- 13 jam yang lalu
- 3 menit membaca
DERETAN kios pedagang peralatan listrik memanjang hingga 300 meter di Jalan Kenari Raya yang hanya muat dilalui dua mobil minibus. Mobil boks yang parkir berjejer di sisi kiri dan kanan mempersempit ruas jalan tembus yang memintas jarak dua jalan utama dari Salemba Raya ke arah Jalan Diponegoro. Menjelang sebuah tikungan di pengujung Jalan Kenari II, sebuah gedung tua masih berdiri tegak. Kecuali warna dan suasana sekitar, bentuk bangunan yang kini berfungsi sebagai Museum M.H. Thamrin itu dibiarkan seperti sediakala.
Di halaman berlantai batu alam itu berdiri patung M.H. Thamrin. Pagar besi bercat hijau nyaris menutup rapat halaman, menyisakan sebuah celah masuk bagi motor. Pada sisi kiri dalam pagar terdapat pos keamanan, sementara di sisi kiri luar pagar terpajang sebuah memorabilia setinggi satu meter memuat keterangan sosok M.H. Thamrin. Sejak dipugar pada 1985, gedung yang menempati lahan seluas 3.000 meter persegi tersebut dikembangkan sebagai pusat dokumentasi perjuangan M.H. Thamrin.
Menurut pengelola museum, gedung itu dibangun pada abad ke-19. Namun tak banyak catatan mengenai fungsi dan siapa pemilik awalnya. Riwayatnya baru diketahui sejak awal abad ke-20. Saat itu, gedung masih berfungsi sebagai rumah pemotongan hewan dan penyimpanan buah-buahan dari luar negeri. Pemiliknya seorang Belanda yang biasa dipanggil Meneer de Has. Dari tempat itu, De Has mendistribusikan daging dan buah ke pasar yang ada di Batavia. Karena itu, gerobak-gerobak kuda sering kali hilir mudik di tempat itu.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















