Diperbarui: 24 Agu
RAMAI dan sibuknya kota Batavia (kini Jakarta) di tahun 1903 bikin hati bocah berusia tujuh tahun Ahmad Subardjo kian merasa kerdil. Bocah kelahiran Karawang yang datang merantau untuk mengenyam pendidikan Belanda itu pun jadi rindu kampung halamannya. Ia akhirnya nekat pulang untuk melepas kangen pada keluarganya.
Di Batavia, Subardjo dan kakaknya, Abdul Rachman, dikirim ayahnya untuk bisa belajar di sekolah Belanda lantaran di Karawang belum ada satupun sekolah Belanda. Berbekal biaya dari orangtua dan kakek-nenek, mereka berangkat ke Batavia dan ‘ngekos’ di rumah-pondokan di Kwitang milik seorang Jawa, Suwandi.
Suwandi menganggap Subardjo dan Rachman sebagai anak sendiri. Ia sempat khawatir ketika pada suatu hari Subardjo minta pulang ke Karawang. Pasalnya, Subardjo harus tertinggal setahun karena masih harus memperdalam bahasa Belanda, sementara Rachman yang sudah fasih bahasa Belanda, sibuk di sekolahnya. Namun, Subardjo tetap minta pulang meski sendiri. Suwandi yang iba lalu hanya bisa mengongkosinya pulang ke Karawang dengan keretaapi.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












