- 2 jam yang lalu
- 4 menit membaca
SUATU pagi, sebuah kelapa jatuh dari pohonnya dan menimpa kepala seorang serdadu yang melintasi kampung di Kemayoran bernama Tanah Melayu. Serdadu yang berasal dari Kompi 1, Batalyon Infanteri ke-20 Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL) itu pun pingsan.
Mengetahui kejadian itu, komandan kompinya yang –kelahiran 12 Januari 1886– bernama Kapten Infanteri Aart Merkelbach (1886-1932) langsung berusaha menolong dengan mencari pinjaman telepon untuk memanggil tenaga medis dari rumah orang Belanda terdekat.
Namun, Kapten Merkelbach gagal mendapat pinjaman telepon dari tuan tanah kulit putih Belanda bernama Marinus Franciscus Lichtendahl (1888-1974). Kapten Merkelbach hanya bisa bicara dengan tukang kebunnya saja.
Kapten Merkelbach kesal. Dengan sinisnya dia kemudian menulis kejadian itu di suratkabar.
“Berbeda dengan sikap humanis dan suka membantu dari penduduk asli kampung Tanah-Melayu yang sederhana, Bapak MF Lichtendahl, mantan perwira Angkatan Darat Hindia Belanda, justru merasa tidak perlu bekerja sama dalam hal memanggil bantuan medis sesegera mungkin untuk mantan rekan seperjuangan yang mengalami kecelakaan,” kata Kapten Merkelbach beberapa waktu setelah kejadian, di harian Het Nieuws van den Dag edisi 28 Januari 1932.
Tulisan Kapten Merkelbach berhasil menarik perhatian publik. M.F. Lichtendahl tak dianggap lagi sebagai wapenbroeder alias kawan seperjuangan oleh banyak orang Belanda. Bahkan Lichtendahl dikait-kaitkan pula dengan gerakan komunis di Jawa.
“Penyelidikan resmi kemudian diluncurkan terkait kontak tertentu yang dilakukan letnan ini dengan Sneevliet di Semarang,” demikian Soerabaijasch Handelsblad edisi 30 Januari 1932 memberitakan.
Sneevliet yang dimaksud adalah Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet (1983-1942) alias Maring. Ia menjadi mentor gerakan kiri kaum bumiputra di Semarang setelah dibuang negerinya.
Soerabaijasch Handelsblad juga menyebutkan, pada dasarnya Lichtendahl hanyalah seorang pedagang. Namun, masa lalunya berbeda. Marinus Franciscus Lichtendahl pernah menjadi letnan KNIL.
Stamboeken Officieren Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) 1815-1940 nomor inventaris 645 menyebut, anak Hermanus Lichtendahl dan Gerritdina Engels itu sudah jadi serdadu sejak 1906. Dia pernah ditempatkan di Resimen Infanteri ke-5 di Negeri Belanda.
Setelah menjadi kopral dan sersan dia akhirnya menjadi letnan dua infanteri cadangan untuk KNIL. Pada 1914, dia naik kapal SS Prins van Nederlander ke Hindia Belanda kemudian bertugas di beberapa daerah seperti Batavia an Gombong. Pada 1916, dia naik pangkat menjadi letnan satu infanteri cadangan.
Bisnis Gagal
Saat bertugas di Gombong, Lichtendahl malah mendirikan perusahaan ekspor-impor dan berhubungan bisnis dengan pengusaha di daerah kerajaan di selatan Jawa. Koran Sumatra Bode tanggal 11 Agustus 1916 menyebut, Letnan Lichtendahl pada 1915 mendirikan perusahaan di Gombong yang bergerak di bidang ekspor impor bernama Imex.
“Untuk menyatukan pemilik toko dan pengecer guna membentuk sebuah perkumpulan,” kata Letnan Lichtendahl dikutip Sumatra Bode, 11 Agustus 1916.
Perusahaan itu hendak mengumpulkan modal sebesar satu juta gulden. Selain dengan Eropa, jaringan dagang internasional yang hendak dilibatkan adalah Tiongkok, Jepang, Australia, dan Amerika. Namun, bisnis Letnan Lichtendahl itu tidak berjalan mulus.
