top of page

Kritik Lewat Aneka Gerak Estetik

Pantomim bukan sekadar bahasa bisu. Ia seni ekspresi dengan estetika yang tak semata memancing gelak tawa.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Mural sosok Sena Adiatmika Utoyo, pendiri grup pantomim Sena Didi Mime di Teater Luwes IKJ. (Randy Wirayudha/Historia.ID).

10 Apr 2023
6 menit membaca

Diperbarui: 4 Jun

HUJAN yang mengguyur Cikini, Jakarta Pusat perlahan reda Senin sore itu. Beberapa mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang berteduh di sebuah ruangan semi-terbuka dekat Masjid Amir Hamzah mulai membubarkan diri. Ruangan Teraseni itu bidang-bidang tembok dan pilar-pilarnya sarat karya mural dan pesan-pesan tentang seni.


“Seni itu interpretasi dan ekspresi emosi jiwa yang selalu merakyat,” bunyi pesan di salah satu pilarnya. “Seni itu sederhana: goreng, angkat, lalu tiriskan,” bunyi pesan di sisi pilar lainnya. Ada juga pesan sederhana namun menohok: “Tolong sampah dibuang pada tempatnya. Jangan ditinggalin di areal sini!”


Pesan dengan tulisan kecil itu sepertinya paling sering diabaikan. Pasalnya kondisi lantai Teraseni tak hanya dikotori serakan guguran dedaunan dari barisan pohon yang tertiup ke situ tapi juga sisa-sisa gelas plastik.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
transparant.png
bottom of page