- 4 Jul
- 3 menit membaca
SETELAH peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965, operasi penumpasan orang-orang yang terafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) berlangsung secara maraton. Baik tentara, aktivis mahasiswa, maupun organisasi massa dikerahkan untuk memburu orang PKI. Dari kota ke kota hingga seluruh Jawa, orang PKI dikejar, ditangkap, dan tak sedikit yang dieksekusi.
Meski orang PKI diganyang nyaris tanpa perlawanan, tetap saja butuh waktu dan tenaga. Kadang-kadang pasukan yang bertugas mengganyang PKI merasa lelah dan butuh hiburan. Untuk itulah, Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad) menggandeng artis dan seniman. Mereka tergabung dalam Badan Kerja Sama (BKS) Seniman–Kostrad.
“Ketika itu walau saya masih tergolong muda di antara yang lainnya, tapi saya dapat menghibur bapak-bapak ABRI, KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia), dan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia). Bersama Band BKS Kostrad di tahun ‘68, ‘69, dan ‘70 dulu, saya pernah keliling Jawa menghibur ABRI,” kenang Irni Yusnita dalam Berita Yudha, 20 Maret 1983.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















