top of page

Agus Widjojo Sang Jenderal Reformis

Intelektualitas Agus Widjojo sudah terlihat sejak menjadi taruna Akabri. Dia dikenal sebagai jenderal reformis yang mendukung reformasi TNI dan supremasi sipil.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 1 hari yang lalu
  • 4 menit membaca

SEMASA taruna di Akabri, Johny Lumintang dan Agus Widjojo berada dalam satu kompi. Di lapangan olahraga, Agus dikenal sebagai pemain sepakbola sementara Johny jago main tenis. Menjelang kelulusan, 20 orang dari angkatan mereka menjalani tes bahasa Inggris untuk mengikuti basic training di Amerika Serikat. Johny masih bisa mengikuti ujian writting, tapi sangat kesulitan ujian listening.


“Gus, dari 50 soal hearing tuh, berapa [soal] yang kamu enggak tahu?” tanya Johny kepada Agus.


“Yang paling enggak jelas paling satu,” jawab Agus santai.


Johny kaget dan terbengong-bengong mendengarnya. Bagaimana tidak, dia dan kawan-kawan yang lain tidak mengerti dengan soal yang diujikan. Apalagi di Akabri saat itu belum ada lab bahasa Inggris.


“Wah, kita, saya, Pak Luhut [Binsar Panjaitan], Pak Fachrul [Razi], segala macam itu paling dari 50, cuma satu yang kita tahu,” kenang Johny dalam diskusi buku Memoar Agus Widjojo: Militer Pemikir, Pemikir Militer di Kompas Institute, 22 Juni 2026.


Agus Widjojo dan Johny Lumintang merupakan arbituren Akabri 1970. Setelah lulus dari akademi militer, Agus langsung sekolah di Amerika. Tidak hanya sebagai prajurit TNI, Johny mengenang kolega seangkatannya itu sebagai sosok intelektual yang cerdas dan kritis. Pada periode yang berbeda, Agus dan Johny sama-sama pernah menjabat sebagai Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) dan Duta Besar Indonesia untuk Filipina.


“Paling tidak enak berdiskusi dengan Pak Agus karena kita kalah terus. Gimana dia perpustakaannya 2000 buku. Lah, kita [bermodal] potongan koran sama majalah dipakai melawan dia, enggak bisalah,” kata Johny dengan nada guyon, “Makanya, Pak Agus itu di lichting saya di Sesko ABRI, beliau keluar sebagai lulusan yang terbaik. Dari situ kita sudah melihat pemikiran-pemikiran Pak Agus.”


Kesan yang sama juga dikenang mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn.) Endiartono Sutarto, junior satu angkatan di bawah Agus Widjojo. Ketika Agus menjadi komandan kompi di Batalion Brigif Linud 17, Endriartono salah satu komandan peletonnya.


Selain Endriartono, Susilo Bambang Yudhoyono yang kelak menjadi presiden keenam juga menjadi komandan peleton di kompi yang dipimpin Agus Widjojo. Mereka bertugas dalam operasi militer di Timor Timur pada 1970-an. Meski bertugas dalam hubungan atasan-bawahan dan senior-junior, Endriartono mengaku cukup dekat dengan Agus.


“Sehari-hari baik di satuan [pasukan], di home base, maupun di operasi kita sering berbincang. Yang kita bincangkan bagaimana menjadikan prajurit-prajurit lintas udara TNI ini menjadi suatu satuan yang bukan hanya sekadar diterjunkan sampai di tanah dengan selamat lalu berperang, tetapi dia harus benar-benar menjadi suatu operasi yang bisa menentukan atau mengubah jalannya peperangan,” tutur Endriartono.


Kerja sama Endriartono dan Agus Widjojo berlanjut saat mereka ditugaskan untuk misi perdamaian di Timur Tengah dalam Kontingen Pasukan Garuda. Agus ditunjuk sebagai kepala seksi logistik, sedangkan Endriartono menjadi komandan peleton angkutan. Ketika Endriartono baru menjadi panglima TNI pada 2002, Agus sudah di pengujung masa jabatannya sebagai wakil ketua MPR dari Fraksi TNI-Polri.


