top of page

Sepakbola Iran di Antara Senjata dan Minyak

Iran mengenal sepakbola lewat senjata dan industri minyak. Sejak 1920-an sudah ada pemain Iran di Eropa. Kini langganan tampil Piala Dunia.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 1 jam yang lalu
  • 6 menit membaca

KENDATI sarat kontroversi, Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko kini sudah melewati separuh turnamen. Ketimbang Meksiko dan Kanada sebagai co-host, AS paling problematik. Alhasil, timnas Iran jadi satu dari 48 peserta yang paling terzalimi.


Sederet kontroversi sudah tercipta menjelang turnamennya. Banyak suporter dari negara-negara peserta dilarang masuk wilayah AS dengan tak diberikan visa, mulai dari Iran, Pantai Gading, Senegal, hingga Haiti. Bahkan wasit resmi FIFA asal Somalia yang harusnya ikut tampil jadi pengadil, Omar Abdulkadir Artan, ditolak masuk. Beberapa tim peserta seperti Uruguay, Senegal, Uzbekistan, dan Irak harus menjalani pengecekan keamanan lebih ketat ketimbang tim-tim lain, sampai isi bagasi mereka diperiksa.


Sebulan pasca-negerinya dikeroyok oleh AS dan Israel yang menewaskan banyak pejabat tinggi Iran –termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei– serta 168 siswi sekolah di Minab, federasi sepakbola Iran pada Maret 2026 mempertimbangkan untuk mundur dari Piala Dunia 2026. Sebulan kemudian, permintaan Iran untuk merelokasi venue pertandingan mereka ke Kanada atau Meksiko ditolak FIFA.


“Team Melli” (julukan Iran) akhirnya berangkat. Namun pemerintahan AS menolak timnas Iran berbasis di wilayahnya. Mehdi Taremi cs. terpaksa mengalihkan homebase mereka ke Tijuana, Meksiko –beruntung publik Meksiko ramah dan menyambut mereka bak saudara. Pemerintah AS akhirnya memberikan izin hanya kepada tim pelatih dan skuad untuk keluar-masuk wilayah AS selama sehari hanya untuk pertandingan. Setelah bertanding, Iran diwajibkan langsung kembali ke Tijuana tanpa waktu istirahat.


Dalam undian babak penyisihan, timnas Iran tergabung di Grup G bersama Mesir, Belgia, dan Selandia Baru. Ketiga pertandingan semuanya terjadwal di AS. Dua kali di SoFi Stadium, Los Angeles –melawan Selandia Baru (15 Juni 2026) dan Belgia (21 Juni 2026)– dan satu laga kontra Mesir di Lumen Field, Seattle (26 Juni 2026).


Kendati terzalimi, tim Iran pantang menyerah. Sampai tulisan ini diturunkan, Iran bersama Mesir sudah memastikan diri lolos ke babak 32 besar yang juga bakal digelar di negeri “Paman Sam”. Capaian itu didapat dari hasil imbang 2-2 kontra Selandia Baru dan seri 0-0 kala meladeni Belgia.


Suntikan moril Presiden FIFA Gianni Infantino yang mendatangi ruang ganti Iran pascalaga pertama tetap tak meringankan beban Iran. Selain kesulitan mengatur segala hal lantaran staf dan ofisial selain tim pelatih dan pemain dilarang masuk AS, tim Iran harus kembali langsung bolak-balik pasca-pertandingan kontra Belgia di hari yang sama.


Keringanan baru datang belakangan. Departemen Keamanan Domestik AS, DHS, pada Selasa (23/6/2026) mengkonfirmasi bahwa tim Iran akan diperbolehkan masuk ke AS H-2 menjelang laga kontra Mesir di Seattle. Namun, tim Iran harus langsung meninggalkan wilayah AS di malam yang sama setelah laga.


“Kami tim paling tertindas dalam sejarah Piala Dunia. Saya bertanya kepada 47 pelatih lain (dari negara peserta) dan tak satupun dari mereka merespon saya. Kami di sini untuk sepakbola, bukan politik. Yang kami resahkan adalah cara mereka terhadap kami. Saya tak pernah mendengar apapun dari para pelatih lain, meski saya juga paham mereka sibuk mempersiapkan tim masing-masing dan kami tak mengharapkan mereka bereaksi. Namun jika saya melihat tim lain diperlakukan seperti kami, saya pasti akan mengatakan sesuatu,” ujar pelatih timnas Iran, Amir Ghalenoi, dikutip Mirror, 21 Juni 2026.


