top of page

The Woman at the Forefront

Setiati rallied women to commemorate the first anniversary of Indonesia’s independence at the site where the Proclamation was read. They pressed on despite being blocked by Gurkha soldiers.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Setiati Surasto (third from the left) as head of the delegation upon her arrival in the Soviet Union. (Mimbar Penerangan, Vol. VII, No. 8, August 1956)

  • 26 menit yang lalu
  • 7 menit membaca

The morning air brushed against the faces of the women lined up in front of the Wani (Indonesian Women’s Association) office in the SKP (Girls’ Vocational School) building (later the Metropole or Megaria cinema) on Jalan Pegangsaan in Menteng, Jakarta, on August 17, 1946. They were about to march to the site of the proclamation at Jalan Pegangsaan Timur 56.


At that time, President Sukarno’s residence became the office of Sutan Sjahrir, the prime minister who also served as foreign minister. Meanwhile, Sukarno had moved to Yogyakarta because Jakarta was unsafe following the Dutch occupation, which was supported by the Allies, and the establishment of NICA (the Netherlands Indies Civil Administration).


Dressed in red and white, the women marched toward Pegangsaan Timur 56. Despite being blocked by Gurkha troops, they continued on to celebrate the first anniversary of independence and witness the inauguration of the Proclamation Monument.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Setiati rallied women to commemorate the first anniversary of Indonesia’s independence at the site where the Proclamation was read. They pressed on despite being blocked by Gurkha soldiers.
bg-gray.jpg
Gerakan Pramuka pernah punya andil dalam menggiatkan pembangunan melalui transmigrasi. Namun, Transmigrasi Pramuka dinilai kurang tepat dan gagal.
bg-gray.jpg
An Italian general and national hero was commanding his ship when the Aceh War broke out. Alas, in the waters off Aceh, he contracted cholera and met his demise.
bg-gray.jpg
Henk Ngantung sebagai perancang lambang Kostrad diakui secara resmi oleh Soeharto. Dia juga menjadi warga kehormatan Kostrad. Namun, setelah peristiwa 1965, jasanya seakan dilupakan.
Presiden Jokowi menjadi tamu kehormatan Republic Day India. Mengikuti jejak SBY dan Sukarno.
Presiden Jokowi menjadi tamu kehormatan Republic Day India. Mengikuti jejak SBY dan Sukarno.
Tema budaya bahari dipilih untuk mengingatkan bangsa Indonesia sebagai negara kepulauan dan laut sebagai penghubungnya.
Tema budaya bahari dipilih untuk mengingatkan bangsa Indonesia sebagai negara kepulauan dan laut sebagai penghubungnya.
Percampuran banyak budaya di Kota Budapest akan dituangkan lewat pameran bersama antar dua negara.
Percampuran banyak budaya di Kota Budapest akan dituangkan lewat pameran bersama antar dua negara.
Jejaring sosial bukan barang baru. Cikal-bakalnya sudah tercipta sebelum internet meluas di dunia.
Jejaring sosial bukan barang baru. Cikal-bakalnya sudah tercipta sebelum internet meluas di dunia.
Survei SMRC menunjukan mayoritas warga tidak percaya akan kebangkitan PKI. Dimanfaatkan kelompok tertentu demi tujuan politik.
Survei SMRC menunjukan mayoritas warga tidak percaya akan kebangkitan PKI. Dimanfaatkan kelompok tertentu demi tujuan politik.
Kasus 1965 disidangkan melalui Pengadilan Rakyat Internasional. Akankah mencuri perhatian internasional?
Kasus 1965 disidangkan melalui Pengadilan Rakyat Internasional. Akankah mencuri perhatian internasional?
transparant.png
bottom of page