) ini harusnya tidak. Larangan satu laga terkait kartu merah bukan opsi diskresi,” ungkap UEFA di laman resminya, 6 Juli 2026.
Pelatih AS Mauricio Pochettino pun tak malu-malu memasang Balogun di starting line-up. Hasilnya tetap boncos. Hadirnya Balogun di lapangan percuma karena “karma” seolah dibayar instan setelah Belgia “mengajari” AS bermain bola hingga menyegel kemenangan 4-1.
“Putarbalikkan ini #USABEL,” tulis Timnas Belgia dalam takarirnya yang bernada ledekan di unggahan foto selebrasi Romelu Lukaku pada akun resminya, @belgianreddevils, 7 Juli 2026.
Membalikkan Kartu Merah Garrincha
Kasus langka yang mirip dengan kasus Balogun pernah terjadi pada Manuel Francisco dos Santos alias Garrincha pada enam dekade lampau. Ia bintang Brasil yang lahir dengan kelainan kaki: kaki kanannya lebih pendek dari kirinya, di mana kaki kirinya sedikit membengkok ke luar.
Brasil hadir di Piala Dunia 1962 di Chile sebagai juara bertahan berkat kecemerlangan Edson Arantes do Nascimento alias Pelé. Garrincha jadi tandem maut Pelé di skuad Seleção yang terundi di Grup 3 bersama Cekoslovakia (kini Czechia dan Slovakia), Meksiko, dan Spanyol.
Sayangnya memang Pelé sudah bermasalah dengan otot di bagian selangkangan ketika datang ke Chile dan ia merahasiakannya dari treinador Aymoré Moreira. Di laga perdana grup mereka kontra Meksiko, Pelé masih bisa tampil, memberikan satu assist dan mencetak sebutir gol dari kemenangan 2-0 Brasil. Sial kemudian di laga kedua grup kontra Cekoslovakia, Pelé mengalami nyeri tak terkira setelah otot selangkangannya tertarik saat melakukan tendangan jarak jauh.
“Kami tahu mereka mampu melakukan pertahanan marking yang bagus jadi kami berupaya melepaskan tembakan dari jarak jauh. Namun kemudian bencana datang setelah laga memasuki menit ke-25. Saya mendapat umpan dari Garrincha, melewati beberapa bek sebelum menyepak keras bola ke gawang yang terbentur tiang. Saat saya ingin menendang lagi, saya merasakan sesuatu di dalam diri saya dan saya tumbang, memegangi kaki sampai ke dada berharap sakitnya berkurang,” kenang Pelé dalam Pelé: The Autobiography.
Pun setelah didatangi tim medis, Pelé terpaksa masih tampil karena di masa itu belum ada aturan yang membolehkan pergantian pemain. Laga pun berakhir imbang 0-0 dan setelah itu Pelé harus “diparkir” di bangku cadangan.
Adalah Edvaldo Izidio Neto alias Vavá dan Garrincha yang akhirnya “menggendong” Brasil setelahnya. Mereka yang jadi andalan kala melewati Inggris (3-1) di perempatfinal dan tuan rumah Chile (4-2) di semifinal. Brasil kembali harus meladeni Cekoslovakia pada final di Estadio Nacional, 17 Juni 1962.
“Di semifinal melawan tuan rumah, Chile, ia mencetak dua gol spektakuler dalam kemenangan 4-2 yang membungkam suporter tuan rumah. Suratkabar Chile El Mercurio yang terkesima dengan permainannya sampai membuat tajuk muka keesokan harinya dengan kata-kata: ‘Dari planet mana Garrincha berasal?’,” tulis Elias Marlowe dalam Great Footballers: The Players Who Defined The Beautiful Game.

Meskipun penampilan Garrincha di semifinal itu turut tercoreng kartu merah. Segalanya berawal dari sepanjang laga, Garrincha terus-menerus dikasari dan diejek dengan kata-kata provokatif dari pemain Chile yang mengawalnya, Eladio Rojas.
“Kesan dirinya temperamental, bermain kotor, dan curang, semua itu tidaklah benar. Garrincha, pemain yang paling sering dilanggar, bukan pemain yang terbiasa merespon dengan kekerasan setiap serangan terhadapnya atau sering membalas si penyerang. Setiap kali pemain bertahan menjatuhkannya, ia akan bangun, tertawa, dan mengambil bola lagi untuk menggocek melewatinya,” tulis Ruy Castro dalam Garrincha: The Triumph and Tragedy of Brazil’s Forgotten Footballing Hero.
