SEORANG pemuda berkulit cokelat memasuki gedung konser di Amsterdam, Belanda. Kedatangannya disambut sorak-sorai hadirin. Pemuda itu adalah Semaoen, ketua Partai Komunis Indonesia (PKI), yang diasingkan pemerintah kolonial ke Belanda.
Empat bulan sebelumnya, pada September 1923, Semaoen yang belum lama kembali dari Uni Soviet, ditangkap pemerintah kolonial karena memimpin pemogokan buruh kereta api di Jawa. Ini bukan kali pertama dia berurusan dengan polisi kolonial. Pada 1919, dia dipenjara selama empat bulan karena delik pers.
Pemerintah kolonial membuang Semaoen karena berpengaruh besar di kalangan buruh. Awalnya hendak dibuang ke Timor, tetapi Semaoen memilih ke Belanda. Pemerintah setuju dan dimulailah perjalanan Semaoen menuju negeri penjajah.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.











