top of page

Agar Bahtera Tak Lekas Retak

Maria Ullfah berada di dalam pusaran kontroversi penyusunan RUU Perkawinan. Berbuah manis walau penuh kompromi.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Maria Ullfah (berkebaya cokelat baris depan ketiga dari kanan) bersama anggota Kowani setelah bertemu Ibu Tien Soeharto di Istana Merdeka, Jakarta. (Dok. Keluarga Maria Ullfah).

4 Agu
6 menit membaca

MENTERI Agama Mukti Ali belum lagi menyelesaikan pidatonya saat sekumpulan orang meneriakkan takbir, “Allahu Akbar... Allahu Akbar...” kata mereka bersahut-sahutan. Teriakan takbir itu menutup suara Mukti. Menghentikan pidatonya dan memotong giliran Menteri Kehakiman Oemar Seno Adjie untuk menyampaikan pidato tanggapan atas pandangan umum anggota DPR menyoal Rancangan Undang-Undang Perkawinan pada 27 September 1973. Sejurus kemudian, massa menduduki kursi-kursi Ketua DPR dan menguasai jalannya sidang. Pemimpin dan anggota DPR bubar. Sidang berhenti total.


Jalan mencapai UU Perkawinan kian berliku. Cita-cita yang digantungkan sejak zaman kolonial itu akhirnya kembali menemukan jalan buntu. Sama seperti respons ordonansi perkawinan yang pernah digulirkan oleh pemerintah kolonial pada 1937, RUU Perkawinan pun mendapatkan perlawanan dari kelompok Islam yang menghendaki pernikahan diatur berdasarkan syariat Islam.


Setelah Indonesia merdeka, kesempatan memperjuangkan kepentingan perempuan semakin terbuka luas. Kongres perempuan pertama setelah perang usai diselenggarakan di Klaten pada Desember 1945. Maria dan Sujatin Kartowijono memimpin kongres yang menghasilkan resolusi gerakan perempuan Indonesia sepenuhnya mendukung revolusi nasional. Di alam kemerdekaan, problem yang dihadapi gerakan perempuan semasa pemerintahan kolonial dientaskan satu per satu.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
transparant.png
bottom of page