Presiden FIFA Gianni Infantino (kanan) saat menemui salah satu pemain Iran, Alireza Jahanbakhsh. (fifa.com).
Presiden FIFA Gianni Infantino (kanan) saat menemui salah satu pemain Iran, Alireza Jahanbakhsh. (fifa.com).

Diperkenalkan Ekspatriat hingga jadi langganan Piala Dunia

Sebagaimana umumnya bangsa koloni, orang-orang Persia (kini Iran) juga mengenal sepakbola dan olahraga-olahraga modern lain dari para pendatang Barat. Para pendatang asal Inggris –merupakan penguasa wilayah selatan yang kaya minyak, sedangkan Rusia di utara– yang datang memperkenalkan permainan itu pada pertengahan abad ke-19 semasa Persia di bawah Dinasti Qajar.


Dalam artikelnya di buku Fringe Nation in World Soccer, “The Politics of Football in Iran”, pakar hubungan internasional dan sejarawan Boston University Houchang Esfandiar Chehabi mengemukakan, olahraga-olahraga Barat mulai diperkenalkan lewat sekolah-sekolah modern. Salah satunya di sekolah modern Dar al-Funun di Tehran mulai 1851 oleh para perwira Eropa yang diperbantukan sebagai staf pengajar di setiap pelajaran jasmani untuk para pelajar Iran.


“Seperti juga beberapa inovasi kultural, olahraga fisik modern juga mencapai Iran melalui militer. Beberapa metode digunakan: Seorang perwira yang dididik militer Jerman bernama Geranmayeh, mengajarkan senam ala Friedrich Ludwig Jahn di akademi militer Madraseh-ye Nezam; di Gendarmerie para opsir Swedia mengajarkan metode (pendidikan jasmani Swedia) ala Pehr Henrik Ling; dan di sekolah Brigade Kazaki senam Rusia juga diajarkan,” tulis Chehabi.


Sepakbola ikut jadi olahraga yang diperkenalkan. Chehabi menemukan catatan pertama sebuah pertandingan dimainkan oleh tim berisi orang-orang Armenia melawan tim ekspatriat Inggris di Isfahan pada 1898.


“Putra gubernur provinsi saat itu, Zell al-Soltan, turut menyaksikan dan bahkan ikut serta dalam permainannya, di mana ternyata ia lebih menyukainya ketimbang kriket. Namun sejauh yang kita ketahui, kenyataannya sepakbola diperkenalkan kepada orang-orang Iran melalui tiga jalur modernisasi: sekolah-sekolah misionaris, industri minyak, dan militer,” tambahnya.


Di sekolah-sekolah misi, semua olahraga Barat dimasukkan ke dalam kurikulum ketika Iran sudah berganti penguasa dari Dinasti Qajar ke Dinasti Pahlavi.


Sementara kaum muda elite Iran mengenal sepakbola dari sekolah-sekolah modern maupun sekolah-sekolah misi, masyarakat kelas menengahnya mengenal sepakbola dari para ekspatriat Inggris yang bekerja di kedutaan, Imperial Bank of Persia, sebuah perusahaan telegraf Indo-Eropa, atau Anglo-Persian Oil Company (kini pecah jadi perusahaan nasional NIOC dan British Petroleum/BP).


“Faktanya di situs (ladang minyak) Masjed Soleyman, sebuah liga dibentuk (oleh Duta Besar Inggris di Tehran Cecil Spring Rice) dan pertandingan tahunan antara para pekerja Inggris dan Skotlandia digelar, sedangkan para pekerja Iran secara bertahap mulai ikut untuk menggantikan para pemain Inggris di tim-tim mereka sebelum akhirnya melahirkan tim mereka sendiri,” ungkap Ben Weinberg dalam Asia and the Future of Football: The Role of the Asian Football Confederation.


Dalam perjalanannya, faktor kultural jadi batu kerikil. Beberapa pemuda Iran yang ikut bermain dengan para ekspatriat Eropa maupun di sekolah-sekolah mengalami persekusi.


“Para pemain muda Iran mengalami beberapa persekusi dari lingkungan sosial mereka karena ikut serta dalam permainan ‘orang-orang kafir’ dan terdapat beberapa cerita mereka dipukuli dan dilempari batu. Salah satu alasannya karena mereka mengenakan celana pendek yang melanggar norma-norma berpakaian tradisional, khususnya dalam syariat, para laki-laki diwajibkan menutup aurat di kaki dari mata kaki sampai lutut,” sambung Chehabi.


