Diperbarui: 4 hari yang lalu
YERUSSALEM, 637. Begitu mendengar derap kuda pasukan Arab Islam mulai mendekat, Putra Mahkota Costantine menjadi putus asa. Alih-alih melaksanakan perintah Kaisar Heraklius (yang tak lain ayah Costantine) untuk mempertahankan kota suci itu, dia justru kabur ke pelabuhan Caesarea: menyusul sang ayah menuju Costantinople lewat jalur laut.
“Praktis di Yerussalem hanya menyisakan Panglima Artavon dan Patriach Sophorius sebagai wakil resmi dari bangsa Romawi,” demikian menurut The Historians of the World Vol. VII (Rome).
Dalam sumber klasik yang diselia oleh Henry Smith Williams itu disebutkan, sepeninggal Costantine, terjadilah perbedaan pendapat yang tajam antara Artavon dengan Sophorius. Sebagai seorang jenderal, Artavon bersikeras akan mempertahankan Yerussalem sampai titik darah terakhir dengan mengerahkan seluruh penduduk untuk melakukan perlawanan. Sementara Uskup Agung Sophorius lebih memilih jalan damai mengingat musuh terlalu kuat dan kondisi rakyat yang sudah tidak memiliki nyali lagi untuk berperang.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















