- 1 jam yang lalu
- 8 menit membaca
SITI Soendari, sahabat kental Maria sejak muda, tak pernah bisa memahami bagaimana perasaan Maria terhadap pria. Dalam soal hubungannya dengan pria, Maria lebih suka memendam dalam-dalam perasaannya. Berbeda dengan Soendari yang kerap mengharu biru dalam urusan cinta, Maria lebih banyak memfokuskan perhatian pada studinya. “Tak pernah saya melihat dia menangis, tak pernah kita tukar-menukar kisah-kisah pengalaman pribadi, sebagaimana layaknya antara dua pemudi yang begitu akrab pergaulannya,” ungkap Soendari kepada Gadis Rasid mengenai Maria.
Seperti diakuinya kepada Gadis Rasid, selama kuliah di negeri Belanda, Maria merasa belum siap untuk menangani masalah-masalah cinta. “Maka sekembalinya di Indonesia perhatian pada kaum pria mulai terbuka,” tulis Gadis Rasid. Di antara sekian banyak kawan seperjuangannya dan pengagum Maria Ullfah ada tiga orang yang paling akrab dengannya dan mempunyai minat lebih dari sekadar persahabatan sesama pejuang. Mereka adalah Adnan Kapau Gani, Hindromartono, dan Santoso Wirodihardjo.
Adnan Kapau Gani, kata Maria, “Seorang pemuda ganteng, yang pernah jadi bintang film, adalah orang yang paling flamboyan.” Kepada Gadis Rasid, Maria melanjutkan gambarannya tentang Gani, “Tingkah lakunya agak ugal-ugalan, dan sikapnya terus terang, tanpa basa-basi.” Dia begitu yakin akan berhasil merebut hati Maria, sehingga pada suatu hari dia datang ke Kuningan untuk berlebaran dengan keluarga Bupati Mohammad Achmad. Secara halus Maria menjelaskan tentang perasaannya yang biasa saja kepada Gani. Pada zaman revolusi, Gani menjabat sebagai Gubernur Militer Sumatra Selatan, Menteri Ekonomi Kabinet Sjahrir III, dan Wakil Perdana Menteri Kabinet Amir Sjarifuddin.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