Garrincha berusaha menahan diri sampai akhirnya ia tak tahan lagi. Pada menit ke-84, Garrincha membalas dengan menghantam punggung Rojas dengan lututnya. Aksi itu tepergok hakim garis Esteban Marino asal Uruguay. Lantas sang hakim garis mengadukannya ke wasit Arturo Yamasaki asal Peru. Sang pengadil pun langsung mengganjarnya kartu merah.
Suporter tuan rumah sampai melemparinya dengan botol plastik atau bahkan petasan saat Garrincha keluar lapangan. Satu petasan mengenai pelipis dan melukainya sampai Garrincha menangis di ruang ganti.
“Ok, saya dikeluarkan namun sepanjang petang saya ditendang. Ada batas di mana manusia tetap harus jadi manusia. Ketika saya ditendang, saya membalas. Mungkin saya salah tetapi saya siap menghadapi semuanya,” sesal Garrincha kala itu, dikutip Irish Times, 5 Juni 2018.
Maka untuk laga final, Brasil pun kian terancam. Setelah Pelé cedera, kini Garrincha terbelit hukuman kartu merah. Federasi Brasil segera mengajukan banding ke FIFA yang didukung surat dari Perdana Menteri Brasil, Tancredo Neves.
Rupanya mereka tak sendiri. Meskipun negerinya dikalahkan Brasil, Presiden Chile kala itu, Jorge Alessandri, turut intervensi. Begitupun dengan Presiden Peru, Manuel Prado Ugarteche. Upaya-upaya politis itu diambil hanya demi Cekoslovakia yang negeri Blok Timur di era Perang Dingin tersebut tak jadi jawara Piala Dunia.
“Mozart Di Giorgio, tokoh Brasil di dewan pimpinan FIFA sampai mengusir sang hakim garis lebih dulu dari Chile. Presiden Peru, Manuel Prado y Ugarteche, mengontak Duta Besar Peru di Chile untuk meminta wasit (Yamasaki) untuk tidak memberatkan Garrincha dalam laporannya,” sambung Castro.
Sehari pasca-pertandingan Brasil vs. Chile, FIFA menggelar sidang dengar pendapat di antara tujuh anggota Komite Disiplinnya berdasarkan laporan wasit. Saat mereka menghelat sidangnya, Presiden Alessandri juga turut menggalang petisi kepada FIFA agar Garrincha boleh dimainkan dalam laga final.
“Mungkin semua upaya mereka itu sangat diperlukan. Tanpa Garrincha, Brasil dalam bahaya ancaman kalah di final dari Cekoslovakia dan pada 1962, hanya sedikit orang yang ingin melihat sebuah negara sosialis memenangkan Piala Dunia. Sebagai tambahan, FIFA masih berutang terima kasih kepada Brasil karena bersedia jadi tuan rumah Piala 1950 sebelumnya, di mana kala itu FIFA nyaris gagal menggelar Piala Dunia pasca-Perang Dunia II,” tambahnya.
FIFA tentu tak tutup mata soal politik di masa itu dan juga “utang budi” mereka terhadap Brasil. Komite Disiplin FIFA pun menengok kesaksian tertulis wasit Yamasaki, bahwa ia tak melihat sendiri pelanggaran oleh Garrincha. Pun dengan kesaksian tertulis hakim garis Marino – sebelum diusir dari Chile – yang menyatakan dugaan pelanggaran Garrincha adalah reaksi umum karena kerap dikasari.
“Dari pengambilan keputusan voting oleh tujuh anggota Komite Disiplin FIFA, dua menetapkan Garrincha bersalah namun lima lainnya mengabulkan permohonan Garrincha yang diwakili pengacara Mord Maduro. Luis Murgel, wakil CBD (kini CBF atau federasi sepakbola Brasil), mendasarkan pembelaannya pada fakta bahwa Garrincha tak pernah diganjar kartu merah sebelumnya,” lanjut Castro.
Alhasil, hukuman kartu merah Garrincha dibatalkan dan ia tetap bisa bermain di final kontra Cekoslovakia. Di partai puncak itu, Garrincha memang tak menyumbangkan golnya. Akan tetapi permainannya yang mengacak-acak pertahanan Cekoslovakia turut berjasa membuat Amarildo da Silveira, Joséy Ely de Miranda alias Zito, dan Vavá masing-masing mencetak gol untuk kemenangan 3-1 Brasil atas Cekoslovakia.
“Skuad kembali ke Brasil dan diundang presiden untuk audiensi. Lantas di Rio (de Janeiro) digelar parade kemenangan di atas truk pemadam kebakaran. Seorang suporter memanjat ke atas truk dan memberikan Garrincha sekantung permen seberat dua batu (setara 12 kg),” tandasnya.



















Komentar