- 1 hari yang lalu
- 6 menit membaca
MITOS Jerman jagonya adu penalti rupanya hanya bertahan setengah abad. Kemarin, cap jago penalti itu luntur kala Jerman gugur oleh Paraguay lewat adu penalti di babak 32 besar Piala Dunia 2026.
Sebelumnya, Jerman selalu jadi momok di berbagai turnamen seperti Piala Eropa dan Piala Dunia jika sudah urusan adu penalti. Terakhir kali Jerman menangis dalam adu penalti terjadi 50 tahun lalu di final Piala Eropa 1976, tempat bintang legendaris Cekoslovakia Antonín Panenka pertamakali memperkenalkan “Tendangan Panenka”.
Anggapan bahwa adu penalti hanya bergantung pada keberuntungan, tidak berlaku buat Jerman. Tim berjuluk Der Panzer itu punya antitesisnya yang bernama mentalitas.
Jerman hampir selalu memberi pengalaman pahit buat Inggris jika berurusan dengan adu penalti. Di Piala Dunia 1990, The Three Lions tersingkir lewat adu penalti (3-4) di semifinal. Pun mimpi Inggris merebut mahkota Eropa saat jadi tuan rumah Piala Eropa 1996, juga buyar usai kalah adu penalti (5-6) di semifinal.
“Sepakbola itu permainan yang sederhana. Dua puluh dua orang mengejar sebuah bola selama 90 menit dan pada akhirnya, orang-orang Jerman yang menang,” kata Gary Lineker, striker legendaris Inggris dengan 80 caps (1984-1992), dikutip Charles Parrish dan John Nauright dalam Soccer Around the World: A Cultural Guide to the World’s Favorite Sport.
Di Piala Dunia 2026 yang sudah memasuki paruh kedua, beberapa tim sudah rontok lantaran kalah adu penalti. Selain Jerman, ada Belanda yang menelan pil pahit kekalahan 2-3 dalam adu penalti lawan Maroko. Keduanya imbang 1-1 di dua babak normal dan dua waktu tambahan.
Tim manapun sadar bahwa pertaruhan di babak gugur selalu lebih besar dan drama adu penalti hampir selalu jadi risiko yang tak terhindarkan. Keberuntungan dan mentalitas memainkan peran amat besar, baik bagi si algojo penalti maupun pengawal mistarnya.
Satu dari tim tuan rumah, Amerika Serikat (AS), sadar risiko itu bisa mereka dapati. Tentu mereka berusaha mempersiapkan diri jelang laga kontra Bosnia-Herzegovina, kendati sepanjang sejarahnya di Piala Dunia, AS tak pernah punya pengalaman adu penalti.
“Maju dan mengambil tendangan penalti, itu hal yang sangat sulit dilakukan. Butuh nyali besar dan tidak mudah bagi yang melakukan tendangan penalti. Para kiper juga setiap tahun tampil lebih baik. Hanya mereka yang merasa paling percaya diri akan melakukannya. Tentu ada pula yang tak merasa percaya diri. Saya sendiri akan mengumpulkan nyali, tim kami juga pemberani dan saya merasa mereka akan siap,” cetus gelandang AS Christian Pulisic, dikutip The Guardian, 1 Juli 2026.

Adu Penalti dari Masa Lalu
Kata “Penalti” berasal dari bahasa latin Poena yang artinya rasa sakit hukuman. Di lapangan hijau, tendangan penalti dari titik putih 12 pas (bertolak dari jarak 12 yard [10,97 meter] dari garis gawang) diberikan wasit saat terjadi pelanggaran –akibat tekel ataupun handball– di area kotak penalti. Aturannya sudah dibakukan International Football Association Board (IFAB) sejak 1891.
Meski begitu, case adu penalti baru resmi dibakukan IFAB dan diberlakukan federasi sepakbola dunia FIFA serta konfederasi-konfederasi di bawahnya 56 tahun lampau. Maka sebelum 1970, jika sebuah laga di suatu babak gugur berakhir imbang selama 90 menit, penentuan pemenangnya dicari dari babak perpanjangan waktu. Jika masih imbang juga, lazimnya diberlakukan lagi pertandingan ulang atau malah mengundi lewat lempar koin.
