top of page

Dalam Jangkauan Radar Bung Kecil

Maria Ullfah terpikat sosialisme pada pandangan pertama. Sutan Sjahrir jadi comblangnya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Maria Ullfah mendampingi Perdana Menteri Sutan Sjahrir bersama Kepala Kepolisian Negara Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo memeriksa barisan polisi di Magelang tahun 1946. (Dok. Keluarga Maria Ullfah).

6 Agu
5 menit membaca

GEDUNG bioskop di Hogewoerd, Leiden itu kini tak tampak lagi. Namun, ancar-ancar bekas lokasinya masih bisa dijangkau. Ia terletak di bagian kiri toko daging Bolle Jalan Hogewoerd Nomor 37, tepat di sudut perempatan Jalan Hogewoerd dengan Jalan Sint Jorissteeg. Pada lokasi toko daging itulah pernah berdiri gedung bioskop, di mana kaum sosialis kerap berkumpul, menyelenggarakan pertemuan.


Sjahrir belum lama mengenal Maria ketika dia mengajaknya ke gedung bioskop itu untuk sebuah pertemuan kaum sosialis. Ajakan itu datang pada pertemuan kedua di Leiden. Pertemuan pertama terjadi di Amsterdam, di mana Sjahrir tinggal bersama keluarga dr. Djoehana. Nuning, kakak perempuan Sjahrir, istri Djoehana. “Waktu saya belajar di negeri Belanda saya mulai kenal Bung Sjahrir. Sjahrir belajar pada Fakultas Hukum di Amsterdam. Saya diundang oleh keluarga Djoehana ke Amsterdam di mana mereka tinggal. Istrinya adalah kakak kandung Sjahrir,” kata Maria.


Kedatangan Maria ke Belanda hanya terpaut beberapa bulan saja dengan Sjahrir. Maria tiba bulan Maret 1929 sementara Sjahrir baru tiba pada akhir musim panas 1929. Namun, Sjahrir aktif lebih cepat. Tak lama setelah diterima kuliah di Fakultas Hukum Universiteit van Amsterdam, Sjahrir kirim surat kepada Salomon Tas, Ketua Amsterdam Sociaal Democratische Studenten Club, onderbouw SDAP (Sociaal Democratische Arbeiders Partij atau Partai Sosial Demokrat Belanda). Sejak itu, Sjahrir jadi anggota De Socialist, julukan perkumpulan mahasiswa sosdem itu.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
transparant.png
bottom of page