Letnan Lichtendahl kemudian ditugaskan ke daerah lain. Koran Het Nieuws van den Dag tanggal 20 Oktober 1916 memberitakan, Letnan Lichtendahl dipindahkan dari Batalyon Infanteri ke-6 di Gombong ke Batalyon Infanteri ke-17 di Jambi pada Oktober 1916. Sebulan berikutnya, Letnan Lichtendahl dipindahkan lagi. Kali ini ke Batalyon Infanteri ke-10. Dari Jambi, dia dipindahkan ke Lahat, Sumatra Selatan. Pada September 1917, sebut koran De Locomotief tanggal 14 September 1917, dia dipindahkan dari Lahat ke Palembang.
Karier Letnan Lichtendahl dipenuhi masalah setelah berada di Sumatra. Pada 1917, dia melakukan pemukulan dan itu dianggap pelanggaran. Het Nieuws van den Dag tanggal 8 Desember 1917 memberitakan, pengadilan militer menjatuhkan hukuman denda sebesar 10 gulden kepadanya karena telah sengaja melakukan pemukulan.
Lichtendahl akhirnya ingin berhenti dari dinas militer. Het Nieuws van den Dag tanggal 11 November 1920 mengabarkan, dia akhirnya diberhentikan dengan hormat dari KNIL.
Setelahnya, Lichtendahl memilih serius berbisnis di Hindia Belanda. Pertengahan 1921 Lichtendahl sudah berada di Batavia. Dia, kata Het Nieuws van den Dag tanggal 6 Juni 1921, sudah menjadi direktur di perusahaan bernama NV Kemajoran Oost dan juga menjadi komisaris di NV Bataviaasch Administratiekantoor.
Dia lalu berkongsi dengan Tio Tek Hong (1877-1965) menjalankan bisnisnya yang antara lain bergerak dalam bidang judi lotere. Membuat Lichtendahl dikenal orang Belanda karena keterkaitannya dengan Lotere Kemayoran.
Namun, bisnis jelas tak semudah yang diperkirakan. Lichtendahl pun tak selalu mulus berbisnis. Bataviaasch Nieuwsblad edisi 18 September 1923 memberitakan bahwa Lichtendahl dan Tio Tek Hong diseret ke pengadilan dan dituntut jaksa penuntut umum dengan hukuman satu bulan penjara plus denda 200 gulden dengan tuduhan membuat lotere ilegal.
Namun, hambatan itu berhasil dilaluinya. Malahan, era 1930-an barangkali menjadi era kejayaan Lichtendahl sebagai pengusaha di Batavia. Koran Soerabaijasch Handelsblad tanggal 2 November 1936 memberitakan, Lichtendahl mendapat tender senilai 208.000 gulden dalam proyek pengerjaan Lapangan Udara Kemayoran. Namun di masa ini pula, seperti diberitakan Bredasch Courant tanggal 20 April 1936, dia pernah ditahan polisi karena tuduhan pelecehan seksual.
Akhir Hidup
Kapten Merkelbach yang –juga datang ke Hindia Belanda sebagai letnan dua seperti Lichtendahl– mengeluhkan sikap Lichtendahl Sang “Tuan Tanah” Kemayoran pada 1933 pulang ke Negeri Belanda setelah pensiun dari KNIL.
Koran Het Nieuws van den Dag tanggal 11 Oktober 1939 memberitakan pensiunan Kapten Merkelbach meninggal dunia mendadak di Epe pada 26 September 1939. Merkelbach juga pernah bertugas di daerah berbahaya seperti Aceh.
Lichtendahl sendiri panjang umur sehingga merasakan derita Perang Dunia II. Perang juga membawanya ke era berbeda. Setelah Indonesia merdeka, dia tak mungkin lagi jadi tuan tanah di Kemayoran, yang sudah ada bandara yang dulu ikut dibangunnya. Roda zaman membuatnya dan juga banyak orang Belanda menjadi “pesakitan” di tanah yang dulu membuat mereka jaya.*



















Komentar