Semenjak 1877 ketika aturan baku sepakbola modern sama-sama disepakati banyak pihak sampai 1970, adu penalti belum jadi aturan resmi dalam menentukan pemenang sebuah pertandingan dengan skor imbang. Kala itu, ada macam-macam cara untuk menentukan tim pemenang.
Kejadian unik terjadi pada awal 1920-an. Terdapat beberapa laga amal di Inggris dan Irlandia yang berkesudahan imbang. Kemenangannya lalu ditentukan dari tim yang mengumpulkan lebih banyak tendangan sudut.
“Keindahan menggunakan tendangan sudut sebagai pemecah kebuntuan (pemenang) adalah karena tendangan sudut adalah bagian integral dari permainan, bukan sebuah tambahan pelengkap. Tendangan sudut didapatkan semenjak permainan dimulai – dan hampir tak pernah terdengar ada sebuah pertandingan tanpa tendangan sudut,” tulis Paul Gardner dalam Soccer Talk: Life Under the Spell of the Round Ball.

IFAB pun merespons. Pasca-rapat umumnya di Irlandia Utara pada 9 Juni 1023, IFAB mengeluarkan sejumlah aturan baku yang diberlakukan mulai musim 1923-1924. Salah satunya –atas masukan Football Association (FA) atau federasi sepakbola Inggris, soal pemecah kebuntuan pemenang tetap harus melalui sebuah gol. Alhasil, menjadi umum bahwa jika sebuah laga di babak gugur berakhir imbang lewat dua kali waktu normal dan dua kali babak tambahan, pemenangnya ditentukan lewat pertandingan ulang.
“Sebuah pertandingan harus dimenangkan oleh tim yang mencetak lebih banyak gol. Jika tak terjadi gol atau skornya imbang di akhir pertandingan, maka permainannya harus (ditetapkan) imbang,” demikian aturan IFAB di Statuta 1923 pasal 4, dikutip Frederick Norman Smith Creek, pesepakbola cum penulis olahraga, dalam Modern Sports: Association Football.
Namun, beberapa negara menerapkan adu pinalti dalam turnamen-turnamen lokal mereka. Catatan pertama terjadi di turnamen intra-klub Yugoslavia, Kup Maršala Tita (Piala Marsekal Tito) 1952. Di salah laga babak 32 besar antara Kvarner Rijeka (kini NHK Rijeka) kontra Proleter Osijek (kini NK Osijek) pada 23 Agustus 1952, hasil imbang tanpa gol bertahan dalam dua kali waktu normal dan dua kali waktu tambahan. Pemenangnya pun ditentukan lewat adu penalti, yang dimenangkan Rijeka (4-3).
Italia pun mengikutinya. Pada gelaran Coppa Italia musim 1958/1959, terjadi hal serupa di laga putaran babak pertama yang mempertemukan Mestrina (kini AC Mestre) kontra Treviso. Setelah terjadi laga ulang yang berakhir 2-2, penentu kemenangannya diambil lewat adu penalti, yang dimenangkan Treviso (5-4).
Di turnamen klub antar-negara, adu penalti pernah terjadi di laga perdana Uhrencup 1962 di Swiss yang diikuti empat tim: dua tim Swiss –FC Grenchen dan FC Biel-Bienne, AC Como (kini Como 1907) dari Italia, dan Royal Brugeois (kini Cercle Brugge KSV). Kurt Weissbrodt selaku inisitor turnamen mengusulkan babak adu penalti langsung tanpa babak tambahan lebih dulu jika terdapat hasil imbang dalam 90 menit. Adu penalti itu terjadi pada laga AC Como kontra Royal Brugeois pada 16 Agustus 1962 yang berkesudahan 2-2 di waktu normal.