Di masa reformasi, Agus Widjojo dikenal sebagai jenderal yang mendukung reformasi TNI. Ketika masih menjabat Kepala Staf Teritorial (Kaster) TNI di masa Kepresidenan Abdurrahman Wahid, Letnan Jenderal TNI Agus Widjojo berperan dalam mengurangi peran TNI-AD dalam militer.


Saat itu, Presiden Gus Dur menyerukan agar TNI-AD tak boleh lagi merasa lebih superior dibandingkan angkatan lain seperti AL dan AU. Agus menjadi salah satu petinggi TNI yang ikut dalam memberantas jenderal-jenderal nakal yang masih menginginkan dominasi militer dalam kehidupan bernegara.


Dalam reformasi TNI, menurut Marcus Mietzner, peneliti politik militer Indonesia dari National University of Australia, Agus Widjojo berfokus pada masa depan struktur teritorial. Seperti kebanyakan pengamat militer, Agus menganggap struktur teritorial –meskipun di masa lalu dianggap perlu– namun pada abad 21 sudah dianggap tidak fungsional lagi. Militer yang modern di manapun sudah mengadopsi struktur yang jauh berbeda dengan struktur teritorial.


“Pak Agus sebenarnya di masa Orde Baru sudah terpikir bahwa harus terjadi reformasi di bidang itu. Begitu Pak Agus punya jabatan dalam bidang itu sebagai Kaster, dia mengajukan suatu proposal untuk mereformasikan struktur teritorial secara gradual. Nah, itu tidak terjadi. Macam-macamlah pada waktu itu ada kejadian sehingga tidak berhasil,” terang Marcus.


Diskusi buku Memoar Agus Widjojo: Militer Pemikir, Pemikir Militer di Kompas Institute, 22 Juni 2026. Narasumber di jajaran tengah: Marcus Mietzner, Endriartono Sutarto, dan Johny Lumintang. (Martin Sitompul/Historia.ID).
Diskusi buku Memoar Agus Widjojo: Militer Pemikir, Pemikir Militer di Kompas Institute, 22 Juni 2026. Narasumber di jajaran tengah: Marcus Mietzner, Endriartono Sutarto, dan Johny Lumintang. (Martin Sitompul/Historia.ID).

Marcus menambahkan, apa yang terjadi di Indonesia saat ini, justru bertentangan dengan pemikiran Agus Widjojo. Ditandai dengan penambahan Komando Daerah Militer (Kodam) dan pembentukan struktur teritorial yang baru dalam bentuk Batalion Pembangunan. Berkebalikan dengan gagasan Agus Widjojo yang justru menginginkan penghapusan teritorial secara bertahap.


“Harus dicatat memang keberanian Pak Agus untuk melawan arus. Pak Agus di banyak kalangan sudah dikenal sebagai salah seorang pemikir dan berani bertemu dengan orang-orang asing. Begitu menjadi Kaster TNI, dia banyak dilawan oleh rekan-rekannya di militer yang anggap idenya terlalu keras, terlalu radikal,” ujar Marcus.


Terkait pemikiran Agus Widjojo yang melawan arus dan melampaui zaman, menurut adiknya, Nani Nurrachman, dipengaruhi oleh kultur keluarga dan kultur pendidikan. Nani dan Agus tumbuh dan dibesarkan di London ketika ayahnya, Sutoyo Siswomihardjo menjadi atase militer Indonesia di Inggris pada paruh kedua 1950. Itulah sebabnya, ketika menjadi taruna Akabri, bahasa Inggris Agus paling fasih dibanding rekan seangkatannya.


