- 31 Mei
- 6 menit membaca
RUMAH di Jalan Witte Singel No. 25, Leiden itu kini tak tampak lagi. Pada lokasi yang sama telah berdiri kampus Fakultas Humaniora Universiteit Leiden, salah satu universitas tertua di Eropa. Tak jauh dari bangunan itu, berdiri kantor KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde atau Lembaga Kerajaan untuk Bahasa, Sejarah, dan Antropologi) yang digenapi bangunan perpustakaan, pusat penyimpanan berbagai informasi sejarah tentang negeri-negeri bekas jajahan Belanda mulai Indonesia sampai Suriname.
Witte Singel, dan belakangan juga Morsweg, merupakan bagian dari kota tua Leiden, dan keduanya menjadi pusat pondokan mahasiswa Indonesia di zaman yang berbeda-beda. Keduanya dekat pusat pengajaran, Gedung Akademi (Academie Gebouw) di Rapenburg, dengan ruang tunggu yang dindingnya masih menyimpan sejumlah nama beken, seperti Prof. Dr. R.M.Ng. Poerbatjaraka dan lain-lain. Maklum Leiden adalah kota kecil sekaligus kota universitas tertua kedua. Pusat kotanya sekaligus menjadi ajang kegiatan politik seperti Hogewoerd yang pernah menjadi gedung Liga Anti Imperialisme.
Sementara Witte Singel sendiri adalah kanal yang terpanjang dan terindah dari sebuah kota Belanda, yang berkelak-kelok bak ular hingga menjadi tempat permukiman favorit bagi elite akademi maupun mahasiswa kos-kosan. Di situs itu, sejak 1929–1933, Maria Ullfah pernah indekos bareng Siti Soendari, adik bungsu pendiri Boedi Oetomo dr. Soetomo. Maria dan Soendari tak sekamar namun dalam beberapa hal mereka berbagi. Maria mendapat jatah bulanan dari ayahnya sebesar 150 gulden. Tarif sewa kamar kos tanpa makan saat itu 40 gulden, sedangkan sewa kamar plus makan seharga 75 gulden. Demi berhemat, dia membayar sewa kamar tanpa makan. Siti Soendari yang kurang cermat mengatur pengeluarannya, iuran bersama Maria untuk belanja makan sehari-hari. Urusan rumah tangga mereka, Maria yang mengatur.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