Skuad Tehran XI yang tur ke Baku pada 1926. (Wikimedia Commons).
Skuad Tehran XI yang tur ke Baku pada 1926. (Wikimedia Commons).

Perang Dunia I (1914-1918) juga membuat sepakbola terhenti, namun terbatas di kalangan sipil. Di ranah militer, para perwira Inggris di unit bentukan khusus untuk rekrutan Iran pada 1916, South Persia Rifles, justru mewajibkan para serdadu Iran memainkan sepakbola sebagai bagian dari rutinitas olah fisik. Para serdadu inilah yang kemudian menyebarkannya ke penduduk lokal di Yazd, Isfahan, Shiraz, Kerman, dan Bandar-Abbas yang jadi basis-basis mereka di Iran Selatan.


“Saat Reza Khan resmi menjadi Shah pada 1925, sepakbola jadi salah satu program westernisasi. Makin banyak sekolah juga menyebarluaskan sepakbola. Orang-orang setempat mulai ikut serta sampai tim-tim lokal mulai tumbuh, di antaranya Iran Club, Tehran Club, dan Tofan FC,” tulis Stuart dan Philip Laycock dalam How Britain Brought Football to the World.


Atas prakarsa Imperial Bank of Persia, federasi sepakbola didirikan pada 1920 dengan nama Majma-i-Football-i Iran. James McMurray sang direktur bank jadi presiden federasinya.


Federasi lalu menggelar turnamen-turnamen mulai 1923. Salah satu yang bergengsi: Tehran Association Cup.


Iran pun tumbuh jadi negeri sepakbola yang lebih maju dibanding negara-negara Asia lain kala itu. Tak hanya berkat ekspatriat namun juga tokoh-tokoh lokalnya. Salah satunya Amir Hosseini Sadaghiani.


Sadaghiani jadi pemain Iran pertama yang “go abroad” karena pernah direkrut tim muda Fenerbahçe, Turki (1920-1923) dan Rapid Vienna (1923-1924), Austria. Sekembalinya ke Iran, ia bersama beberapa rekannya pada 1924 mendirikan klub Ferdowsi Club.


Pada 1929, Sadaghiani mendapat kesempatan studi ke Belgia. Maka sembari kuliah, Sadaghiani menerima pinangan tim divisi dua Belgia CS Marchienne-Monceau (kini Olympique Charleroi, 1929-1936), lalu RS Charleroi (kini Sporting Charleroi), Moignelée, dan RC Péruwelz. Ia kembali ke Iran pada 1937.


Sadaghiani lalu empat kali dipanggil timnas pendahulu Iran yang baru dibentuk pada 1926, Tehran IX. Tim tersebut beberapa kali tur internasional ke Baku, Azerbaijan pada 1926 dan 1929.


Pasca-Perang Dunia II (1939-1945), federasi sepakbola Iran direorganisasi menjadi Iranian Football Association pada 1948 dan bergabung ke FIFA di tahun yang sama, namun baru masuk Asian Football Confederation pada 1954.


Pada 1970-an, timnas Iran mulai menguasai Asia. Mereka sampai tiga kali berturut-turut jadi jawara Piala Asia (1968, 1972, dan 1976).


“Yang membantu perkembangan sepakbola Iran adalah pelatih asal Irlandia, Frank O’Farrell yang membawa Iran merebut medali emas Asian Games (1974) dan lolos Olimpiade 1976. Iran juga akhirnya lolos ke Piala Dunia 1978 di Argentina. Laga imbang 1-1 melawan Skotlandia jadi poin pertama mereka sebelum akhirnya tersingkir dari babak penyisihan (Grup 1),” tulis Laycock.


Momen persahabatan tim Iran dan Amerika Serikat jelang duel di Piala Dunia 1998. (the-afc.com).
Momen persahabatan tim Iran dan Amerika Serikat jelang duel di Piala Dunia 1998. (the-afc.com).

Usai mengalami pasang-surut, Iran berhasil jadi langganan tampil di Piala Dunia mulai 1998. Semua berkat talenta-talentanya yang bersinar di Eropa pada 1990-an seperti Ali Daei, Khodadad Azizi, dan Mehdi Mahdavikia, atau Mehdi Taremi di Piala Dunia 2026 sekarang.