Selain itu, Sutoyo terbiasa mengumpulkan anak-anaknya untuk berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan berpikir kritis. Mayor Jenderal TNI (Anm.) Sutoyo Siswomihardjo adalah salah satu Pahlawan Revolusi yang gugur dalam peristiwa G30S 1965. Sementara Agus meniti kariernya sebagai prajurit TNI, adiknya Nani kemudian menjadi psikolog.


“Pendidikan di Inggris itu sedemikian rupa membuat cara berpikir kami memiliki perspektif sudut tinjauan orang Barat [dibandingkan] dengan sudut tinjauan orang Indonesia yang masih diwarnai cara berpikir lokal. Perbedaan ini kemudian berkembang setelah Mas Agus menjadi tentara,” kata Nani.


Agus Widjojo wafat pada 8 Februari 2026. Saat itu, dia masih bertugas sebagai duta besar Indonesia untuk Filipina. Dia lebih dikenal sebagai tokoh intelektual TNI. Kegigihannya mendukung reformasi TNI membuat namanya dikenang sebagai jenderal reformis.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Banyak warisan Sudiro di ibukota kita nikmati sampai hari ini. Dari HUT DKI, tata kota, hingga perfilman, semua diurusinya.
bg-gray.jpg
Masa kepemimpinan Sudiro sebagai wali kota Jakarta disebut periode berbenah. Namun, dalam membenahi Jakarta, Sudiro kerap konflik kebijakan dengan pemerintah pusat.
bg-gray.jpg
Sudiro dinilai berhasil memimpin beberapa daerah. Selain berpengalaman, Sudiro ditunjuk menjadi wali kota Jakarta karena anggota PNI.
bg-gray.jpg
Sederet jabatan diemban Sudiro sejak Indonesia merdeka. Di Dewan Konstituante, Sudiro sudah menyuarakan isu HAM.
Kapal selam Jepang karam setelah mendapat serangan mendadak dari kapal Amerika Serikat. Legenda menyebut awak kapal Amerika menyerang awak kapal selam Jepang dengan kentang.
Kapal selam Jepang karam setelah mendapat serangan mendadak dari kapal Amerika Serikat. Legenda menyebut awak kapal Amerika menyerang awak kapal selam Jepang dengan kentang.
Intelektualitas Agus Widjojo sudah terlihat sejak menjadi taruna Akabri. Dia dikenal sebagai jenderal reformis yang mendukung reformasi TNI dan supremasi sipil.
Intelektualitas Agus Widjojo sudah terlihat sejak menjadi taruna Akabri. Dia dikenal sebagai jenderal reformis yang mendukung reformasi TNI dan supremasi sipil.
Sepakbola di Kanada diperkenalkan para imigran Skotlandia dan Irlandia. Tim dari Kanada pernah menyabet medali emas sepakbola Olimpiade.
Sepakbola di Kanada diperkenalkan para imigran Skotlandia dan Irlandia. Tim dari Kanada pernah menyabet medali emas sepakbola Olimpiade.
Berbisnis sejak jadi tentara, M.F. Lichtendahl kerap tersangkut tindakan ilegal.
Berbisnis sejak jadi tentara, M.F. Lichtendahl kerap tersangkut tindakan ilegal.
Ryamizard Ryacudu sempat menjadi calon tunggal Panglima TNI, namun gagal karena terganjal faktor politik. Setelah pensiun, Ryamizard diangkat menjadi menteri pertahanan.
Ryamizard Ryacudu sempat menjadi calon tunggal Panglima TNI, namun gagal karena terganjal faktor politik. Setelah pensiun, Ryamizard diangkat menjadi menteri pertahanan.
Gajah putih simbol kerajaan di Thailand. Hewan suci dan langka ini dipercaya pembawa keberuntungan, sehingga tidak boleh dikonsumsi dan dipekerjakan. Gajah putih dapat menghancurkan lawan.
Gajah putih simbol kerajaan di Thailand. Hewan suci dan langka ini dipercaya pembawa keberuntungan, sehingga tidak boleh dikonsumsi dan dipekerjakan. Gajah putih dapat menghancurkan lawan.
transparant.png
bottom of page