top of page

Penutur Terakhir Bahasa yang Punah

Dalam ekspedisi ilmiahnya, Alexander von Humboldt masuk ke gua tempat pemakaman suku yang telah punah. Seekor burung nuri diyakini sebagai penutur terakhir bahasa suku itu.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ilustrasi burung nuri. (Wikimedia Commons).

9 Agu
3 menit membaca

CATATAN perjalanan Alexander von Humboldt, penjelajah sekaligus ahli geografi Jerman, berisi tentang kisah-kisah eksotis flora dan fauna serta interaksinya dengan suku-suku yang ditemuinya dalam ekspedisi ilmiah di benua Amerika. Tidak hanya itu, catatan itu juga memuat cerita tentang burung nuri tua yang diyakini sebagai penutur terakhir dari bahasa suatu suku yang telah punah.


Humboldt mendengar cerita tentang burung nuri itu ketika mencari hulu Sungai Orinoco di Amerika Selatan pada awal abad ke-18. Dia bertemu sekelompok suku Indian yang memiliki beberapa burung nuri. Menariknya, salah satu burung nuri menuturkan kata-kata dalam bahasa asing. Penduduk lokal menyebut burung nuri itu menuturkan bahasa yang digunakan oleh suku Atures, kelompok masyarakat adat di Venezuela, yang telah punah.


“Menurut cerita, von Humboldt tiba di desa tua suku Atures bernama Maypures. Dia dibawa dengan penerangan obor menuju penutur terakhir bahasa tersebut, yang ternyata berada di dalam sangkar... Di tengah bayang-bayang gubuk di Maypures, von Humboldt diperlihatkan seekor burung nuri yang bisa berbicara... Bahasa Atures telah punah di kalangan manusia. Bahasa itu terakhir kali terdengar dari paruh seekor burung,” tulis Shaylih Muehlmann dalam “Von Humboldt’s parrot and the countdown of last speakers in the Colorado Delta”, termuat di Language & Communication Volume 32, Issue 2, April 2012.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page