Sepakbola putri Iran juga berkembang pada 1970-an dengan bermunculannya klub-klub putri seperti Taj FC –yang kemudian dileburkan di bawah naungan klub Esteghlal Women FC, Deyhim, Persepolis FC, Oghab FC, dan Khasram.


Gejolak politik akibat Revolusi 1979 –yang menumbangkan Dinasti Pahlavi dan membentuk Iran jadi Republik Islam– mengakibatkan federasi sepakbola Iran berubah nama jadi Football Federation Islamic Republik of Iran (FFIRI). Selain itu, gairah sepakbola putri Iran hilang karena kaum perempuan dilarang bermain lagi.


Banyak pesepakbola putri Iran kemudian beralih ke futsal di pengujung abad ke-20. Futsal memungkinkan mereka bermain dengan pakaian yang menutup aurat dan tampil di arena indoor yang terbatas.


“Pada 1980-an jadi periode kontestasi antara ideologi agama dan olahraga. Baik kalangan perempuan dari kelas pekerja hingga kelas menengah protes kertas terhadap pemerintah agar dibolehkan, setidaknya masuk ke stadion menonton pertandingan (sepakbola putra). Kemenangan Iran atas AS di Piala Dunia 1998 mengubah keadaan. Maka pada Agustus 1998, untuk pertamakalinya sejak Revolusi Islam, sekitar 40 perempuan ikut serta dalam sebuah sesi latihan sepakbola di Stadion Tehran Hejab,” tandas sejarawan Babak Fozooni dalam artikel “Iran and Sport since the Islamic Revolution” yang termaktub dalam Sports Around the World: History, Culture and Practice.



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bg-gray.jpg
Setelah pensiun, Sudiro mencurahkan waktunya untuk menulis dan berkegiatan sosial. Sifat humoris Sudiro menurun ke salah satu cucunya, Tora.
bg-gray.jpg
Banyak warisan Sudiro di ibukota kita nikmati sampai hari ini. Dari HUT DKI, tata kota, hingga perfilman, semua diurusinya.
bg-gray.jpg
Masa kepemimpinan Sudiro sebagai wali kota Jakarta disebut periode berbenah. Namun, dalam membenahi Jakarta, Sudiro kerap konflik kebijakan dengan pemerintah pusat.
Iran mengenal sepakbola lewat senjata dan industri minyak. Sejak 1920-an sudah ada pemain Iran di Eropa. Kini langganan tampil Piala Dunia.
Iran mengenal sepakbola lewat senjata dan industri minyak. Sejak 1920-an sudah ada pemain Iran di Eropa. Kini langganan tampil Piala Dunia.
Kapal selam Jepang karam setelah mendapat serangan mendadak dari kapal Amerika Serikat. Legenda menyebut awak kapal Amerika menyerang awak kapal selam Jepang dengan kentang.
Kapal selam Jepang karam setelah mendapat serangan mendadak dari kapal Amerika Serikat. Legenda menyebut awak kapal Amerika menyerang awak kapal selam Jepang dengan kentang.
Intelektualitas Agus Widjojo sudah terlihat sejak menjadi taruna Akabri. Dia dikenal sebagai jenderal reformis yang mendukung reformasi TNI dan supremasi sipil.
Intelektualitas Agus Widjojo sudah terlihat sejak menjadi taruna Akabri. Dia dikenal sebagai jenderal reformis yang mendukung reformasi TNI dan supremasi sipil.
Sepakbola di Kanada diperkenalkan para imigran Skotlandia dan Irlandia. Tim dari Kanada pernah menyabet medali emas sepakbola Olimpiade.
Sepakbola di Kanada diperkenalkan para imigran Skotlandia dan Irlandia. Tim dari Kanada pernah menyabet medali emas sepakbola Olimpiade.
Berbisnis sejak jadi tentara, M.F. Lichtendahl kerap tersangkut tindakan ilegal.
Berbisnis sejak jadi tentara, M.F. Lichtendahl kerap tersangkut tindakan ilegal.
Ryamizard Ryacudu sempat menjadi calon tunggal Panglima TNI, namun gagal karena terganjal faktor politik. Setelah pensiun, Ryamizard diangkat menjadi menteri pertahanan.
Ryamizard Ryacudu sempat menjadi calon tunggal Panglima TNI, namun gagal karena terganjal faktor politik. Setelah pensiun, Ryamizard diangkat menjadi menteri pertahanan.
transparant.png
bottom of page