BAGI orang pribumi, bekerja sebagai tentara di zaman kolonial dengan pangkat rendahan sudah cukup untuk merasakan hidup sejahtera. Tapi, bagi keluarga yang anti-Belanda, pilihan hidup seperti itu dicap memalukan bahkan aib. Pengalaman itulah yang dirasakan Gatot Soebroto tatkala memilih berkarier sebagai serdadu Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL).
Gatot Soebroto berdinas di KNIL sejak lulus dari sekolah kader pada 1928 hingga menjelang kedatangan tentara pendudukan Jepang. Pada pertengahan 1930-an, Gatot telah berpangkat sersan mayor. Pangkat yang cukup terpandang untuk ukuran perwira pribumi. Apalagi Gatot bertugas dalam satuan marsose, unit pasukan khusus yang dikerahkan untuk menangani huru-hara di dalam negeri.
Semasa aktif di KNIL, Gatot bertugas di berbagai daerah, mulai dari Jatinegara, Bekasi, hingga Padang Panjang, Makassar, dan Ambon. Dia juga menjalani berbagai operasi militer dan anti huru-hara.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.
















