- 9 Des 2023
- 6 menit membaca
Diperbarui: 4 Jun
MENGENAKAN jaket biru tua dan topi warna senada, Yayu Unru mengangkat tangan tinggi-tinggi saat kami, penulis dan juru foto Historia, menyusuri jalan setapak di dalam kampus Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Ia sudah menanti dengan sabar di anak tangga di muka Teater Luwes.
Kebetulan juru foto Historia kala itu, Fernando Randy, satu dari sekian mantan mahasiswa Yayu di IKJ. Tak ayal tegur sapa kami begitu hangat. Segera ia menawarkan kopi yang ia pesan sendiri via aplikasi online sebagai penawar lelah dan udara dingin pasca-hujan di petang itu, 10 Desember 2022.
Seiring obrolan pembuka secara off the record sebelum kami menyiapkan alat rekam, Yayu meluangkan waktu untuk bicara soal seni pantomim yang digelutinya di kampus IKJ pada awal 1980-an. Padahal sehari sebelumnya ia baru kembali ke tanah air setelah mengerjakan sebuah proyek syuting di luar negeri. Namun antusiasmenya mengalahkan rasa lelahnya, mengingat ia besar dari seni pantomim yang belakangan mungkin asing bagi sebagian besar generasi muda sekarang.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















