top of page

AURI Ingin Membom Markas Kostrad?

Isu rencana pemboman markas Kostrad oleh AURI menjadikan Soeharto berang dan mendendam.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Markas Kostrad di Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat. Pernah diisukan akan dibom AURI pada 1 Oktober 1965. (Wikimedia Commons).

19 Jun 2019
4 menit membaca

Diperbarui: 9 Agu

PADA masa Orde Baru berkuasa, Angkatan Udara RI (AURI) kalah pamor ketimbang Angkatan Darat (AD). Namun tak banyak orang tahu, jika suatu waktu Soeharto, sang aktor utama Orde Baru, pernah gusar terhadap AURI. Itu terjadi pada  1 Oktober 1965 kala  dirinya menjadi panglima Kostrad berpangkat mayor jenderal.  


Kurang lebih pukul setengah dua belas malam saya pindahkan Markas Kostrad ke Senayan, karena ada informasi, bahwa AURI akan melakukan pemboman,” kenang Soeharto dalam otobiografinya Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya.


Kepanikan Soeharto diakui oleh asisten intelijennya, Kolonel Yoga Soegomo. Dalam otobiografinya, Yoga juga mendengar kabar kalau AURI hendak membom markas Kostrad di Jalan Medan Merdeka, Jakarta Pusat. “Dan bila itu terjadi maka akan berakibat sangat buruk karena tiadanya fasilitas penangkis serangan udara,” kata Yoga dalam memoarnya Memori Jenderal Yoga.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
transparant.png
bottom of page