- 1 hari yang lalu
- 3 menit membaca
SETELAH peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965, operasi penumpasan orang-orang yang terafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) berlangsung secara maraton. Baik tentara, aktivis mahasiswa, maupun organisasi massa dikerahkan untuk memburu orang PKI. Dari kota ke kota hingga seluruh Jawa, orang PKI dikejar, ditangkap, dan tak sedikit yang dieksekusi.
Meski orang PKI diganyang nyaris tanpa perlawanan, tetap saja butuh waktu dan tenaga. Kadang-kadang pasukan yang bertugas mengganyang PKI merasa lelah dan butuh hiburan. Untuk itulah, Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad) menggandeng artis dan seniman. Mereka tergabung dalam Badan Kerja Sama (BKS) Seniman–Kostrad.
“Ketika itu walau saya masih tergolong muda di antara yang lainnya, tapi saya dapat menghibur bapak-bapak ABRI, KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia), dan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia). Bersama Band BKS Kostrad di tahun ‘68, ‘69, dan ‘70 dulu, saya pernah keliling Jawa menghibur ABRI,” kenang Irni Yusnita dalam Berita Yudha, 20 Maret 1983.
Irni Yusnita dikenal sebagai penyanyi lagu-lagu pop, dangdut, dan Minang. Wanita kelahiran 1955 itu memulai kariernya sebagai penyanyi cilik dalam Band BKS Seniman–Kostrad. Selain Irni, seniman senior yang bergabung adalah Maya Sopha (penyanyi), Bambang Siswanto (pelawak), Neneng Salmiah (penyanyi), dan Lies Saodah (penyanyi dangdut).
Kostrad merupakan satuan komando tempur Angkatan Darat yang sebelumnya bernama Caduad (Cadangan Umum Angkatan Darat). Jenderal TNI Soeharto menjadi panglima Kostrad pertama, yang memimpin penumpasan PKI setelah diangkat menjadi Panglima Angkatan Darat. Dalam menggalang dukungan masyarakat, Kostrad membentuk berbagai BKS.
Melalui BKS–Kostrad, seperti disebut tim penulis Lembaga Analis Informasi (LAI) dalam Kontroversi Supersemar dalam Transisi Kekuasaan Soekarno-Soeharto, Soeharto dapat menggalang kekuatan sosial militer dan sipil yang menguntungkannya dalam operasi penumpasan PKI.
Selain itu, kehadiran BKS Kostrad di tengah masyarakat memoles citra Soeharto jauh lebih unggul daripada Jenderal TNI Abdul Haris Nasution. Setelah G30S, Soeharto terlibat persaingan terselubung dengan Nasution yang menjabat ketua MPRS, terkait suksesi pengganti Presiden Sukarno.
“Soeharto lebih pandai mencari hal-hal yang menguntungkan dirinya. Misalnya dalam soal G30S PKI, namanya jauh lebih baik dari Nasution. Dan juga penggalangannya kepada BKS-BKS melalui BKS–Kostrad, militer dan sipil maupun penggalangan kekuatan sosial Soeharto jauh lebih unggul daripada Nasution,” catat tim penulis LAI.
Tak hanya tentara, BKS Seniman–Kostrad juga menghibur aktivis mahasiswa dan ormas anti-PKI. Tata Ahmad Subrata Wiriamihardja, aktivis mahasiswa Angkatan ‘66 dari Universitas Tarumanegara, mengenang saat dia dan rekan-rekan mahasiswa dihibur oleh artis-artis ibu kota yang tergabung dalam BKS Kostrad. Para artis dan seniman ini menjalankan tugasnya di tiap-tiap pos penjagaan atau markas-markas mahasiswa.
“Mereka yang pernah menghibur kami tak pernah kami lupakan, antara lain Band Arulan, Dara Puspita, Titiek Puspa, Sitompul Sisters, Lilis Suryani, Neneng Salamiah, Tuty Athem, Henny Purwonegoro, Rita & Nita, grup seni dari Lesbumi dan HSNI pimpinan Sampan Hismanto. Mereka telah berjuang dengan cara dan apa yang mereka dapat sumbangkan untuk perjuangan Ampera,” kata Tata dalam Peran Serta Mahasiswa Universitas Tarumenagara dalam Perjuangan Orde Baru.
Sementara itu, Maya Sopha, penyanyi bersuara merdu asal Ambon, termasuk seniman yang ikut BKS Kostrad tur keliling pulau Jawa. Dia bertugas menghibur para prajurit, pemuda-pemudi, dan ormas anti-PKI. Usai bertugas menjadi seniman BKS Kostrad, Maya kemudian menjadi penyanyi di klub malam Tropicana yang terkenal.
“Untuk menghibur kesatuan yang menumpas habis G30S/PKI itu, kami dengan spontan dan tanpa pamrih melakukan hiburan mulai dari jam malam berlaku sampai jam malam dicabut,” tutur Maya Sopha dalam Berita Yudha, 27 Maret 1983.
Memasuki tahun 1970, operasi penumpasan PKI berada di pengujung. Kegiatan seniman dalam BKS Kostrad pun mulai ditinggalkan. BKS Seniman–Kostrad kemudian bersalin nama menjadi Yayasan Dharma Artis Indonesia.
Menurut majalah Yudhagama, No. 21, Th. VI, 31 Maret 1985, Yayasan Dharma Artis Indonesia beranggotakan 600 orang seniman dari generasi baru. Mereka aktif dalam kegiatan kesenian tradisional, artis film, kesenian, peragawati, dan seni lawak. Namun, pimpinan dalam Yayasan Artis Indonesia sebagian besar jebolan BKS–Kostrad era 1960-an, seperti Lym Campay, Neneng Salmiah, dan Wirdaningsih.
Pada paruh kedua 1980, jumlah anggota Yayasan Dharma Artis Indonesia diperkirakan lebih dari 1000 seniman yang dikerahkan untuk mendukung program pemerintah Orde Baru di bawah Presiden Soeharto. Kampanye pembangunan tersebut biasanya disemarakkan dengan panggung hiburan.
Artis dan seniman tak lagi digunakan untuk propaganda anti-PKI. Mereka menjadi penghibur untuk menyukseskan program Keluarga Berencana, kampanye antinarkotika, tertib berlalu lintas, dan lingkungan, serta program pemerintah lainnya.*



















Komentar