“Wasit Huber tak menjalani tugas yang mudah dalam pertandingan ke-500 yang dipimpinnya. Dua tim profesional dari Belgia dan Italia, Brugeois dan Como, tampil baik dengan kualitas tinggi. Setelah hasil imbang 2-2, Brugeois mengalahkan Como (11-10, red.) dalam adu penalti,” tulis harian Grenchner Tagblatt edisi 17 Agustus 1962.
Dalam turnamen Trofeo Ramón de Carranza 1962, juga diadakan adu penalti. Turnamen itu mempertemukan empat klub dari tiga negara: FC Barcelona dan Real Zaragoza (Spanyol), San Lorenzo (Argentina), dan Inter Milan (Italia). Adu penaltinya terjadi di partai final di Estadio Ramón de Carranza, 2 September 1962 yang mempertemukan tuan rumah Real Zaragoza kontra Barcelona. Setelah hasil imbang 1-1 bertahan sampai 90 menit waktu normal dan dua kali babak tambahan, Barcelona keluar sebagai juara usai menang adu penalti 5-3.
“Panitia turnamen meminta usulan dari (jurnalis Rafael) Ballester untuk solusi jika terjadi hasil imbang karena pertandingan ulang tidak memungkinkan. Ballester menyarankan adu penalti. Maka pada 2 September 1962, Barcelona dan Zaragoza dengan skor imbang, semua menyetujui adu penalti yang hanya akan dilakukan masing-masing tim lima kali, saat itu belum ada rencana lain jika adu penaltinya juga berakhir imbang. Setelah turnamen itu, otoritas (sepakbola) Spanyol belum meneruskan dan mengembangkan ide itu lebih jauh,” tulis Ben Lyttleton dalam Twelve Yards.

UEFA pun belum menerapkannya. Pada laga semifinal Piala Eropa 1968 di Stadio San Paolo (kini Stadio Diego Armando Maradona), 5 Juni 1968, yang mempertemukan tuan rumah Italia melawan Uni Soviet, skor “kacamata” bertahan sampai dua kali waktu tambahan. Pemenangnya ditentukan lewat lempar koin.
“Saya mendatangi kapten Rusia (Albert Shesternyov). Kami bersama-sama menuju ruang ganti, ditemani dua ofisial dari kedua tim. Wasit (Kurt Tschenscher) mengeluarkan sekeping koin lama dan saya memilih (sisi) buntut. Itu keputusan yang tepat dan Italia melaju ke final. Saya berlari ke lapangan dan selebrasi saya memicu gemuruh 70 ribu fans,” kenang kapten Italia Giacinto Facchetti, dikutip laman resmi UEFA, 2 Oktober 2003.
Italia melaju ke final melawan Yugoslavia. Di partai final yang dihelat pada 8 Juni, juga berakhir imbang 1-1. Pemenangnya tak lagi ditentukan lewat lempar koin, tapi lewat pertandingan ulang pada 10 Juni yang lantas dimenangkan Italia, 2-0.
Di tahun yang sama, beberapa tokoh sepakbola mulai memikirkan soal konsep adu penalti. Salah satunya wasit Jerman Karl Wald. Selain berkaca dari final Euro 1968, kasus yang sama juga terjadi di perempatfinal cabang sepakbola Olimpiade 1968 di Meksiko, di mana kesebelasan Bulgaria dan Israel bermain imbang. Setelah diadakan lempar koin, Bulgaria lebih hoki hingga melaju ke semifinal.
Anggota komite wasit federasi Malaysia, Koe Ewe Teik, juga menyuarakan hal serupa kepada FIFA. FIFA akhirnya mengajukan usulannya ke IFAB untuk dibahas pada 20 Februari 1970. Dalam rapat umum tahunan IFAB tanggal 27 Juni 1970, usul format modern adu penalti seperti saat ini diterima dan diberlakukan. Case pertama setelah pemberlakuannya terjadi di Inggris, di semifinal Watney Cup pada 5 Agustus 1970 yang mempertemukan Hull City vs. Manchester United. Setelah 90 menit dan dua kali babak tambahan, Manchester United menang 4-3 lewat adu penalti.



















Komentar