top of page

Pembuangan Semaoen ke Belanda

Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Semaoen dipanggul rekan-rekannya setiba di Amsterdam, Belanda pada 1923. (Repro Di Negeri Penjajah).

45 menit yang lalu
8 menit membaca

SEORANG pemuda berkulit cokelat memasuki gedung konser di Amsterdam, Belanda. Kedatangannya disambut sorak-sorai hadirin. Pemuda itu adalah Semaoen, ketua Partai Komunis Indonesia (PKI), yang diasingkan pemerintah kolonial ke Belanda.


Empat bulan sebelumnya, pada September 1923, Semaoen yang belum lama kembali dari Uni Soviet, ditangkap pemerintah kolonial karena memimpin pemogokan buruh kereta api di Jawa. Ini bukan kali pertama dia berurusan dengan polisi kolonial. Pada 1919, dia dipenjara selama empat bulan karena delik pers.


Pemerintah kolonial membuang Semaoen karena berpengaruh besar di kalangan buruh. Awalnya hendak dibuang ke Timor, tetapi Semaoen memilih ke Belanda. Pemerintah setuju dan dimulailah perjalanan Semaoen menuju negeri penjajah.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page